Birokrat Tirikan Anak Sendiri - Araaita.com

Breaking News

Monday, 20 April 2015

Birokrat Tirikan Anak Sendiri

Secara tidak langsung, pihak birokrat seharusnya memberikan senyatanya perhatian kepada organisasi yang bernaung didalamnya. Mengetahui apa-apa yang menjadi kebutuhan dan perkembangannya serta memosisikan mereka dengan posisi yang selayaknya.
Surabaya __Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) yang didalamnya banyak organisasi ekstra yang bernaung, baik Unit Kegiatan Mahasiswa/Khusus (UKM/UKK) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa dan Musyawarah Senat Mahasiswa-Universitas/Fakultas (DEMA/MUSEMA-U/F). Bagi kampus yang mempunyai organisasi didalamnya  seyogyanya pihak birokrat dapat menjadi orang tua, dalam artian pihak birokrat benar-benar memantau setiap perkembangan baik dalam segi intelektual, spiritual juga emosional dari anak-anaknya.
Pasalnya, pihak birokrat yang ada di UINSA tidak memberikan perhatian secara khusus layaknya orang tua. Banyak ditemukan UKM/UKK serta DEMA/MUSEMA-U/F yang seakan tidak mendapat perhatian secara khusus dari pihak birokrat. Mulai dari kegiatan, ke-eksistensian baik aktivitasnya pun  pihak birokrat tidak mengetahui keseluruhan apa-apa yang ada pada setiap organisasi yang ada.
Sebagaimana ditemukannya keluhan dari salah satu mahasiswa semester II yang menjadi aktivis UKM Teater Suaini,  sebut saja RA (nama inisial) yang merasa bahwa keanehan terjadi pada UKM Teater Sua milik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) ketika mendapat kebijakan mengenai sanggar. Dia menjelaskan bahwa sanggar yang dimiliki Teater Sua tepatnya  dibelakang fakultas itu dirobohkan oleh pihak birokrat. Padahal dulunya lahan tersebut tidak terawat yang akhirnya dikelolah UKM-nya menjadi sebuah sanggar. “Sanggar yang dipertahankan sekarang benar-benar ratah oleh tanah,” jelas aktivis UKM SUA itu.
RA menambahkan bahwa alasan yang dipaparkan pihak birokrat dirasa tidak rasional. Dirobohkannya sanggar sua itu dengan alasan akan dijadikan parkir, padahal menurutnya dengan lahan sempit dengan jalur keluar masuk semacam itu tidak mungkin bisa dijadikan sebuah parkiran, pihak birokrat tidak melihat nasip UKM-nya kedepan. “Sanggar dirobohkan, katanya mau dijadikan parkir,” pungkas mahasiswi Ilmu Komunikasi ini dengan menggeleng-geleng.
Mengacu pada hal diatas, hal senada juga dialami DEMA-U. Dulunya kantor DEMA-U terletak di gang gepuk namun sekarang DEMA-U tak memiliki kantor. Kontrakan yang dijadikan kantor oleh pihak birokrat malah diberikan kepada Penerimaan Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB), dalam artian DEMA-U harus mengalah dengan memberikan kantornya pada orang lain. Lambung selaku presiden universitas memaparkan bahwa semua ini dirasa aneh, demi PBSB maka DEMA-U menjadi tidak memiliki kantor. “DEMA-U tidak mempunyai kantor karena diberikan pada PBSB,” pungkasnya saat diwawancarai Cr  ew New News (08/04) minggu lalu.

Ali Mufrodi selaku Wakil Rektor III yang menangani masalah kemahasiswaan menanggapi hal diatas, dia mengatakan bahwa tidak ada perbedaan untuk setiap UKM/UKK juga organisasi (ekstra) apapun, apalagi mengenai tempat semua untuk kebaikan bersama. Dia juga menambahkan mengenai bascame untuk semua UKM/UKK serta organisasi, bahwa salah satu proyek dalam pembangunan twin tower yang ada dikampus itu juga untuk penyediaan bascame. “Tidak ada yang diistimewakan, semua ini untuk kebaikan bersama,” pungkas pria bertubuh tegap itu (10/04).