Berani Dikritik, Siap Dikritik - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 21 April 2015

Berani Dikritik, Siap Dikritik


Meskipun semua pemberitaan Ara Aita bersifat mengkritik, namun ia juga terbuka untuk menerima kritikan dari para pembacanya dengan segala pertimbangan.

  Ara Aita dalam perjalanannya masih konsisten untuk selalu mengkritisi kebijakan yang diterapkan di kampus. Ditengah harlahnya ke 33 ini, Ara Aita justru mendapat kritikan dari para pembacanya.Terutama mengenai isi berita yang disajikan, telah banyak masukan yang telah disumbangkan. Salah satunya adalah tentang tema-tema yang diangkat, berbagai kalangan telah mengatakan bahwa berita yang disinggung selalu negatif. Padahal juga banyak nilai positif yang terkandung dalam kampus. “Dimana nilai baiknya, masak semua yang ada didalam kampus itu buruk”, Ungkap Huda selaku wakil rektor III. Namun, selain itu ia juga menyarankan agar berita yang disajikan itu lebih inspiratif dan porsi berita yang disajikan juga lebih bersifat akademik. Karena Ara Aita adalah media dalam naungan kampus.
Dalam lingkup itu media juga dikaitkan dengan pemikiran (mindside) masyarakat. Dimana media juga turut berperan dalam perkembangan perilaku masyarakat. Jika yang diberikan berita yang buruk-buruk saja, maka masyarakat juga akan terkontaminasi dan meyakini bahwa bangsa ini buruk. Dan malah berita yang positif itu terkubur oleh isue-isue yang negatif. “Lantas bagaimana perkembangan pola pikir mahasiswa, kalau berita-berita yang buruk sering menghantui benaknya. Kalau seperti itu, menjadikan mahasiswa tidak yakin dengan kampusnya sendiri”, tambahnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Suhartini selaku Dekan Fakultas Dakwah. Dimana tendensi pemberitaanya meranah pada kebijakan yang melenceng. “Berita yang disajiakan tidak balance, antara realita dan penjelasannya tidak sinkron. Harusnya semua pertanyaan mahasiswa bisa dijawab dalam berita itu”, ungkapnya.  Fakultas tidak perlu dibela, tidak usah membagus-baguskan fakultas. Cukup tulis apa adanya saja, dan beritanya agar dikemas lebih bagus lagi”, tambahnya.
Selain itu beliau juga mengapresiasi Ara Aita, bahwa bentuk pertanggungg jawaban financial sudah nampak jelas. Dengan konsistensi terbitan buletin, majalah, ataupun jurnal. Dalam pembelajaran crew magang juga sudah bagus, dengan bukti bahwa terbitan new news yang sekarang lebih bagus dari sebelumnya. “ ini sudah bagus, dari pada majalah Ara Aita yang dulu banyak salah dari segi keredaksiaannya”, jelasnya. Beliau mempertegas bahwa rubrik yang berlingkup pengetahuan seperti esay dan yang bersifat lucu seperti cerpen itu sudah bagus. Akan tetapi yang bersifat hangat seperti berita, masih perlu pembenahan.
Dalam hal ini mahasiswa juga memberikan kontribusinya kepada Ara Aita. Dari pengamatan mereka, didapati bahwa pemberitaan Ara Aita itu bersifat kaku. Dalam arti bahwa  isue-isue yang disajiakan selalu itu-itu saja, menuntut kebijakan dari birokrat. Sedangkan dari segi kepenulisannya juga dikritik agar menambahkankata “pak” atau “bu” ketika menyebutkan nama dosen  dalam kutipannya.  “Kalau mencantumkan nama dosen lebih sopan lagi, pakai awalan. Jangan langsung sebut nama”, ujar Zawil mahasiswa Prodi PMI. Namun dari  kami juga memberikan penjelaskan bahwa Ara Aita itu lembaga independen yang berdiri sendiri (tidak memihak kepada siapa pun). Dimana teknik penulisan nama dalam kutipan itu tidak mencantumkan gelar atau sebutan penghormatan baik pak, bu atau pun yang lainnya. Dan untuk mengimplementasikan hal itu, Ara Aita tetap berpegang teguh pada pondasinya. 
Ia juga menambahkan agar mengemas tulisan lebih menarik dan membuat pembacanya penasaran, agar peminat baca juga banyak.Disisi lain  jenis font yang digunakan dalam penulisan new news juga dipermasalahkan.“Mungkin fontnya bisa diganti dengan yang lebih enak dilihat, karena saya rasa font yang sekarang kalau dibaca bikin pusing atau terlalu resmi.”, ungkap mahasiswa yang berlangganan new news itu. Sedangkan untuk hal itu masih kami pertimbangan.