Lebih Pilih Golput, Daripada Pulang Kampung - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 27 May 2014

Lebih Pilih Golput, Daripada Pulang Kampung



Pesta demokrasi yang biasa dirayakan rakyat Indonesia dengan memilih pemerintah secara langsung, telah diselenggarakan tanggal 9 April kemarin. Namun, tidak semua masyarakat Indonesia menggunakan hak suaranya kemarin (9/4).


Golongan putih atau yang biasa disingkat dengan golput, adalah sebutan bagi sebagian masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu tahun ini. Tak hanya masyarakat umum, golput nyatanya juga menjangkit sebagian kalangan mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), utamanya adalah para mahasiswa rantau yang terkendala jarak. Seperti yang kita ketahui, mahasiswa UINSA tidak hanya berasal dari daerah Surabaya dan sekitarnya saja, akan tetapi juga berasal dari luar propinsi maupun luar pulau. Bagi para mahasiswa rantau tersebut, jarak dan waktu adalah kendala utama dalam berpartisispasi pada pemilu 2014 ini.
Kendala jarak jauh yang harus ditempuh saat mencoblos dan terkait waktu yang  hanya sehari, membuat mahasiswa rantau merasa sayang bila harus jauh-jauh pulang ke kampung halaman, hanya untuk memberikan sumbangsih suara dalam pemilu. Hal tersebut, diungkapkan oleh salah satu Mahasiswa Program studi Komunikasi, Robby Mubarok yang merupakan salah satu mahasiswa golput. “ Sebenarya saya juga ingin sekali ikut nyoblos, karena saudara saya juga ada yang maju sebagai kandidat Caleg, tapi berhubung harus nyoblos di rumah (kampung halaman) yang lumayan jauh, saya memutuskan untuk golput saja, apalagi waktu liburnya hanya sehari,” keluh mahasiswa asal Cilacap, Jawa Tengah itu.
Kecewa lantaran tidak bisa menyumbangkan suara, bukan hanya dialami Robby, mahasiswa asal Jambi bernama Solmisah pun turut merasakannya. Mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) itu menuturkan sejumlah rasa kecewa yang dialami karena tidak bisa ikut mencoblos, baginya demokrasi adalah hal yang baik karena telah dicontohkan para sahabat rasul dahulu. Menjadi bagian dari golput membuat mahasiswa semester dua itu merasa tidak melaksanakan kewajiban dan menggunakan haknya sebagai warga negara. “ Kalau saja tidak berhalangan hadir, aku pasti ikut milih, karena sejatinya demokrasi adalah hal yang baik dan benar, karena hal itu juga pernah dicontohkan para sahabat rasul terdahulu. Aku sendiri merasa tidak memberikan hak dan kewajibanku ketika aku golput,” kata mahasiswa yang bertempat tinggal di Pesantren Mahasiswa (PESMA) tersebut.
Lain halnya dengan Robby dan Solmisah, Arief Fuji Laksono, mahasiswa asal Bogor, Jawa Barat, lebih memilih golput karena merasa tidak peduli dengan aparat pemerintah yang dinilainya akan melupakan rakyat. Selain itu dengan memilih secara langsung di daerah asalnya, otomatis ia akan rugi waktu, tenaga dan biaya. “ Buat apa pulang hanya untuk milih? Orang yang mau dipilih saja tidak kenal? Visi dan misi mereka juga saya tidak tahu?  Terlebih lagi, ongkos saya untuk pulang juga mahal dan tentunya capek harus bolak-balik tiga hari, atau bahkan hanya sehari. Itu nguras tenaga, waktu dan dompet,” kata mahasiswa semester dua itu.
Mengatasi permasalahan golput pada masyarakat rantau di Kota Surabaya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyediakan suatu wadah tersendiri bagi warga luar Kota Surabaya yang ingin ikut berpartisipasi dalam pemilu. KPU Relawan Demokrasi adalah nama komunitas yang khusus disediakan bagi masyarakat luar Surabaya tersebut. Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang disediakan bagi komunitas ini adalah di Taman Bungkul.
Adanya komunitas tersebut, nampaknya tidak banyak disambut hangat oleh para mahasiswa golput UINSA. Seperti halnya yang diutarakan Arief Fuji Laksono terhadap kebungkaman hak suaranya dalam pemilu 2014 ini, karena  pemerintah yang nantinya juga tidak peduli dengan nasib rakyat. Arief berpendapat bahwa pemerintah hanya peduli dan mengurus rakyat di awal pemerintahannya saja, selebihnya mereka lebih tertarik untuk mengumpulkan uang sebagai modal kampanye selanjutnya. “ Kalau kita ikut milih, lalu mereka jadi wakil rakyat sebenarnya, mereka hanya mengurusi rakyat di awal pemerintahannya saja, saat jabatannya mau habis dan datang masa kampanye selanjutnya, mereka lebih sibuk untuk mengumpulkan uang demi kampanye yang akan datang. Akhirnya lupa dengan rakyat. Itulah fakta yang terjadi di daerahku,” tambah Mahasiswa Prodi Soiologi tersebut.
Berbagai alasan diungkapkan para mahasiswa rantau agar mereka tetap berada pada sisi netral. Meskipun tetap memilih golput dengan berbagai alasan, jauh di lubuk hati para mahasiswa golput itu, tentu tetap ingin berpartisipasi dan menjadi bagian dari pesta demokrasi rakyat Indonesia, yang diselenggarakan lima tahun sekali. “ Ya, hati kecil saya sebenarnya tetap ingin ikut memilih, berhubung tata cara dan persyaratan buat pemilih rantauan saja tidak tahu, jadi lebih baik tidak deh,” ungkap mahasiswa kelahiran Bogor tersebut.


                                                                                                                                                                                Cok/Tik

No comments:

Post a Comment