AKU bin ATANG si JALANG - Araaita.com

Breaking News

Monday, 27 January 2014

AKU bin ATANG si JALANG



Judul Buku      : AKU
Penulis             : Sjuman Djaya
Penerbit           : Pustaka Utama Grafiti, Jakarta
                                    Tahun Terbit   : 1987  
Peresensi         : Luhur Pambudi

Sjuman Djaya mungkin tak seluwes koleksi kumparan rol-rol klise film garapannya. “AKU” yang terlahir dari tangan Bang Sjuman sapaan akrabnya, tak mampu dituangkan dalam bentuk gambar-gambar berjalan yang ditonton tak sedikit orang, itulah inginnya. Namun, apa daya ruang dan waktu tak cukup memuaskan hasrat imajinasinya yang liar dalam tulisan ini bak elektroda yang bertumbukan dengan elektroda lainnya.

Lulus dengan predikat cum laude tahun 1965 di Institut Sinematografi Moskow, Uni Sovyet. Tak banyak memberi hiasan segar di karangan “AKU” sebagaimana piala-piala citra yang diperoleh dari rangkaian skenarionya yang lain. Sastra, lagi-lagi tema yang menghidupi tulisan ini yang tak kunjung tersentuh oleh predikat-predikat pemanis buah karya. Terlepas dari judul-judul film yang tak pernah terlewatkan dari klasifikasi seniman dalam negeri dan patut diperhitungkan di Nusantara hingga kini.

Buku yang berjudul “AKU” merupakan skenario yang begitu lancang diramu dan dituangkan dalam wadah super besar berbentuk lembaran. Sayangnya, skenario ini tetap sebuah lembaran-lembaran bisu yang takkan pernah dilirik ataupun dibaca lagi oleh penulisnya, karena begitu singkat Si Penulis memutuskan berkelana ke alam seberang.


“AKU” Mengangkat Perjalanan Hidup dan Karya Penyair ter-Jalang, ialah Chairil Anwar. Dengan alur penceritaan maju, begitu mesra tergambar dalam tiap baitnya. Ya… penulis merangkai tulisannya menjadi sebuah bait-bait yang begitu lugas jumlahnya dan kita yang membacanya akan begitu terganggu dengan cerita yang bukan lagi berbentuk paragraph sebagaimana lazimnya bacaan biasa. Tapi kita dituntun perlahan mengikuti tiap bait-baitnya yang indah menyambungkan runtut nafas penceritaan, mulai dari pangkal lidah hingga ujung nasib tokoh.

Chairil Anwar, diceritakan pada lembaran awal. Adalah seorang anak yang bermata merah, begitu sulit masa kecilnya karena perpisahan kedua orang tua yang membuatnya tragis menjalani kehidupan bersama ibu dan neneknya. Beranjak dewasa Chairil yang tak bisa lepas dari kehidupan ala Borjuis none-none dan menir-menir Belanda, mulai merasakan hambatan-hambatan ekonomi. Tapi memang dasar pemuda binal yang tak tau diri dengan keadaan terimpit keuangan, masih saja doyan untuk datang ke pesta dan berbaur dengan orang-orang kaya Belanda. Dan memang sosok Chairil Anwar, begitu arogan tak memperdulikan apa itu nilai tukar rupiah, tak kerja ataupun menghemat keuangan yang ada, yang diceritakan dalam buku ini, sosok Chairil seolah dia berbicara dalam perenungannya, yang oleh si penulis disisipkan sebagaimana syair-syairnya:

Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
                        …… ……

Penggalan syair diatas merupakan syair paling bergemuruh dalam tabung elmeyer sastra Indonesia, sudah lama menempel di majalah-majalah terbitan “Balai Pustaka”. Kemudian terendus oleh orang-orang semacam Qodrat, Idris, Bakarudin dan Ali sepenarik kecil orang-orang redaksi dan seniman-seniman di Balai Pustaka yang begitu sebagai tempat bergantung kehidupan Chairil melalui sajak-sajak yang brilian. Sebagaimana mereka adalah orang yang pertama kali menyadari kelahiran penyair besar dimasa yang akan datang, bukan lagi Tangtengkeng, bukan lagi Pane Sanusi, bukan lagi Hamzah. Tapi ini adalah De Taghtiger, tapi ini adalah Marsmann, tapi ini adalah Du Peron, tapi ini adalah Slauerhoff, tapi ini adalah Andre Gide.

Dalam buku ini, kita sekali lagi akan dikenalkan dengan tokoh Chairil yang begitu mahir merangkai sajak-sajak dalam tiap keterikatan kehidupan. Dalam beberapa bagian dialog antar tokoh yang dibuat bukan seperti interaksi verbal biasa. Tapi, disitulah menariknya buku ini, Chairil dipaparkan kemuka tulisan bukan sebagai tokoh biasa selayaknya tokoh-tokoh penceritaan lainnya dengan dialog-dialog standart. Chairil menjelma dalam proses kehidupan yang ia jalani selama petualangannya mencari apa itu Cinta, apa itu Kesenangan, dan apa itu Tanggung jawab. Setting latar dalam buku ini mengadopsi jaman kolonialis kota Jakarta yang dulu booming dikenal Batavia, nuansa peperangan, sakit hati, kesewenang-wenangan diproyeksikan dalam bentuk verbal yang kental dan tergambar jelas seperti dalam syair pertempuran yang terselempit dalam cerita yaitu: “Kami yang Kini Terbaring antara Karawang-Bekasi”


Kami yang kini terbaring antara karawang-bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan berdegak hati?

Kami bicara padamu dalam hening dimalam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa
memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai-nilai tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk
Kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tau, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskanlah jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan
dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang dan Bekasi



Syair tersebut begitu mendalami tata letak & alur sejarah, sebagaimana periodesasi Kemerdekaan Indonesia, sebuah peristiwa dari embrio negara ini, yang tak mungkin terkikis dimensi keterasingan waktu. Seluruh pemuda, pelajar, tak terkecuali rakyat jelatah yang riuh datang berbondong-bondong di lapangan IKADA untuk menyangsikan The Founding Father tapi tak sampai hati Bapak Bangsa mengusir mereka yang memenuhi atmosfer lapangan demi menghindari pertumpahan darah yang memang banyak di kawal oleh tentara-tentara Jepang.

Rekomendasi buku “AKU” karangan Sjuman Djaya, terakreditasi bacaan wajib bagi para penikmat sastra tanah air. Kata pengantar yang ditulis langsung oleh Rendra, menambah gaung yang berbeda untuk persembahan buku ini. Karena…..


                                    AKU MAU HIDUP SERIBU TAHUN LAGI

No comments:

Post a Comment