Jalan yang terang pasti ada - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

Jalan yang terang pasti ada


Hari tepat menunjukkan pukul 10 siang. Dari kejauhan, terlihat sesosok gadis berdiri di dekat jendela kamarnya dengan pandangan yang kosong. Pikirannnya mengarah pada satu bulan sebelumnya, 13 juli lalu hasil dari usahanya untuk  mendaftarkan diri di pergguruan tinngi yang diinginkannya telah membuahkan hasil yang mengecewakan untuknya.
''Tok..tok..tokk..Shila Shila,'' terdengar suara lembut seorang wanita paruh baya dari balik pintu kamar. Namun shila masih tampak mematung tanpa geming, tak menjawab dan bahkan mengabaikan sumber suara. Ia tetap terdiam menahan kemarahannya, matanya sayu dengan tatapan kosong menandakan kesedihan yang teramat dalam di hatinya.
Wanita yang telah lama berada dibalik pintu itu pun akhirnya masuk kekamarnya. ''Shila, kenapa gak jawab panggilan Ibu? Sudah siang kamu makanlah dahuulu,” bujuk Ibu Shila. Namun masih dengan mata yang penuh kesedihan, sekilas ia memandang Ibunya dan berkata ''aku belum lapar bu.''
Ibunya yang mendengar jawaban Shila yang seperti itu pun tak kuat hati, kemudian mendekat lantas membelainya dengan halus, ''Ibu tau kamu kecewa tapi bukan seperti ini caranya kamu bersikap, kamu memang telah gagal dengan pilihanmu, tapi kamu  harus yakin bahwa kamu akan menemukan pilihan yang lebih baik,'' Kata itu melantun lembut dari bibir sang Ibu.
Mendengarnya, Shila tak lagi kuat menahan emosi dalam dirinya hingga emosi itu meluap menjadi butiran air mata. Tak tahan melihat putri kesayangannya bersikap seperti itu, sang Ibu pun berjalan keluar, dan meneteskan air mata pula. Kemudian sang Ibu kembali ke kamar Shila dengan membawakan nasi agar Shila mau memakannya. ''Shila ini makan dulu,'' seru Ibunya. Dan kemudian Ibunya pun pergi meninggalkannya karena memang masih banyak yang harus dikerjakan.
Sedangkan Shila masih terdiam dan membisu menyimpan kekecewaan yang terus mengerogoti hatinya. Sekilas ia memandang kearah nasi yang dibawakan Ibunya, namun ia tetap diam dan tak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Setelah lama kemudian ia pun merasakan  kesedihan Ibunya karena melihatnya tak lagi memiliki semangat. Akhirnya Shila pun beranjak dari tempatnya kemudian ia mengambil dan memakan nasi yang telah dingin itu.
Hampir satu bulan sudah sikap Shila tak berubah. Masih terus diam dan diam dalam kesunyian hatinya. Kekecewaannya yang mendalam itu membuat ia tak lagi bersemangat untuk meraih cita-citanya lagi. Ibu dan bapaknya hanya bisa bersedih dengan keadaan Shila yang seperti itu. Mereka hampir menyerah karena tak satupun nasehat mereka didengar oleh Shila.
            Kegelapan itu terus menyelimuti hati Shila. Hingga suatu ketika mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur`an dalam kesunyian malam, lantunan ayat-ayat itu terdengar merdu dari kamar orang tuanya, ia pun mulai mendekat kepada asal suara, dan semakin lama ia mendengarkan ayat-ayat suci itu memberi kedamaian dihatinya, hingga ia tersadar ia telah salah atas kemarahannya kepada tuhan yang menurutnya sempat mengecewakan dirinya.
Malam semakin larut. Ia pun mencoba berfikir dengan tenang, hatinya kini mulai tergerak untuk membawa tubuhnya berwudhu dan bersujud kepada yang maha kuasa. Semakin lama ia bersujud tetesan air matanya mengalir semakin deras. Ia mencurahkan segala isi hatinya kepada tuhannya. Setelah itu ia mencoba untuk mengaji. Lantunan ayat-ayat indah itu semakin membawanya pada ketenangan jiwa hingga tak terasa telah hampir 1 jus ia membaca mushaf Al-Qur'an itu. Dan akhirnya ketenangan jiwa itu mampu membawanya tertidur dengan nyaman.
            Keesokan harinya Shila dengan hati yang tenang menemui Ibu dan Bapaknya, seperti mendapatkan semangatnya kembali “bu pak, Shila masih mau kuliah meskipun bukan dibidang yang Shila inginkan,” kata Shila meminta kepada orang tuanya. Perkataan itupun terdengar seperti siraman kehidupan yang memecahkan keheningan diantara mereka. Tawa-tawa kecil dan senyum kebahagiaan hadir kembali dalam keluarg kecil itu.
Siang itu pun menjadi siang yang penuh keindahan bagi keluarga Shila. Masa-masa kuliah pun ia jalani dengan ikhlas dan sabar hingga akhirnya ia dapat lulus dengan nilai terbaik diantara wisudawan yang lainnya dan ia pun langsung mendapat pekerjaan. Ia pun tersadar bahwa tuhan akan selalu menunjukan jalan yang terbaik untuk hambanya.



No comments:

Post a Comment