“Budaya dosen telat, mahasiswa terlantar.” - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 27 May 2014

“Budaya dosen telat, mahasiswa terlantar.”



             Mentari pagi telah menampakkan sinarnya, telah muncul dari persembunyiannya, perlahan langit petang pun beranjak menjadi terang. Hari yang mulai siang itulah pertanda bahwa Dina harus kembali melakukan aktifitasnya sebagai  mahasiswa, dengan semangat pagi dan penuh juang 45   Dina segera  bergegas pergi kekampus, dengan antusias dia  memasuki ruang kelas , berharap agar segera mendapat tambahan ilmu yang bermanfaat yang  bisa dibawa pulang hari ini.  Semangat belajar yang telah mengebu-ngebu Dina tadi pupus sudah  setelah  memasuki ruang kelas  ternyata dosen belum datang. Namun  dengan sabar dina tetap menunggu kehadiran sang pembawa ilmu yang akan dapat mencerahkannya. Pepatah lama mengatakan menunggu adalah sesuatu yang sangat menyebalkan, tak terkecuali juga Dina . cukup  lama  Dina menunggu ,tapi dosen tak kunjung datang pula, 1 jam sudah Dina menunggu dan akhirnyapun dosen datang juga, jam karet dosen tadi membuat 1 jam terbuang sia-sia yang hanya dibuat untuk menunggu yang seharusnya bisa digunakan untuk hal lain yang lebih penting.

Memang budaya ngaret (menunda waktu) telah mendarah daging pada bangsa ini dalam berbagai aspek kehidupan. Budaya buruk ini juga telah merambah pula pada kalangan akademika tak terkecuali pada bangku kuliah, ironisnya budaya ini tak hanya terjadi pada mahasiswa tapi juga pada dosen   yang notabenenya adalah sebagai pendidik yang harus memberikan contoh yang baik,  . Berbagai macam alasan pun di lontarkan dosen yang telat, mulai dari jalanan macet, kehujanan, urusan keluarga dan alasan-alasan lain yang umum digunakan untuk membela diri. Namun nyatanya, alasan itu tidak selamanya benar. Ada yang hanya berbohong supaya tidak di tegur oleh Pimpinan. Hal ini memerlukan perhatian khusus dari semua pihak.
Dosen adalah seorang pendidik. Prilaku dosen mungkin saja ditiru oleh mahasiswanya. Keterlambatan yang terjadi seharusnya bisa menjadi tamparan bagi dosen yang telat pada pertemuan sebelumnya. Pantaskah seorang dosen telat?  Pantaskah perilaku tersebut dilihat ratusan mahasiswa. Bagaimana generasi penerus berikutnya yang katanya akan menjadi calon-calon pemimpin bangsa dididik oleh pendidik yang tidak profesional?
Biasa terjadi defensive dalam menanggapi pernyataan diatas seperti “yah kalian sudah mahasiswa tentunya bisa menyaring mana yg baik dan mana yg buruk, lalu contoh lah yg baik tersebut”. Tapi bisakah mereka yang berkata seperti itu memberi contoh nyata pada kehidupan sehari-hari, tidak hanya kata-kata penuh defensive.
Mereka yang datang terlambat seperti tidak menghargai waktu dan terlalu menganggap remeh keadaan. Padahal waktu mereka yang terbuang percuma tidak akan mampu datang kembali. Budaya terlambat ini benar-benar merusak jatidiri seseorang, karena memupuk mental tidak disiplin dan tidak bertanggung jawab. Budaya jam karet sendiri telah membawa dampak negatif  bagi bangsa Indonesia, yakni rendahnya etos kerja dan etos belajar yang dimiliki masyarakat kita, serta pandangan terhadap pribadi masyarakat Indonesia yang tidak menghargai waktu.
Budaya telat ini juga menyebabkan rusaknya semangat belajar mahasiswa yang ingin mencari ilmu, membuat mahasiswa yang biasanya ontime menjadi tidak ontime karena berfikir “Ah, pasti dosennya belum dateng, aku dateng telat juga ah”. Selain itu, setiap orang pasti punya plan sehari-harinya, baik tertulis maupun tak tertulis, keterlambatan dosen bisa saja merusak plan yang telah di-manage dengan baik.
 Banyak mahasiswa yang mengeluhkan hal ini, seperti yang diungkapkan I, mahasiswa KPI semester 1. “Kami sudah merasakannya sendiri, menunggu hampir dua jam dan ternyata dosen tidak jadi masuk tanpa keterangan yang jelas, atau menunggu satu sampai dua jam hingga dosennya datang,” ungkapnya. Dia menuturkan hal ini di rasa sangat merugikan bagi mahasiswa, karena waktu satu hingga dua jam itu bisa dipakai untuk beristirahat ataupun mengerjakan tugas.
Tidak adanya konfirmasi dari dosen apabila ia datang terlambat ataupun batal mengajar membuat mahasiswa menjadi gelisah. Ingin pulang takut dosen datang, menunggu tapi ternyata tidak jadi masuk. Keterlambatan dosen ini kemungkinan ada dua alasan, disengaja dan tidak disengaja. Disengaja karena mungkin dosen bosan dengan mahasiswa yang selalu terlambat datang ketika ia mengajar, sehingga akhirnya ia mengulur waktu untuk hadir mengajar, tidak disengaja misalnya tiba-tiba ada rapat yang harus dihadiri, ataupun ada urusan mendadak lainnya.
Jam karet ini terjadi karena kurangnya rasa disiplin terhadap waktu, orang-orang suka menunda pekerjaan, sehingga berimbas pada molornya waktu yang digunakan. Kebiasaan ini semakin mengakar karena sebagian orang dapat memaklumi keadaan. Karena jam karet adalah kebiasaan yang buruk, jadi sudah semestinya tidak kita lestarikan. Biasakan untuk melakukan pekerjaan tanpa menunda-nunda, kesadaran diri sendiri sangat penting dalam menanggulangi masalah ini. Jadi, masih pantaskah seorang dosen datang terlambat?



1 comment:

  1. kalau dosen tersebut tidak masuk karena ada keluarga atau saudara yang meninggal secara mendadak lalu dosen tersebut sudah menginformasikan ke pihak kampus namun karena sosialisasi yang kurang maka mahasiswa/i tetap terlantar. bagaimana solusi dr kasus diatas?

    ReplyDelete