Aktivis Berprestasi - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

Aktivis Berprestasi

           SAYA BUKAN MAHASISWA BERPRESTASI
TAPI AKTIVIS BERPRESTASI
 Oleh: Wahyu Nurhalimah Rozaq

 “Sekarang sudah saatnya jadi mahasiswa excess di Universitas. Yang tidak hanya mengejar akademik semata, dan hanya menjadi aktivis di kampus saja. Namun, dengan target yang tinggi. Yaitu, menjadi aktivis mahasiswa yang lulus dengan akademik cumlaude (Read: Mahasiswa yang lulus dengan nilai diatas rata-rata)”.
          
Begitulah kata terakhir yang diucapkan oleh Muhammad Reza Pahlawan, untuk memberi semangat teman-temannya sebelum turun dari mimbar panggung. 03/15 namanya terpanggil lantang diiringi dengan hasil IP (indeks prestasi) yang diperolehnya, membuat semua orang di Gedung Balai Bangsa saat itu terkejut sekaligus mengalihkan pandangannya ke panggung sesaat protokol menyebutkan 4.00. Ia membutuhkan waktu tiga setengah tahun untuk mendapatkan IP tertinggi tersebut. Kebahagiaan sungguh terlihat jelas diraut wajah mahasiswa yang akrab dipanggil dengan sebutan Paul itu, ia telah berhasil membuat ibunya menangis haru karena prestasi yang diraihnya sebelum ia meninggalkan bangku kuliah strata satunya itu.
           Kata yang ia lontarkan saat itu bukanlah isapan jempol semata untuk mahasiswa sehebat Paul. Paul terkenal aktif dalam berorganisasi di kampusnya. Paul juga sempat dijudge oleh teman-temannya sebagai mahasiswa yang sok mencari perhatian di dalam kelas maupun luar kelas. Karena sikapnya yang kritis seakan-akan menjadi masalah untuk teman-temannya yang mempunyai kemampuan biasa-biasa saja itu.
           Dahulu pada saat dikelas, Paul disapa oleh salah satu temannya yang bernama Fendi. “ Hai ul, gimana tugas sejarahmu buat besok? Sudah selesaikah?.” Paul pun menjawabnya “Belum fen, mungkin nanti semalaman aku tidak tidur untuk mengerjakannya.” Fendik menyambungnya “Loh, emang kamu seminggu ini belum sama skali ul, pake lembur segala.” Paul menjawab  “Iya  fen, beberapa hari ini aku masih fokus sama event yang diadain kampus kita dua minggu lagi.” Si Widya pun menyambung “Owalah ul ul, ngapain kamu repot-repot ngurusi kampus. Kamu jauh-jauh kesini kan mau kuliah bukan ngopeni kampus. Ngapain juga kampus diopeni, belum tentu jasamu ini dibales sama kampus, ya toh?.” “Disini tujuanku memang kuliah, tapi tidak sekedar untuk menjadi mahasiswa biasa. Aku ingin jadi mahasiswa yang berguna dikampus ini. Berpartisipasi mengadakan event itu salah satunya. Dengan itu kan nama kampus kita jadi  tidak asing lagi dimata orang lain.” Pungkas Paul.
           Karena ia merasa setiap sikap yang ia lakukan bertentangan dengan teman-teman sekelasnya. Paul pun mulai mencari kegiatan diluar kampus yang bisa membuatnya mendapatkan teman lain. Saat mendatangi pemeran di GrandCity Mall, Rendra teman luar kampus Paul berkata “Kamu aktif banget ya ul di event-event gini?.” Paul menjawab “Ah nggak juga ren, tapi aku suka aja dateng diacara ginian. Biar update tentang Surabaya gitu hehe.” Rendra menjawab “Oh ya, denger-denger sih ada lomba debat Bahasa Indonesia, menulis essay, sama desain kemasan se-Jawa, Bali dan Kalimantan ul, monggo kalau kamu mau ikutan juga.” Dengan semangatnya Paul menjawab “Gimana cara ikutannya ren???.” Rendra sempat terkaget dan membalasnya “Kamu tinggal dateng aja ke Dinas Kota lalu minta formulirnya ul.”
           Paul pun mengikuti lomba debat dan essay yang diadakan Dinas tersebut. Ia pun mendapatkan juara I tingkat Se-Jawa, Bali, dan Kalimantan pada lomba menulis essay pada saat itu. Saat iya menjadi panitia event yang ia adakan di kampusnya itu pun, ia ditawari oleh bapak Rektor agar menjadi salah satu penulis rutin majalah kampus, sekaligus ketua penerbitannya. Pak Rektor “Kamu Sering ya ikut organisasi seperti ini?.” Paul “hehe iya pak, kebetulan saya suka sekali berorganisasi dan kerja dilapangan pak.” Pak Rektor “Oh.. gitu. Kalau kamu mau, besok kamu datang ke ruangan saya. Saya sedang mencari mahasiswa yang mampu menghandle penerbitan majalah dan penulis-penulis rutin setiap bulannya.” Paul menjawab “Iya baik pak, besok saya akan datang ke ruangan bapak.”
           Pada minggu depannya pun Paul menjadi penulis rutin sekaligus ketua penerbitan majalah kampus tiap bulannya. Disamping aktifitasnya yang padat, ia mampu meraih prestasi akademiknya. Tulisan Paul pernah dipublikasikan di beberapa media cetak maupun elektronik, seperti  opini “Indonesia Masih Hidup” dimuat di JATIM POST 2011, Opini “Politik ala Mahasiswa” dimuat di HARIAN SUARA JATIM 2011.

           Mendengar kabar prestasi yang turut-turut diraih oleh Paul, teman-teman sekelasnya menggelengkan kepala dan mengucapkan selamat kepadanya. Widya “Selamat ya ul, aku minta maaf atas ucapanku beberapa bulan yang lalu.” Fandi “Subhanallah ul, tidak menyangka aku kamu seberhasil ini. Bagaimana kamu bisa membagi waktu antara kuliah dan aktivitas-aktivitasmu itu?.” Paul pun menjawab “Aku sudah memaafkanmu dari dulu kok wid, terimakasih teman-teman. Semua yang saya dapatkan ini adalah semata-mata karena izinNya dan doa  yang dipanjatkan ibuku disepertiga malamnya. Semoga saja apa yang aku lakukan ini bermanfaat dan membuat ibuku bangga kepadaku.” 

No comments:

Post a Comment