Akulah Sang Kartini Muda Mu - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 21 April 2015

Akulah Sang Kartini Muda Mu



“Tidak, jangan masukkan beliau dalam tanah itu,” masih terngiang-ngiang kalimat itu dalam pikiran ini, tatkala ku ingat kejadian beberapa tahun silam, sekitar 10 tahun yang lalu. Dimana ku masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) tetapi sang ibunda pergi meninggalkan ku untuk selamanya.
            Setelah lulus dari bangku SD, amanah bunda tetap aku pertimbangkan. Beliau berharap aku akan melanjutkan sekolah di pondok pesantren. Benar, itu salah satu didikan orang tuaku, anak mereka harus merasakan duduk di bangku pesantren.  “Shifa  tetap harus melanjutkan sekolah di bangku pesantren,” tegas kakak pertama ku. Ya, aku mempunyai lima orang kakak, dan merekalah yang menggantikan posisi orang tuaku saat itu.
            Dengan berat hati ku terima tawaran itu, semuanya aku lakukan hanya untuk memenuhi janjiku pada bunda. Tidak ku temukan semangat selama hidup dalam pesantren, ditambah ayah yang memilih untuk menikah lagi. Lengkap sudah, rasanya hidupku seolah tak berarti lagi. “Bunda, kenapa kau tinggalkan Shifa sekecil ini?” Gumamku dalam hati meratapi kesedihanku yang tak kunjung berakhir. Semua itu berdampak pada kepribadianku, aku lebih suka menyendiri.
            Lambat laun aku mulai terbiasa dengan suasana seperti ini. Dalam kesendirian, yang ku lakukan dalam penjara suci semata hanya memenuhi janji ku pada bunda, semua permintaan yang dimintanya nyaris tidak pernah ku langgar. Berbeda ketika sekolah, aku hanya datang untuk memenuhi kewajiban dan pulang tanpa membawa ilmu apapun.
            Namun pola hidupku berubah setelah mendapat masukan dari kakak pertamaku, yang aku yakini bahwa itu adalah hidayah dari Rabbul Izzati. “Sudah besar, pasti bisa membedakan benar dan salah. Semua keluarga percaya adik Shifa sedang menimba ilmu dengan sungguh-sungguh,” ujarnya. Nyaris tak berkata apapun, malu, sedih semua berkecamuk menjadi satu, sungguh hina diri ini dihadapanmu ya Rabb.
            Setelah kejadian itu, yang aku pikirkan hanyalah bagaimana aku bisa menjadi anak yang dapat diandalkan dan membanggakan keluarga. Terkadang aku sering merasa iri dengan teman sebayaku, yang masih bisa merasakan pelukan hangat dari bunda mereka. Bersyukurnya aku yang masih mempunyai ayah dan kakak yang memperhatikan perkembanganku. Ayah tetaplah ayah, meskipun ayah telah menikah namun beliau tetap mendidikku.
Aku menyelesaikan sekolah SMP-SMA di pesantren, namun semua itu tidak menghalangi langkahku untuk menjadi seorang anak yang bisa membahagiakan keluarga dan bisa mengangkat derajat keluarga. Aku putuskan untuk melanjutkan sekolahku di Perguruan Tinggi. Yah Alhamdulillah semua berjalan sesuai rencana, akhirnya aku bisa duduk di bangku Kuliah. Walau usaha dan upaya sangat keras terlebih untuk meyakinkan keluargaku, bahwa aku bisa merubah latar belakang keluarga yang terbilang bukanlah keluarga berpendidikan tinggi.
Namun tekatku untuk merubah garis keturunan keluarga pun berhasil, semasa kuliah tidak ku biarkan waktuku terbuang percuma. Aku ikuti perkuliahan dengan baik ditambah menjadi seorang aktivis kampus. Yah berbekal semua itu, setelah lulus kuliah aku langsung bekerja sebagai sekertaris di sebuah perusahaan. Sehingga keponakanku yang pola pikirnya mengikuti pola pikir orang tuanya, mulai tertarik dengan duniaku sekarang dan melanjutkan langkahku.
Hingga akhirnya banyak ditemukan orang-orang hebat yang lahir dari keluargaku. Banyak orang yang menyanjungku. “Shifa kau orang yang hebat, karena bisa melahirkan banyak orang sukses,” ujar teman-temanku. Namun bagi ku bukan akulah orang yang hebat itu, orang hebat yang sesungguhnya adalah orang tuaku. Karena mereka berhasil mendidik dan melahirkan aku yang sukses ini.

Padamu bunda, aku penuhi janjiku bahwa aku bisa menjadi seorang kartini dimasaku. Dengan keyakinan tanggal lahir yang sama dengan pahlawan wanita RA Kartini (21 april), akan menjadikan aku hebat sepertinya. Terima kasih untuk orang tuaku, yang berhasil menjadikan ku seperti sekarang ini. Akulah Shifa Ramadhani-mu sang Kartini Muda yang berhasil menjadi pahlawan wanita di hati mereka.