FDIK Menjadi Tuan Rumah KONGRES BEM Se Nusantara - Araaita.com

Breaking News

Monday, 2 March 2015

FDIK Menjadi Tuan Rumah KONGRES BEM Se Nusantara


Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya mendapat kehormatan menjadi tuan rumah dalam Kongres BEM Se Nusantara. Kongres ini resmi dibuka oleh ibu Suhartini selaku Dekan FDIK UIN Sunan Ampel Surabaya pada pagi 20 Maret 2014 saat Seminar Internasional dalam rangka Dies Natalies FDIK. Pada kongres yang diadakan 20-21 Maret ini membahas tentang pokok lanjutan mengenai kongres sebelumnya di Purwokerto.
Forum Komunikasi Mahasiswa Dakwah Indonesia (FKMDI) yang sekarang berubah nama menjadi Asosiasi Mahasiswa Dakwah Indonesia (AMDIN) lahir dari kegelisahan para Mahasiswa dalam satu Afiliasi Kemenag yang merasa kurang  di akomodir untuk kepentingan Mahasiswa karena pergerakan yang seperti itu mayoritas hanya dari jurusan sehingga terkesan individual. Forum ini terbentuk saat RAKERNAS (Rapat kerja Nasional) di Jogja dan mengundang semua kampus dibawah afiliasi Kemenag se Indonesia, dilanjutkan hingga Rakornas di Purwokerto yang megawali nama dari FKMDI menjadi AMDIN karena atas dasar bahwa Asosiasi lebih mempunyai kekuatan hukum yang terorganisir itulah yang mendasari berubahnya FKMDI menjadi AMDIN.
AMDIN sendiri belum genap berumur dua tahun, jadi bisa dibilang organisasi yang
baru terbentuk. AMDIN berada dalam afiliasi dosen-dosen serta Dekan Fakultas Dakwah yang tergabung dalam Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia (APDIN). Dalam AMDIN masih banyak permasalahan yang terjadi dari mulai Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang masih harus dikaji ulang hingga jadwal kegiatan AMDIN itu sendiri. “tentang banyaknya permasalahan yang ada di AMDIN, saya rasa itu wajar karena kita masih baru” jelas Muhammad Shidiq. Dari kongres ke kongres yang harusnya menjadi pembahasan yang berbeda, menjadi sebaliknya. Dikarenakan anggota yang hadir tidak selalu sama, jadi anggota yang tidak ikut kongres sebelumnya tidak paham tentang bahan yang akan dibahas pada kongres yang diikutinya. Jadi para pengurus menjelaskan mulai dari awal lagi. “saya minta pada saat saya pulang nanti saya membawa hasil agar bisa diberikan kepada teman-teman dakwah yang lain”, ujar mahasiswa UIN Sunan Kalijaga itu. Karena pada kongres-kongres sebelumnya hanya membicarakan seputar sejarah berdirinya AMDIN saja. Jadi para anggota yang datang hanya membawa hasil yang masih “mentah” jelasnya kembali. Maksudnya dari hasil yang masih “mentah” adalah yaitu hasil yang belum bisa diresmikan karena lagi-lagi tentang anggota yang tidak terlalu banyak hadir dalam kongres itu.

Tujuan dibentuknya AMDIN sendiri adalah untuk mengubah persepsi masyarakat tentang fakultas dakwah. Persepsi masyarakat umum yang menganggap bahwa lulusan fakultas dakwah hanya akan menjadi da’i. “Sedangkan banyak sekali jurusan-jurusan atau pun program studi yang tidak berfokus pada dakwah islam” jelas Anang selaku Ketua Panitia dalam kongres tersebut. Jadi AMDIN juga membantu agar lulusan mahasiswa fakultas dakwah tidak diaanggap “calon da’i” di mata masyarakat umum. Setelah diadakan beberapa pertemuan di UIN Sunan Ampel Surabaya. Pada akhirnya, kongres itu membuahkan hasil. Hasil yang didapat dari kongres di UIN Sunan Ampel Surabaya adalah penambahan AD/ART dan akan dirilisnya sebuah buku agar masyarakat umum mengetahui lebih dalam tentang fakultas dakwah dan dapat mengubah persepsi mereka tentang lulusan fakultas dakwah yang hanya bisa berprofesi da’i saja serta penyusunan program kerja untuk kegiatan selanjutnya. “Dalam buku itu membahas tentang Agama, Kebudayaan, Politik, Ekonomi, Pendidikan dan Hukum di Indonesia” ujarnya kembali. Dalam kongres itu juga menjelaskan kembali tentang Garis-garis Besar Haluan Organisasi (GBHO) dan Garis-garis Besar Haluan Kerja (GBHK). 

No comments:

Post a Comment