Modal Kuliah Cukup Dengan Ctrl+C dan Ctrl+V - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 10 March 2015

Modal Kuliah Cukup Dengan Ctrl+C dan Ctrl+V


 Tindakan copypaste telah menjadi makanan mahasiswa sehari-harinya. Tugas yang didapat pun dapat dituntaskan dengan mudah, tanpa harus banyak menguras kerja otak.

      Pada hakikatnya Pelagiarisme merupakan perbuatan menjiplak atau mengambil tulisan, karangan, pendapat dan karya orang lain atau kelompok dan mengakui sebagai karya miliknya. “ Mengutip karya orang lain tanpa mencantumkan sumbernya, maka  dianggap  dengan mengakui bahwa karya itu miliknya”, ungkap Ibu Imas Maysaroh.  Seluruh karya ilmiah itu diakui secara internasional, dan jika pada mahasiswa UIN Sunan Ampel menjiplak karya orang lain , maka akan berlaku pula hukum internasional.
“UIN Sunan Ampel Surabaya tidak mempunyai acuan khusus mengenai undang-undang pelagiarisme”, pungkasnya.
            Tindakan pelagiarisme sama halnya dengan tindakan mencuri hasil karya cipta orang lain, hal ini  diatur melalui UU No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta. Sanksi hukum yang membayangi kegiatan pelagiarisme sesuai pasal 72 ayat (1) UU Hak Cipta adalah pidana penjara masing-masing paling singkat 1 bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 atau pidana penjara paling lama 7 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00.
 Selain itu Pelanggaran hak cipta juga diatur menurut ketentuan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada tanggal 15 Pebruari 1984 yakni mengutip sebagian ciptaan orang lain dan dimasukkan ke dalam ciptaan sendiri atau mengakui ciptaan orang lain. Perbuatan ini disebut pelagiat atau penjiplakan (pelagiarism) yang dapat terjadi antara lain pada karya cipta berupa buku, lagu dan notasi lagu.
      Undang-undang Hak Cipta ini pun dimulai dari Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 dan terakhir diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997. Sekarang Undamg-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dan ini pun akan terus berkembang seiring berkembangnya teknologi dan informasi sebagai medianya.
            Seiring dengan perkembangan zaman, semakin meningkat pula pelagiarisme khususnya  dikalangan mahasiswa. Dengan kecanggihan teknologi internet yang bisa dibawa kemana-mana, mahasiswa lebih menggampangkan tugas mata kuliah yang diberikan oleh dosen, seperti makalah, soal UTS/UAS, bahkan skripsi. Semuanya dapat terselesaikan secara singkat dengan mengakses jaringan internet. Tak jarang mahasiswa yang ditolak skripsinya karena ketahuan menjiplak karya orang lain.  Hal tersebut sudah menjadi fenomena yang dianggap biasa bagi para mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya pada umumnya. Keadaan jiwa  yang kosong mengacu mahasiswa  mengambil jalan pintas sebagai solusi utama untuk menyelesaikan  tugas yang diberikan oleh dosen.
       
      Budaya ini nampaknya  sudah mendarah daging pada jiwa mahasiswa UIN sunan Ampel Surabaya. Sehingga sulit untuk dibasmi dan butuh revolusi besar-besaran untuk menghapus tindakan tersebut. Baik itu revolusi dari pihak mahasiswa ataupun dosen. yang perlu ditanamkan dalam jiwa mahasiswa adalah kesadaran diri untuk mau menghargai karya orang lain dan sifat kajujuran. Sedangkan dari pihak dosen perlu mempertegas lagi tentang  hukuman yang diberikan agar si pelaku merasa jerah.
      Adapun akibat dari tindakan tersebut akan menimpa si pelagiarisme itu sendiri dan penulis asli karya ilmiah. Dengan terus mengandalkan karya tulisan orang lain setiap kali diberi tugas tanpa adanya pemikiran dari diri sendiri, maka akan mematikan daya pikir mahasiswa. Dan kualitas keilmuan mahasiswa pun tidak akan berkembang.  Begitupun dengan si penulis akan merasa dirugikan jika hasil usahanya dijiplak seenaknya oleh orang lain.    



No comments:

Post a Comment