Ruam Muara Waktu - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 16 January 2014

Ruam Muara Waktu

Sepenuhnya, sebuah peradaban terbentuk karena segala rupa persamaan-persamaan dengan sedikit perbedaan yang tampak. Pastinya, sudah lama hidup berdampingan dalam segala bentuk raut kecoklatan warna wajah manusia manusia yang mirip. Kemudian muncul bentuk yang baru lagi, seiring waktu saat menjalani sebuah peradaban tesebut. Bentuk keinginan dalam upaya mempertahankan nafas agar tetap berhembus setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik. Bahkan, sampai-sampai hampir melupakan bahwa nafas bisa berhenti sewaktu-waktu begitu lembut dan mesra (kematian), terlepas dari runtutan waktu, bagaimana sebuah benda yang bernyawa dengan segala kecanggihan teknologi likuid yang tersebar disetiap sudut epidermis menjadi sebuah bentuk komponen paling luar biasa untuk menciptakan benda magis material non-material.

Terbentuknya segala sesuatu yang terjadi hari ini, kemarin atau nanti yang akan datang merupakan hasil dari buah rekayasa aktivitas prakonsepsi. Pengalaman mengerucut melalui jeram-jeram waktu, yang kemudian bermuara pada sebuah percabangan, mengkerucut lagi hingga air yang tak berdaya tanpa jeram tak bergerak lagi, buih akibat jeram melambat begitu pelan dan diam dalam lereng-lereng tanah liat, perlahan lalu hilang, entah menguap atau kembali lagi ke wujud semula, air. Sekarang untuk detik ini, kemudian bertanya dari apa semua ini terbentuk, seorang guru honorer tingkat menengah atas, dengan
mudahnya menjawab pertanyaan ini, bahwa ini semua akibat sejarah. Sejarah adalah pembentuk semua yang ada saat ini, rancangan peristiwa yang termakan samarnya dimensi ketetapan yang bernama waktu.

Katanya, “sejarah masa lalu adalah sejarah pemerasan.” Begitukah seorang Gie menerima mentah-mentah penjelasan yang muncul sendiri. Entahlah? Seakan tak ada baiknya tentang masa lalunya atau memang ia korban masa lalu. Kecil, kita bisa liat perbandingannya, tentang sejarah ada dan hadir untuk menguatkan atau menghilangkan. Sederhana, kita mungkin masih segar dengan peristiwa tragis di ibukota kecelakaan kereta api menghempas badan truk tanki muat BBM yang melintang karena jalan macet di perlintasan KA daerah Bintaro. Mati kutu, truk tak bergerak karena macet, palang perlintasan Rel KA sudah seperti simbolis tanda mara bahaya. Setelah kejadian itu, penerapan jalan bebeda diterapkan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) kota setempat untuk mensiasati peristiwa itu agar tak terulang kembali. Dengan memberlakukan sistem satu arah agar jalanan tak macet lagi dan tak mengganggu aktivitas perlintasan yang telah diatur sedemikian rupa dengan pengamanan yang tersedia.

Ini sebuah langkah untuk menghindari kemungkinan yang akan muncul karena mekanisme pengalaman yang begitu sadis cara kerjanya karena melibatkan batang jarum jam yang mustahil diputar kembali ke tempat semula apalagi berhenti. Seperti saat, kita memulai menghitung bebas dari bilangan real 0, 1, 2 sampai 14 dan kita tiba-tiba terhenti karena seseorang menyapa kita dari kejauhan, kemudian kita ingin meneruskan hitungan kita dari angka 14 tadi ternyata peraturan domino tak memperbolehkan itu, dan harus melanjutkan hitungan dari angka terakhir hingga tak terbatas.

Sama halnya tuntutan terhadap pemerintahan feodal oleh Kerajaan Tsaris di Sovyet. Tentang pemberlakuan aturan pengupahan yang tak adil antara tuan tanah dan petani penggarap. Diperparah pejabat umpeti dari pemerintah juga ikut-ikutan merangsek memangkas jatah pengupahan mengatasnamakan pajak tanah yang jelas berat sebelah dalam hitungannya. Dirasa ini adalah penghapusan hak rakyat pekerja keras secara halus. Abad ke-17 kebangkitan petani sebagai pihak yang paling tidak diuntungkan dari hasil pengorbanan fisik mereka, Stenka Razin dan Emelyan Pugachev mengawali pemberontakan terhadap sistem kerajaan.

Kemudian seorang (yang katanya) “gila” dari Kremlin-Rusia. Seakan menangkap sebuah tingkatan yang kontras, memproyeksikan kelas-kelas yang berbeda antar tiap elemen yang ada di masyarakat dalam penerapan sistem Pemerintahan Tsar. “Terbentuknya kelas-kelas,” kentus Lenin, ternyata berjumlah lebih banyak dan mereka diperlakukan tak adil juga kasar. Sosok Lenin kemudian muncul diabad selanjutnya setelah pemberontakan pertama kelas yang ia sebut “kelas pekerja” di abad 17, dengan membawa hadiah kue pengantin bertingkat yang ia namakan “Kue Pengantin Tsar”. Dengan varian rasa yang berbeda tiap tingkatnya; dari atas ke bawah ada rasa (yang mengatur), rasa (yang membodohi), rasa (yang menembaki), rasa (yang memakan), dan yang paling bawah dengan ukuran yang lebih besar yaitu rasa (yang memeberi makan). Kue tersebut ia buat dari resep yang ia pahami dari buku Marx dengan sedikit menambahkan bumbu rahasia yaitu cara pengolahan yang lebih kompleks.

Sekali lagi bahwa peristiwa yang kemudian remuk dilumat gigi geraham yang bernama waktu berubah bentuk dan memilki sebutan: pengalaman. Menjadi sebuah bom waktu dengan daya ledak lebih hebat dari 1/4 mm Nitrogen Peroksida karena kesan yang tak mengenakkan. Lenin hadir dengan Marxist karena ada yang berat sebelah dalam kehidupan orang-orang yang disebut Proletar dan Borjuis dalam tubuh kekuasaan kapital. Dengan melihat “Kue Pengantin Tsar” itu tadi. Kelas paling bawah adalah kelas yang paling lelah dan yang paling meresakan sakit, Lenin merangkul mereka demi kesama rataan yang lebih baik dimasa yang akan datang nanti, dengan sebuah jalan yaitu pembentukan kelas revolusioner oleh kelas pekerja.

Kalau memang sejarah berasal dari bahasa Arab “sajarotun” berarti pohon (buku sejarah SMA kelas 8). Maka, seperti apa bentuk pohon, lebih baik kalian yang bermurah hati (untuk saat ini) segera buka sedikit tirai kamar kalian, tengoklah disudut halaman rumah. Pohon dilihat mulai akar yang tertutup tanah, batang, dahan ranting, daun, dan buah. Kemudian buah jatuh membusuk bijinya berkecambah menjalar dan menjadi pohon baru lagi yang sama tapi dengan varietas yang berbeda. Sejarah begitulah kiranya, berurutan serupa siklus yang terulang dan terus terulang meskipun dalam tuntutan waktu yang berbeda.

Sejarah sebuah peristiwa yang tidak bisa dipungkiri keberadaanya. Bertanggung jawab atas apa yang masih tersisa saat ini, akibat turbulence ketika memasuki dimensi baru. Sedikit mengguncang badan pesawat mengakibatkan sebagian penumpang mual dan khawatir (jatuh). Seperti alam semesta ini yang ibaratkan pesawat dengan penumpangnya adalah mahkluk-mahkluk yang sibuk beregenerasi terhadap cuilan kecil cosmic yang luar biasanya indahnya, begitu dinamakan bumi.

Kemunculannya kembali begitu muram, tidak sepasti apa yang saat ini dan hari ini terjadi. Spekulasi dan sifat skeptis begitu merusakan buah yang terlalu masak pada kehidupan. Untuk hari ini kita bisa memastikan. Tapi nanti?, besok pagi, besok lusa, atau bulan depan. Apakah kita masih bisa memastikan buah jambu yang tadi siang kita petik tak akan busuk kalau tanpa masuk tempat pendingin makanan? Apakah ikan Kerapu tangkapan nelayan sore tadi, tak mungkin membusuk tanpa diasinkan?. Begitulah kiranya, masa lalu yang indah dan yang memilukan menyuruh & menanti kita dikemudian hari. Kita hanya dapat memastikan saat masa lalu itu muncul kembali dan berbentuk lain. Dan niscaya lebih menyeramkan. (Luhur)

No comments:

Post a Comment