Berjuang Demi Bangsa Bukanlah Hal Segalanya - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 22 April 2015

Berjuang Demi Bangsa Bukanlah Hal Segalanya


            Indonesia memiliki seorang tokoh pejuang yang berperan penting dalam memperebutkan kemerdekaan Indonesia. Dengan gagasan dan pemikiran-pemikirannya, ia berjuang untuk melepaskan Indonesia dari belenggu penjajahan. Tokoh pejuang tersebut dikenal dengan Tan Malaka.  Nama aslinya, Ibrahim. Ia mendapat gelar Datuk Tan Malaka, dilahirkan di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat pada tanggal 2 Juni 1897. Ia merupakan tokoh pejuang Indonesia yang berperan penting dalam memperebutkan kemerdekaan Indonesia.
            Ketika perjuangan dan perlawanan Indonesia mengalami kemunduran dan kelumpuhan bertahun-tahun yang diakibatkan oleh ditangkapnya ribuan pejuang politik oleh penjajah Belanda, Tan Malaka tengah berada di luar negeri, tepatnya di Ibukota Thailand, Bangkok pada Juni 1927 bersama Subakat, Djamaluddin Tamin, dan kawan-kawannya yang lain. Di sanalah Tan Malaka menyatakan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI), lengkap dengan Manifesto PARI yang memiliki gambaran tentang analisa, program, strategi taktis dan organisasi serta mode kerja untuk
mencapai Republik Indonesia di masa depan.
            Banyak gagasan-gagasan dan pemikiran yang ia tuangkan dalam karya tulisnya. Karya pertamanya berjudul “Tanah Orang Miskin” yang dimuat di Het Vrije Wourd edisi Maret 1920, berisi tentang perbedaan mencolok antara kaum kapitalis dan kaum pekerja dalam hal kekayaan. Semua karya Tan Malaka di latar belakangi oleh keadaan rakyat Indonesia pada masa itu. Itulah mengapa karya-karyanya memiliki ciri khas Indonesia-sentris.
            Tan Malaka memiliki ciri khas dalam gagasan-gagasan dan pemikirannya, yaitu, berpikir ilmiah berdasarkan ilmu pengetahuan, bersifat Indonesia-sentris, memprediksi ke depan atau futuristik, dan orisinal, mandiri, konsekuen dan konsisten. Salah satu karya yang memperkenalkan bangsa Indonesia untuk berpikir ilmiah adalah karya besarnya dengan judul “Madilog”. Sementara itu, karyanya yang lain mengenai situasi dan kondisi bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda, kebudayaan serta sejarahnya merupakan bagian dari Indonesia-sentris. Ia telah mencetuskan gagasannya mengenai strategi untuk mencapai kemerdekaan Indonesia pada tahun 1925 lewat karyanya yang berjudul “Menuju Republik Indonesia”, 20 tahun sebelum Indonesia merdeka. Hal itulah yang dimaksud dengan gagasannya yang bersifat futuristik. Ia adalah pelopor yang membentuk Persatuan Perjuangan dengan 7 Pasal Minimum Programnya di Purwokerto, Jawa Tengah. Dengan menggabungkan 142 organisasi partai politik, kelaskaran, pemuda, wanita dan lain-lain guna menentang kebijakan politik diplomasi perundingan pemerintah dengan Belanda tanpa syarat.
            Tan Malaka beserta pimpinan Persatuan Perjuangan ditangkap dalam provokasi peristiwa 3 Juli 1946, namun ia tidak pernah diadili selama dua setengah tahun. Ia baru dibebaskan dari penjara pada September 1948 setelah terjadinya pemberontakan Front Demokrasi Rakyat Partai Komunis Indonesia (FDR/PKI) di Madiun. Pada saat itu Indonesia tengah berada dalam kondisi yang parah karena perjanjian Linggarjati dan perjanjian Renville 1948. Lalu, pada 7 November 1948 Tan Malaka membentuk Partai Murba di Yogyakarta. Partai Murba merupakan perpaduan antara Partai Rakyat, Partai Buruh Merdeka, dan Partai Rakyat Jelata. Rencananya akan diadakan Kongres Rakyat pada Desember 1948 untuk menyatukan kekuatan dalam melawan Belanda. Namun, tidak lama setelah terbentuknya Partai Murba, Tan Malaka gugur dalam perjuangan Gerilya Pembela Proklamasi di Phetok, Kediri Jawa Timur.

            Akhirnya, Tan Malaka dibebaskan dari tuduhan merencanakan kudeta atau peristiwa 3 Juli 1946. Karena pada kenyataannya hal itu hanyalah provokasi dari penguasa pada waktu itu. Oleh karena itu, pada 4 Oktober 1948 Pengadilan Tinggi daerah Jawa Tengah menguatkan yang telah ditegaskan oleh ketua Pengadilan Negeri Surakarta pada tanggal 15 September 1948, no. 643 yang isinya: (a) apa yang disebut “percobaan Tan Malaka dkk untuk merebut kekuasaan RI” itu tidak terbukti dan (b) terhadap Tan Malaka dkk tidak ada alasan yang cukup untuk penuntutan (250, ayat 3 H.I.R.). Seperti itulah isi dokumen resmi yang mengklarifikasi kebenaran peristiwa 3 Juli 1946. Atas perjuangan dan keberaniannya dalam memperjuangkan kemerdekaan, pada tanggal 8 Maret 1963 Presiden Soekarno menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.