Acuh Etika dan Nilai Keislaman - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

Acuh Etika dan Nilai Keislaman

                Dewasa ini didapati beberapa mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya yang acuh kepada etika serta nilai keislaman yang diberikan kampusnya. Sebagian dari mereka memang tidak mematuhi dan acuh pada etika serta nilai-nilai keislaman yang ditanamkan kampus berbasis keagamaan ini. Hal ini terjadi karena, mereka yang melanggar kode etik mahasiswa ini, belum mendapatkan teguran atau sanksi yang membuat mereka jerah.

                Guna untuk mempererat tali silatuhrahmi, serta menginformasikan kepada orang tua wali mahasiswa mengenai pembekalan kepribadian anaknya. Tahun lalu, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya mengundang orang tua wali untuk datang di Aula guna memperkenalkan Fakultas Dakwah dan Komunikasi demikian peraturan-peraturannya. Seperti cara berbusana mahasiswa saat pergi ke kampus. Pertemuan ini diadakan agar orang tua wali juga ikut membantu mengarahkan dan selalu mengingatkan anaknya agar tidak menggunakan pakaian yang berbahan kaos, dan ketat.
                Setelah diadakan pertemuan orang tua wali mahasiswa, Fakultas Dakwah dan Komunikasi juga mengadakan Peresmian Deklarasi Pengawalan Pengguna Pakaian Ketat, yang diadakan pada hari Selasa, 21 Oktober 2014 yang lalu, dan juga diantusiasi mahasiswanya dengan bertanda tangan di atas banner peresmian Deklarasi tersebut, terutama mahasiswa putri. Namun, sebuah harapan harus ditempuh dengan sekuat tenaga dan tidak dengan waktu yang singkat. “UIN membutuhkan waktu untuk menselaraskan mahasiswanya agar patuh terhadap peraturan kampus ini”. Ujar Ali Nurdin selaku bagian Kemahasiswaan Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Didalam KEM (kode etik mahasiswa) telah dijelaskan secara rinci mengenai busana yang layak dan tidaknya dipakai oleh seorang mahasiswa yang membawa nama Universitas Islam ini, begitupun sanksi yang akan diterima mahasiswa itu jika melanggar KEM tersebut.
                Salah seorang  mahasiswi bernama Lita (nama disamarkan) berhasil diwawancarai oleh crew new news dan Ia mengatakan bahwa, Ia belum terbiasa menggunakan rok ataupun baju-baju panjang yang menutupi pantatnya. “Meskipun sudah sering ditegur ya, saya tetap memakai baju yang sesuai dengan saya seperti ini. Toh ya belum tentu besok saya bertemu dengan dosen-dosen yang sudah menegur saya” kata perempuan asal Gresik itu. Pernyataannya pun dijawab oleh Ali Nurdin bahwa, pihak akademik sudah melakukan kegiatan yang sifatnya advokasi (Read: berhubungan dengan hukum) yaitu tidak akan melayani mahasiswa yang telah melanggar kode etik bersangkutan tersebut, hal ini akan terlihat saat mahasiswa yang mengenakan pakaian tidak sesuai ketentuan dilarang masuk kedalam ruang akademik maupun administratif, dengan demikian mahasiswa yang melanggar KEM tersebut tidak akan mendapat layanan dari pihak akademik, perpustakaan, tata usaha, dan ruang administratif lainnya.
                Tidak jauh berbeda dengan peraturan berbusana yang dibuat untuk menjunjung nilai keislaman individu tiap mahasiswanya. Sikap, perkataan dan juga perbuatan atau yang lebih dikenal dengan sebutan etika pun juga diacuhkan. Kejadian ini berhasil ditangkap oleh crew new news di Fakultas Ilmu Sosial Politik dan Fakultas Ekonomi Bisnis Islam. Saat itu terdapat kelas yang didapati dosen pengampunya sedang berhalangan untuk mengajar. Yang kami amati adalah suasana kelas yang gaduh. Dimana terdapat beberapa mahasiswa dan  mahasiswi mengucapkan jargon surabaya yang semestinya tidak Ia lontarkan kepada temannya. Selain itu juga terdapat mahasiswi yang duduk dimeja dosen serta berteriak saat memanggil teman lainnya. Suasana ini memang sering terjadi di kelas ini, tidak hanya itu saja. Masih banyak lagi hal-hal yang semestinya tidak terjadi dalam kampus yang membawa nama agama ini. Menurut Efi (nama disamarkan) salah satu mahasiswa FISIP yang kami wawancarai mengungkapkan, “mau bagaimana lagi, kalau saya menegur mereka karena sikap mereka pasti saya disemprot, ya saya biarkan saja. Yang penting bukan saya yang begitu” ujar perempuan berkulit sawo matang tersebut.

                Perempuan asal Madiun itu menambahkan bahwa, jika hanya mengandalkan kesadaran tiap individu mahasiswa, masih susah untuk menggapai Universitas Islam yang menjunjung tinggi nilai keagamaannya. Jadi  sangat perlunya pengawasan ketat dan juga sanksi yang sesuai bagi para mahasiswa yang sering melanggar kode etik mahasiswa tersebut. Sanksi atau hukuman ini diberikan agar mereka jerah sehingga kapok melakukan hal-hal yang tidak semestinya mereka lakukan itu. Meskipun tidak semua hal-hal buruk itu menghilang, paling tidak sedikit banyak hal-hal buruk yang biasa dilakukan mahasiswa tersebut sudah tidak ada, “Kita kan UIN, masa’ iya seperti itu” pungkasnya.

No comments:

Post a Comment