Politik pada ‘Miniatur Negara’ - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 28 May 2014

Politik pada ‘Miniatur Negara’



Jika diibaratkan, universitas merupakan miniatur dari sebuah Negara. Dimana jika pada sebuah Negara ada rakyat, pemerintah, wilayah pemerintahan serta sistem yang mengatur. Begitu pula dalam kampus, simbolisasi dari semua hal tersebut yaitu dengan adanya mahasiwa yang dapat dikatakan rakyat. Pemerintah yang kali ini dimainkan oleh birokrat kampus dari mulai dekanat (fakultas) hingga tingkat rektorat (universitas). Wilayah pemerintahan yang terwujud dalam sebuah wilayah kampus. Dan tentu saja sistem pada pemerintahan juga tercipta di sebuah universitas. Bahkan untuk masalah sistem ini, tak hanya berlaku pada konteks Negara dan universitas saja melainkan ada pada semua hal yang berdiri dan membutuhkan keteraturan di dunia ini.
Sama halnya dengan sebuah pemerintahan Negara, dalam universitas kehidupan politik juga sangat akrab ditemui. Tentu dengan tingkatan yang berbeda. Beberapa hari yang lalu, Negara baru saja menyelenggarakan sebuah pesta demokrasi besar untuk memilih orang-orang yang mewakili suara rakyat di kursi legislatif. Tidak berhenti sampai disitu, karena pada juli nanti Negara kembali disibukkan dengan sebuah prosesi yang luar biasa lagi, yaitu pergantian kursi orang nomer satu di Indonenesia ini.

Hal-hal tersebut tentu saja sangat berkaitan dengan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), sebuah contoh miniatur Negara. Karena seperti halnya dengan Indonesia yang baru saja melangsungkan pemilihan umum (PEMILU) untuk memilih anggota legislatif, di UINSA juga akan berlangsung beberapa pemilihan yang bersifat demokratis untuk pergantian kepemimpinan sebuah organisasi intra mahasiswa yang ada di tiap-tiap jurusan pada semua fakultas. Setelah berakhirnya pesta demokrasi di tingkat fakultas, hal ini juga akan berlanjut di tingkat Universitas untuk memilih presiden dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) bisa dijadikan sebuah contoh fakultas untuk disoroti. Bagaimana dinamika politik di dalamnya yang telah bekembang luar biasa dari mulai organisasi Intra mahasiswanya di tiap jurusan dan program studi. Seperti yang telah diketahui bahwa di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) ada beberapa jurusan dan program studi. Yaitu; Sosiologi, Bimbingan Konseling Islam (BKI), Psikologi, Komunikasi, Komunikasi Penyiaran islam (KPI), Managemen Dakwah (MD), dan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI). Dari kesemua jurusan tersebut memiliki organisasi intra mahasiswa yang utama berupa Himpunan Mahasiswa Jurusan disingkat HMJ maupun Himpunan Mahasiswa Program Studi yang disingkat menjadi HIMAPRODI.  
Pada periode ini, para pengurus HMJ dan HIMAPRODI dari berbagai jurusan tersebut akan melakukan regulasi kepemimpinan mereka. Prosesi itu akan dilangsungkan dalam beberapa waktu dekat ini. Namun, apa yang menarik dari semua hal tersebut ? tentu saja praktik politik yang ada di dalamnya.
Banyak sekali intrik politik yang dapat ditemui di dalamnya sama halnya ketika akan berlangsungnya sebuah pergantian kursi kepemimpinan dan kuasa pada sebuah Negara, dan hal itu pula yang berlaku di sebuah miniatur Negara yaitu Universitas, sekalipun ia juga merupakan sebuah lembaga pendidikan.
Memang, politik bisa ditarik menjadi banyak arti sesuai dengan sudut pandang memaknainya, namun pada dasarnya salah satu sudut pandang menyebutkan bahwa politik menjadi dasar dari sebuah kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Untuk sekelas Universitas, pemilihan umum dalam menentukan sebuah pemimpin baru HMJ maupun HIMAPRODI diwarnai dengan berbagai lobi-lobi politik sederhana.
Menghimpun suara dari kedekatan
Money politic  yang tidak asing lagi dalam sebuah masyarakat Negara, mungkin tidak bisa ditemukan banyak di tingkat Universitas menjelang proses pergantian kepemimpinan dan pemindahan kuasa. Lantas cara apa yang digunakan orang-orang yang menjadi calon penguasa berikutnya untuk meraih kursi kepemimpinan itu ?.
Langkah tersebut nyatanya begitu sederhana, contoh yang seringkali dijumpai akhir-akhir ini yaitu upaya-upaya ‘pendekatan’ yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu. Mereka yang umumnya berangkat dari semester 4 cenderung menghimpun suara dari para juniornya.
Melakukan pendekatan-pendekatan, baik secara terbuka langsung dengan memaparkan rencana-rencana kerjanya ke depan, maupun pendekatan yang lebih bersifat emosional seperti teman ngobrol dan ngopi. Tanpa melibatkan politik uang yang lebih bersifat praktis.   
Janji-janji akan akses mudah
Persaingan yang timbul karena hal ini pun juga tidak asing lagi ditemui. Untuk itu, mereka yang menginginkan akan berlomba-lomba untuk memberikan berbagai janji-janji. Diantaranya; janji akan akses mudah untuk mengurus ini dan itu. Beberapa orang-orang yang terlibat dalam persaingan tersebut juga berusaha menciptakan karisma pada dirinya untuk membawa program-program yang sengaja dikemas secantik mungkin, guna memuluskannya naik ke kursi kuasa.*(Raga)

No comments:

Post a Comment