Menjadi Menteri di Saat Sulit - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 27 May 2014

Menjadi Menteri di Saat Sulit



JudulBuku     : SetahunBersama Gus Dur
Pengarang       : Moch. Machfud MD
Penerbit           : Pustaka LP3ES Indonesia
Tahun              : 2003
TebalBuku       : 317Halaman
Peresensi         : MaulanaSyarifudin
 








            Dalam buku ini, sosok Gus Dur sangat menarik bagi seorang Moch. Mahfud MD, sehingga ia menuliskan buku ini Setahun Bersama Gus Dur, sebuah buku yang mengungkap perjalanan seorang Moch.Mahfud MD selama menjadi menteri pertahanan di era Gus Dur. Gus Dur di mata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini adalah seorang guru sekaligus teman. Seperti yang tersampaikan jelas di halaman pertama buku ini, terbaca kalimat : “Masih selalu terbayang di mata dan tergiang di telinga, saat-saat engkau memberi petuah tanpa menggurui, saat engkau mengajak canda tanpa menyinggung perasaan,  saat engkau mengajak menghayati visi kebangsaan tanpa paksaan.”
Kedekatan Mahfud MD dengan Gus Dur, sebenarnya tidaklah seperti yang dibayangkan orang. Dalam buku ini jelas sekali mantan Menteri Pertahanan (Menhan) di masa Gus Dur ini sebenarnya lebih banyak mengenal Gus Dur lewat  tulisan, ceramah dan pemberitaan di media massa.  Jadi Mahfud baru mengenal Gus Dur ketika ia masih duduk di bangku kuliah.

“Ada jutaan orang yang mengenal Gus Dur dengan cara seperti itu,” ungkapnya. Namun, tambahnya, “Belum tentu dikenal oleh Gus Dur” maklum karena Gus Dur  adalah seorang tokoh besar, dan dirinya awalnya adalah salah seorang dari jutaan orang tersebut .
Mahfud MD bertemu secara fisik dengan Gus Dur hanya dua atau tiga kali di forum ilmiah, 16 tahun sebelum dirinya diangkat menjadi menteri. Dan dia yakin bahwa setelah pertemuan itu Gus Dur ‘melupakannya’, karena pertemuaan itu dianggap adalah pertemuan biasa.
Tapi pada 22 Agustus 2000, Gus Dur selaku Presiden mengumumkan pengangkatan dirinya sebagai Menhan. Banyak orang yang mulai bertanya, siapa Mahfud MD ini, dan seberapa dekat dirinya dengan Gus Dur, sehingga ia diangkat menjadi Menhan?
Bahkan pada saat itu seorang kyai kharismatik dari jember, KH Chotib Umar mempertanyakan bagaimana seorang peminat hukum tata negara biasa dikenal oleh Gus Dur, dan juga dalam kolom khusus di rubrik “Resonansi” harian republika (17 september 2000) bahwa  teman-teman dekat Mahfud MD sendiri tidak tahu kalau Mahfud menjadi salah satu koleksi dari kenalannya seorang tokoh besar Gus Dur. Maka Pertanyaan inilah yang juga menjadi pertanyaan Mahfud dalam bukunya ini. Kenapa dirinya yang hanya baru dua atau tiga kali bertemu dengan Gus Dur akhirnya ‘dipanggil’ untuk menjadi bawahannya langsung?
Buku ini memang banyak berbicara tentang ‘sepak terjang’ Gus Dur dari perspektif Mahfud. Dan boleh jadi akibat nyelenehnya Gus Dur itulah dirinya ‘masuk’ dalam dunia politik yang belum dikenalnya secara praktis sama sekali.
Di halaman – halaman awal ini,  Mahfud MD menceritakan pengalaman bagaimana dirinya mendapat telepon dari istana, yang tidak disangka - sangka, karena memang ia merasa bukan siapa - siapa, layaknya seorang yang sedang bermimpi. Akhirnya ia harus terbangun dan sadar bahwa itu bukan mimpi.
Sangat menarik sekali apa yang ditulis dalam buku ini, begitu mengalir, dan tanpa terasa pembaca seolah-olah dibawa menemani dirinya untuk menemui sang Presiden Gus Dur.
Pengangkatannya sebagai Menhan mendapat reaksi keras, karena dia memang tidak dikenal dalam persoalan pertahanan. Dia hanya seorang akademisi. Reaksi keras juga meluncur dari Amien Rais. Awalnya Mahfud ingin mundur. Tetapi akhirnya ia menerima jabatan tersebut, dan ia menjadi politisi-akademisi yang fenomenal, sepak terjang dan pernyataan-pernyataannya merupakan perpaduan antara sikap akademisi yang  jernih dan politisi yang lincah dan lugas, hingga pada akhirnya ia  diganti oleh koleganya Matori Abdul Jalil pada masa Presiden Megawati.
Selain berbicara tentang pertemuan dan pengangkatan Gus Dur kepadanya, Mahfud MD juga menulis tentang kesan – kesannya terhadap Gus Dur. Terutama tentang dasar pertimbangan atau sumber informasi yang biasa digunakan Gus Dur. Menurut Mahfud MD, keghaiban kerap kali memengaruhi pernyataan atau sikap – sikap bahkan keputusan Gus Dur.
Untuk menghadapi persoalan yang serius, sumber informasi Gus Dur bisa terdiri dari laporan dan analisis staf, informasi media massa, informasi dari masyarakat khususnya LSM, informasi langit dan pemahaman Gus Dur sendiri atas informasi itu.
Walau buku ini berbicara tentang Gus Dur, tetapi bukan berarti buku ini hanya menceritakan tentang ‘ikatan batin’ antara Mahfud MD dan Gus Dur saja. Banyak hal yang bisa diambil manfaatnya.Boleh jadi kita bisa mendapat manfaat dari apa yang ditulis Mahfud MD tentang Gus Dur sendiri, dan bisa juga kita mendapat manfaat dari sosok Mahfud MD sendiri, yang merupakan salah seorang warga negara yang saat ini pernah berkiprah dalam tiga institusi yang berbeda. Yakni sebagai eksekutif, legislative maupun di lembaga yudikatif.
Apa pun kata orang tentang Gus Dur, tampaknya Gus Dur bagi Mahfud MD adalah ‘lentera’ demokrasi di negeri ini. Jadi tidak ada salahnya Anda membaca buku ini untuk menambah referensi perbendaharaan hidup Anda.

No comments:

Post a Comment