Inspirasi dari Pulau Garam - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 16 January 2014

Inspirasi dari Pulau Garam

Suara deru mesin-mesin motor dan mobil yang berhenti di tengah kemacetan, juga asap-asap yang keluar dari knalpotnya mewarnai suasana perjalanan kami sore itu. Mobil kami pun juga turut berada di kesesakan jalan waktu itu.
Kami pengurus dan kru magang Ara-aita memang sedang melakukan perjalanan selama tiga hari ke pulau garam, Madura. Tepatnya di Kamal, Bangkalan. Pada jam 16.30 menjadi titik awal keberangkatan kami. Dengan dua mobil kami melakukan perjalanan darat ke Madura. Tanpa harus melakukan penyeberangan menggunakan kapal, karena semenjak dibangunnya jembatan SURAMADU, jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura. Akses antara dua kota tersebut menjadi semakin mudah.

          Saya dan teman-teman kru magang yang bersama dalam satu mobil begitu menikmati keadaan saat mobil kami melalui jembatan. Semburat merah dari matahari yang mulai terbenam terlihat jelas dari balik kaca mobil. Langit terlihat semakin cantik dan kontras dengan warna birunya laut. Meski angina bertiup cukup kencang sebab kami sedang berada di ketinggian.
Saat sinar matahari sudah benar-benar menghilang, perjalanan kami menuju desa Kamal tinggal beberapa menit lagi. Suasana khas desa yang sepi, damai, dan gelap saat malam menjamu kami untuk pertama kali. Hingga pukul 17.10 sampailah rombongan kami di tempat tujuan, yang dalam hal ini merupakan rumah dari pimpinan rombongan kami sendiri. Yaitu, mas Eko Dian Wahyudi selaku Pimpinan Umum Araa-aita.

Keluarga mas Eko menyambut dengan baik rombongan kami dan mempersilahkan kami masuk ke kediamannya. Setelah meletakkan barang-barang dan istirahat sejenak sembari meluruskan kaki, saya dan teman-teman beranjak untuk melaksanakan Sholat Maghrib. Tak berapa lama usai menunaikan Sholat Maghrib, adzan sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Waktu Isya’ pun telah tiba, karena belum batal wudlu kami pun segera melaksanakan Sholat Isya’ berjama’ah.
Jam menunjukkan pukul 07.45, saat saya dan teman-teman duduk berkumpul di Musholla. Setelah Sholat kami memutuskan untuk tetap berkumpul disana dan forum sederhana pun terbentuk dari hasil kami duduk melingkar tersebut. Sebenarnya tidak bisa disebut melingkar, melainkan duduk mengikuti pola Musholla yang persegi panjang. Namun, sekali lagi itu sama sekali tidak menghilangkan esensi dari duduk bersama itu sendiri, yakni kebersamaan.
Melalui forum sederhana ini juga dijelaskan sedikit garis besar kegiatan kami untuk dua hari ke depan di kediaman mas Eko ini. “Jadi untuk dua hari ke depan nanti kita pengurus melakukan Rapat Rancangan Kerja (RAKER), sebenarnya ini memang lebih ditekankan kepada pengurus yaitu angkatan 2011 dan 2012, namun kru magang atau anak-anak new news yaitu angkatan 2013 juga dirasa perlu untuk mengikuti kegiatan ini agar bisa mengetahui mekanisme RAKER,” terang mas Mukhlis yang menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Ara-aita.
RAB, lahir di warung kopi dan sangat menginspirasi
Keesokan harinya, udara segar yang menyelimuti desa tempat kami tinggal untuk sementara ini mengusik kami untuk jalan-jalam. Menghirup hawa pagi yang jarang kami temui di Surabaya. Melihat matahari terbit dan embun-embun yang membasahi pucuk-pucuk daun.
Mas Eko tentu saja yang menjadi guide bagi perjalanan kami (anak-anak new news) menyusuri lahan yang bakal dijadikan lading tebu ini. Setelah perjalanan yang mengesankan itu, kami pun segera melakukan kegiatan Rapat Rancangan Kerja yaitu membahas mengenai Work Plan pengurus Ara-aita selama satu periode atau satu tahun mendatang.
Selama pengurus rapat, maka kami kru new news juga diperbolehkan membuat forum kajian sendiri. Akhirnya kami pun memutuskan untuk melakukan kajian dengan membahas pengantar ilmu filsafat.
Malam harinya, kami berkesempatan untuk berdiskusi bersama suatu komunitas asli desa tersebut, yaitu Remaja Anak Bangsa (RAB). Komunitas ini mayoritas beranggotakan remaja-remaja warga desa tersebut, mulai dari pelajar SMU hingga Mahasiswa. Namun, tidak menutup kemungkinan ada juga anggota yang sudah bekerja.
Organisasi ini awalnya memang lahir di warung kopi, karena merasa bahwa selama ini mereka hanya sekedar me-ngobrol tak jelas di warung kopi akhirnya lama-kelamaan tercetuslah ide diantara mereka untuk mengadakan suatu kajian yang bermanfaat ketika mereka berkumpul. Kajian-kajian yang mereka lakukan merupakan kajian keilmuan, yang sampai sekarang sangat bermanfaat buat mereka tentunya untuk menambah wacana di luar desa Kamal.
Kegiatan-kegiatan yang telah mereka lakukan pun juga bermanfaat untuk seluruh warga desa Kamal seperti membantu membersihkan fasilitas desa baik masjid, maupun jalanan desa. Jadi mereka pun berhasil mengolah waktu kumpul mereka selama ini dan menjadikannya hal-hal yang bermanfaat. Dari yang asalnya sekedar ngobrol di warung kopi kini menjadi diskusi yang sarat keilmuan. Hasil sharing dengan mereka tentunya sangat mengispirasi kami semua, bagaimana di tengah keterbatasan dana, organisasi yang lahir di desa ini tetap berusaha untuk eksis berdiri dan semangat untuk terus berkembang. Demi memberikan manfaat bagi masyarakat desa.
Kajian kemiskinan, dan realita pengemis di makam Syekh Khona Kholil
Hari ketiga, kami masih melanjutkan rangkaian kegiatan RAKER itu sendiri. Setelah di hari sebelumnya kami sudah membahas Work Plan dan rubrikasi majalah. Kini kami melanjutkan topik pembahasan yaitu mengenai kemiskinan, yang rencananya akan dijadikan sebagai tema besar dan diangkat menjadi pemberitaan di majalah Ara-aita edisi 62 nantinya.
Kemiskinan yang melanda hampir di setiap Negara, baik itu Negara maju, berkembang apalagi Negara miskin akhirnya melahirkan suatu fenomena yaitu banyaknya pengemis. Banyak hal yang bisa dijadikan kategori faktor-faktor penyebab kemiskinan. Seperti, dari segi agama terutama hindhu yang memetakan masyarakat menurut kasta, pemerintah yang biasanya dengan tolak ukur pendidikan dan lapangan kerja, Industrialisasi yang semakin berkembang, Budaya konsumerisme masyarakat, dan sebagainya.
Pengemis yang bisa dijadikan salah satu indikasi dari kemiskinan itu sendiri memang masih banyak ditemui di Negara Indonesia. Seringkali kita temukan kaum peminta-minta ini di tempat-tempat yang tak pernah sepi orang seperti tempat wisata termasuk wisata religi seperti makam para Waliullah.
Namun, sebelum perjalanan pulang menuju kota Surabaya, rombongan kami sempat berziarah di makam Syekh Khona Kholil di Kabupaten Bangkalan. Dan saya menemukan hal berbeda di tempat ini, saya tidak menjumpai pengemis di sekitar wilayah makam yang saat itu ramai pengunjung. Bahkan menurut salah satu pengunjung yang sempat saya tanyai mengatakan bahwa tempat ini selalu ramai didatangi peziarah, apalagi jika bulan Ramadhan. Hal ini tentu sangat berbeda dengan kondisi di Surabaya, seperti makam Sunan Ampel yang ramai oleh peziarah itu, juga ramai dengan pengemisnya.
Setelah berziarah di makam Syekh Khona Kholil, rombongan kami berkunjung ke salah satu rumah senior kami yaitu cak Buyung. Kami mendapat sambutan hangat dan diberikan kesempatan untuk mengetahui kisah perjalanan cak Buyung di organisasi yang dulunya menjadi rumah beliau dan sekarang juga menjadi rumah kami. Ara-aita.(Zur'ah)

No comments:

Post a Comment