Langkah - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 7 January 2014

Langkah



Pagi yang indah. Langit yang cerah. Dengan penuh gairah dan semangat yang masih tetap membara. Fatih  melangkah memasuki gerbang Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Fakultas Dakwah yang demikian ia cinta. Ia bayangkan hari yang indah penuh barakah. Mata kuliah Studi Islam, Studi Al-Qur’an , Fiqih Dakwah, mengawali langkah paginya. Mencoba menjalani  hari dengan mencintai rasulullah seutuhnya, tekad membaktikan diri sepenuhnya di Agama  Tuhan Yang Esa sudah menjadi kepatuhannya. Semuanya menjadi cahaya dalam dada. Menjadi mentari bagi semangatnya dalam setiap langkah. Semangat itulah yang membuat ia  begitu antusias menyimak setiap materi yang diberikan Dosen, bahkan ia tak penah melewatkan satu materi pun hilang sia-sia . tak ada
satu kalimatpun yang diucapkan dosen  yang tak ditulisnya. Begitulah Fatih ia sangat menghargai waktu, dan sangat beryukur pada Tuhan Yang Esa karena masih  diberikan kesempatan untuk duduk dibangku kuliah. Maklum saja orang tua Fatih hanyalah seorang buruh tani di bawah kaki gunung penangungan. Dengan kondisi orang tua yang seperti itu mustahil untuknya bisa kuliah , bisa sampai lulus SMA pun sudah menjadi kebangaan yang luar biasa. Namun tekad Fatih untuk memiliki ilmu
pengetahuan yang luas dan ilmu agama yang kuat membuatnya tak kenal lelah dan tak pernah menyerah tuk mewujudkan mimpinya.
Kuliah yang dijalaninya hari ini dengan semangat berjuang di Agama Tuhan Yang Esa telah usai . Pukul  1 siang ia pulang. Ia berjalan kaki melintasi jembatan layang, lalu  Naik bus kota menuju arah Ketintang, ia menyewa sepetak kamar kecil di sebuah rumah tua di kawasan Ketintang. Kamar yang dulu pernah disewa sepupunya sewaktu masih mengadu nasib di kota Surabaya yang kini telah menikah dan punya rumah di daerah Mojokerto. Tuan rumahnya sangat baik. Tak pernah menagih uang sewa kamar. Entah karena apa sang tuan rumah tak pernah menagih uang sewa ia sendiri pun tak tau, mungkin juga karena kasian melihat ia yang yang seperti itu ataukah alasan lain ia tak tau. Tapi yang pasti ia sendiri yang sering malu. Malu pada diri sendiri dan tentu malu pada tuan rumah. Pernah ia tidak bisa bayar sewa kamar selama tiga bulan. Dan pemilik rumah tak juga menagih. Kali ini, sudah empat bulan ia belum bayar. Otaknya terus berputar dari mana ia akan dapat uang. Meminta orangtua yang sudah renta sangat tidak mungkin.
Ia hanya selalu yakin bisa membayar. Allah Mahakaya. Allah yang akan membukakan jalannya. Sudah dua puluh lamaran ia kirimkan ke tempat-tempat yang teriklankan di koran ataupun di mading-mading kampus. Namun tidak satu pun panggilan ia dapatkan, apalagi pekerjaan.
            Sementara ini, untuk memenuhi kebutuhan harian, ia berjualan buku-buku, majalah dan kaset-kaset islami di depan masjid Nurul Falah. Ia tidak bisa menggelar dagangannya setiap waktu. Sebab harus berbagi dengan jam kuliah. Boleh dikata ia punya kesempatan serius menjajakan dagangannya hanya pada hari Jumat, karena hanya pada hari jum’at lah dagangannya laku keras karena banyak orang yang datang ke masjid untuk sholat jum’at.
 Ketika bis sampai ia  turun. Seperti biasa ia langkahkan kakinya menuju masjid Baitul Haq . Ia ingin melepas penat, sambil menunggu Ashar tiba. Ia masuk masjid. Terasa teduh. Masjid-masjid dimanapun memang selalu meneduhkan. Ia pilih sebuah tiang. Duduk, dan menyandarkan punggungnya, ke tiang. Tas hitamnya ia lepas. Ia letakkan di samping kanan. Kedua kakinya ia selonjorkan. Perlahan matanya memejam, namun pikirannya tetap melayang-layang. Dari mana ia akan dapatkan uang. Dari mana ia akan bayar sewa kamar. “Ya Allah, mohon berikan aku jalan”. Pintanya mengharap pada yang kuasa
Azan Ashar berkumandang. Ia bangkit. Harus segera beranjak  sebelum orang mulai banyak. Ia harus buang air kecil dan ambil wudlu. Ia menuju kamar kecil. Benar. Orang mulai banyak. Belasan kamar kecil tertutup. Untung masih ada satu yang terbuka. Kosong. Ia masuk. Ia tutup pintunya. Di pintu ia temukan tas ransel hitam kumal tergantung.
“Ada yang lupa membawa barangnya.”.
 “Di mana-mana, selalu saja orang sering meningalkan barangnya di kamar kecil”. Gumamnya.
Misalnya di kamar kecil masjid Ulul Albab ia pernah menemukan kaca mata tertinggal. Di kamar kecil masjid Al - Djawahir ia pernah menemukan bungkusan plastik hitam. Ternyata isinya tiga buku mata kuliah. Dan pemiliknya ternyata seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Entah kenapa ia sering menemukan barang-barang yang tertinggal di kamar kecil.
Ia ambil tas itu, sempat terlintas dibenaknya untuk membuka tas itu dan ingin mengambil isinya siapa tahu ada benda berharganya, mengingat kondisinya saat ini. “lumayan  bisa buat bayar uang sewa kamar” pikirnya, namun ia segera tersadar dalam kondisi apapun semiskin apapun selemah apapun  ia tidak boleh kehilangan iman , boleh saja kehilangan harta tapi jangan sampai kehilangan iman. Lalu  ia memutuskan untuk keluar dan berteriak ke arah orang-orang yang sedang berwudlu, “Ada yang merasa memiliki tas ini!”
Tak ada yang menjawab.
Sekali lagi ia berteriak, “Perhatian! Maaf, ada yang merasa memiliki tas ini. Aku temukan tergantung di kamar kecil nomor empat belas.”
“Pemiliknya mungkin sedang sholat.” Sahut seseorang.
“Serahkan saja pada pengurus masjid. Siapa tahu nanti pemiliknya mencari!” Sahut yang lain.
“ Ya, serahkan saja pada pengurus masjid, biar nanti setelah shalat diumumkan.”
“Baik.”
Ia langsung bergegas ke tempat pengurus masjid. Menyerahkan tas itu dan ihwal penemuannya. Pengurus masjid yang berjenggot lebat itu tersenyum ramah dan berkata, “Bukankah kau yang biasa berjulan buku di Masjid Nurul Falah ya?”
“Benar pak.”
“Siapa namamu?”
“Fatih. Lengkapnya Muhammad Fatih Sirojul Haq.”
“Apa yang kau lakukan sangat tepuji. Sesuai dengan namamu.  Tidak semua orang yang menemukan tas berusaha disampaikan pada yang berwenang mengurusinya.
Aku bangga padamu. Semoga Allah memberkahi perbuatanmu, Anakku. Kau telah menunaikan amanah, dan insya Allah akan kami tunaikan amanah ini!” dan semoga Allah membalas kebaikanmu.*(Maulana)


No comments:

Post a Comment