Kami Bisa Tumbuh Dan Berkembang - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 21 April 2015

Kami Bisa Tumbuh Dan Berkembang


Menjadi mahasiswa itu susah susah gampang. Tidak sama halnya seperti anak kuliahan yang diceritakan pada FTV yang selalu diputar di televisi pada umumnya. Yang hanya sekedar kuliah- hangout- kuliah- hangout. Siklus yang hanya seperti itu saja setiap harinya dengan sedikit kata-kata tugas yang membubui. Menikmati dunia luar dengan penuh semangat dan bersenang-senang, dengan polosnya mengikuti gejolak muda yang haus akan pertualangan dan kebebasan berekspresi.  Sebab ketika menyandang gelar mahasiswa, maka banyak opini yang melekat pada diri ini, mulai Positif sampai yang negatif membaur menjadi satu dalam pandangan masyarakat. Namun apakah permasalahan mahasiswa di zaman ini hanya sebatas dan seringan kulit kacang? Tentu lain ladang lain ilalang. Setiap mahasiswa menghadapi permasalahan yang berbeda disetiap tempat dimana ia mengenyam pendidikan.
Sebagai mahasiswa UINSA yang baru-baru saja bertransformasi dari IAIN, sedikit banyak  merasakan berbagai macam problematika dan lika-liku mahasiswa yang sebenarnya di dunia nyata. Pernyataan yang mengatakan bahwa kampus dimana mahasiswa biasa melakukan pekerjaan utamanya merupakan miniatur dari negara terasa benar adanya. Dimana polemik dan intrik yang melekat pada setiap lapisan strukturnya selalu terjadi dan berpotensi mustahil terhindarkan. Baik dari birokrasi kepada mahasiswa maupun antar sesama mahasiswa, hampir semuanya pernah berada dalam ketegangan dalam satu masa.
Beberapa minggu yang lalu, saya pernah mendengar pertanyaan sederhana yang sedikit menggelitik saya. “apakah anda tau dimana letak kantor DEMA UIN?” saya terdiam, dalam hati saya mulai bertanya-tanya. Mengaku dan ingin jadi organisatoris kampus, namun pertanyaan sepele seperti ini saja saya mesti termenung dan terdiam. Itu tamparan pertama. Dan belum dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang membatin dan tidak kalah membuat saya bertanya-tanya. Mulai dari kabar burung yang mengatakan beberapa UKM dan UKK yang terancam tidak memiliki basecamp, hingga DEMA yang hingga kini belum menemukan tempat tetapnya untuk bekerja. Sebenarnya, bagaimana peran organisatoris yang tergabung dalam Unit Kegiatan Kampus (UKK) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ini bagi kampus kita? sejauh mana perhatian yang birokrasi kampus kita berikan? dan yang paling vital menurut saya adalah seberapa erat ikatan yang sudah terjalin antara birokrasi dan mahasiswa ? karena  sepahamnya dua komponen ini akan mewujudkan banyak kebijakan besar yang bisa memuaskan kedua belah pihak.
Orang bilang mahasiswa itu sebaik motorik, sebagian lagi mengatakan bahwa mahasiswa itu sebagai aktor perubahan. Jika kampus diibaratakan sebagai miniatur negara, maka birokrasi dan mahasiswa ialah hukum dan masyarakatnya. Suatu negara dikatakan kaya berdasarkan sumber daya manusianya, bukan pada sumber daya alamnya. Jadi bisa dikatakan produktifitas masyarakat suatu negara sangat menetukan dan berpengaruh di dalamnya. Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa, setiap kegiatan mahasiswa di dalam maupun luar kampus yang bersifat konstruktif sangatlah menentukan prestasi dan citra kampus, yang harusnya didukung penuh tanpa potongan.
 Masalahnya eksistensi setiap UKM maupun UKK itu sendiri berbeda-beda. Ada yang sangat menonjol, setengah-setengah, hingga tidak bersuara. Dari sini munculah perhatian dan apresiasi yang berbeda–beda dari kampus. Seperti halnya orang tua yang hanya memberi hadiah besar pada anaknya yang berprestasi. Lalu sebagian lainnya hanya diberi uang jajan tanpa memperhatikan apapun yang dimakan oleh anaknya, hingga tidak terdeteksi baik buruknya untuk anak tersebut. Seperti itulah relasi yang terlihat dari kacamata saya.
Kalah dari segi otoritas bukanlah persoalan. Mahasiwa tidak meminta, mereka mencari. Jika sebuah bibit pohon ditanam tanpa pemupukan dan pengairan yang cukup, akarnya akan merambat kebawah tanah untuk mendapatkan sumber asupan air, begitu seterusnya sampai akarnya merambah kesegala penjuru sampai pohon itu mampu tumbuh tinggi dan dapat dilihat banyak orang, Hingga ia bermanfaat bagi siapa saja yang berteduh dibawah dedaunan rindangnya. Begitulah mahasiswa idealnya. Tingkat kematangan yang sempurna untuk mencapai semua proses rumit, itulah ciri-ciri mahasiswa. Karena pada dasarnya, beberapa fase dalam dunia perkuliahan inilah yang nantinya sedikit banyak akan memberikan kita bekal untuk berbaur dalam kompleksnya masyarakat. Dan harusnya banyak memberikan kontribusi pada negara. Sehingga apapun yang kita butuhkan namun tidak cocok ataupun tidak ada di depan kita, kita tidak berhenti untuk terus mencari, tumbuh, dan tetap berkembang.
Jika kita tidak bisa menyuarakan aspirasi mahasiswa sendiri kepada birokrasi kampus,  bagaimana mungkin kita bisa menjadi aktor perubahan? Bahkan untuk menjadi masyarakat yang produktif di kampus kita sendiri. Sudahkah kita suarakan semua vokal yang ada? Sudahkah kita perjuangkan setiap hak yang harusnya kita dapatkan? Talk less do more.