Dosen atau SKS yang tentukan ke-efektifan kelas? - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

Dosen atau SKS yang tentukan ke-efektifan kelas?

Semua yang terjadi didalam kelas, baik simpang siur mahasiswa, hingga ketidak efektifan didalamnya dirasa berpacu pada dosen dan metode yang diberikannya.
Banyak kebijakan yang diberikan oleh pihak Fakultas Dakwah dan Komunikasi kepada mahasiswanya, salah satunya mengenai kebijakan penggambilan mata kuliah disetiap semesternya. Mahasiswa boleh mengambil bobot Mata Kuliah (biasa disebut SKS) sesuai dengan Indek Prestasi Komulatif (IPK) semester lalunya. Bagi mahasiswa yang IPK-nya tinggi, bisa mengambil Mata Kuliah semester atasnya, dengan syarat Mata Kuliah wajib pada semesternya telah diambilnya. Namun pengambilan Mata Kuliah lebih itu harus sesuai dengan standart SKS yang bisa diambilnya. Kebijakan pengambilan SKS untuk setiap mahasiswa ditentukan oleh pihak Fakultas, mulai dari 2 SKS, 3 hingga 4 SKS. Semua itu sesuai dengan bobot setiap Mata Kuliah.
Imas Maesaroh menjelaskan mengenai tujuan setiap Mata Kuliah dan kadar SKS-nya. Bahwa setiap Mata Kuliah yang ada dan sudah masuk dalam kurikulum itu pastilah Mata Kuliah yang memang dibutuhkan dan harus diambil mahasiswa. Untuk Mata Kuliah yang bobotnya lebih seperti 4 SKS, pihak fakultas memberi waktu lebih agar mahasiswa dapat memahami, menguasai dan mengaplikasikannya. Karena memang bobot setiap Mata Kuliah itu berbeda-beda. “Semua itu tergantung bobot Mata Kuliah-nya,” jelas Wakil Dekan II itu.
Perihal ke-efektifan di setiap pertemuan perkuliah, Imas menanggapi bahwa semua itu diluar kuasanya. Namun jika ditemukan dampak negatif di setiap pertemuanya seperti mahasiswa mengantuk (bahkan tidur) dan dosen terlambat masuk kelas (bahkan keluar sebelum waktunya), maka perlu ada laporan dari pihak yang bersangkutan, baik dari mahasiswa ataupun dosen terkait hal tersebut. Agar segera ditindak lanjuti. “Pihak yang bersangkutan harus segera melaporkan hal ini,” tegasnya saat ditemui crew new-news (27/03).
Sebagaimana permasalahan diatas, Nur Halima mahasiswi Ilmu Komunikasi membenarkan adanya dampak negatif dari ketidak efektifan dalam pembelajaran terlebih pada Mata Kuliah yang 4 SKS. Dia merasa antara dosen dan mahasiswa sama-sama bosan, sehingga suasana kelas semakin tidak kondusif. Bahkan mahasiswa dan dosen sama-sama sibuk dengan kesibukan masing-masing, teman yang menjadi pemateri tidak dihiraukan apalagi jika dosen yang mengajar menggunakan metode dongeng. “Suasana benar-benar tidak mendukung,” ujar mahasiswi semester II ini.
Berbeda dengan yang dikatakan Nur Halima dengan pemaparan dari mahasiswi yang biasa dipanggil Richa ini. Dia memaparkan bahwa di kelasnya semua sama saja, tidak ada permasalahan seputar dampak negatif baik 2 atau 4 SKS sekalipun. Namun Richa tidak menutup kemungkinan bahwa dampak negatif juga akan dirasakannya, karena pada masa sekarang dosen pengampuhnya masih menerangkan prolog-prolog terkait Mata Kuliah-nya. “Sejauh ini tidak ada masalah, karena dosen masih menerangkan silabusnya,” papar mahasiswi Program Studi (Prodi) Bimbingan Konseling Islam.

Hal diatas terlingkup pada pendapat yang dikatakan Wachdatus Sholihah Prodi Manajemen Dakwah, yang mengatakan bahwa setiap pertemuan mempunyai corak yang berbeda-beda. Tidak memandang berapa SKS yang  sedang dijalani, hal yang berpengaruh dan menjadi acuan timbulnya ke-efektifan dalam kelas terletak pada dosen metode dan materi yang diberikannya. Dia menyimpulkan bahwa letak ke-efektifan dalam kelas lebih besar tergantung dari setiap dosennya.  “Dosen sangat berpengaruh,” simpul mahasiswa dari lamongan ini. 

No comments:

Post a Comment