KEM Berbusana Tentukan ketegasan bagi Mahasiswa - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

KEM Berbusana Tentukan ketegasan bagi Mahasiswa


Ketegasan Kode Etik Mahasiswa dalam berbusana sedang mengalami rehabilitas yang belum di ketahui tindak lanjutannya. Semua itu mengakibatkan peraturan yang ada tidak bisa berjalan se maksimal mungkin.

Tidak adanya keseimbangan antara mahasiswa dan para jajaran dosen dalam lingkup mensukseskan peraturan yang ada seakan tampak sia-sia, jika hanya satu atau dua orang saja yang menyadari pentingnya kesuksesan bersama. Sebagaimana ketegasan atas adanya peraturan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi pun mulai di pertanyakan. Masih banyak Kode Etik Mahasiswa (KEM) yang tidak ada tindak lanjutannya. Seperti Kode Etik bab V pasal 7 dalam etika berbusana masyarakat kampus.
            Ketegasan dan penindak lanjutan untuk KEM berbusana tidak muncul hingga awal semester genap ini. Hasil Deklarasi bahwa Fakultas Dakwah anti pakaian ketat pada bulan 28 Oktober lalu seakan tidak berarti apa-apa, banyak ditemukan mahasiswa yang masih mengenakan busana tidak sesuai KEM. Padahal ketika memasuki area Fakultas Dakwah sudah terpampang jelas adanya papan beaner, himbauan untuk  mewaspadai busana masyarakat kampus.
            Inay mahasiswi komunikasi semester dua itu (nama samaran), memaparkan bahwa seiring berjalannya waktu ternyata mahasiswa dakwah sudah semakin membaik dalam berbusana meski masih ada mahasiswa yang busananya tidak sesuai KEM, namun sudah banyak ditemui mahasiswa yang mematuhi peraturan yang ada. “Banyak kemajuan dalam bebusana, sepertinya mahasiswa sudah sadar dengan sendirinya akan KEM berbusana,” papar mahasiswi asal Tuban itu.
Kemajuan yang sudah meningkat tidak menutup harapan inay untuk kemajuan fakultas-nya. Dia juga menambahkan bahwa ketegasan secara konkret akan sanksi untuk pelanggar KEM seharusnya juga ada. Dia sangat menyayangkan jika semua peraturan tidak di pertegas dan di biarkan begitu saja. “KEM harus tetap ada penindak lanjutannya, peraturan yang ada jika tidak di dipertegas itu sayang,” tambahnya.
Berbeda dengan paparan inay, mahasiswa yang masih sering memakai busana kurang islami ini sebut saja UUL (nama samaran) mengomentari KEM busana yang ada. Dia menyatakan bahwa perubahan berbusana mahasiswa tidak dapat di paksakan, dia merasa lebih nyaman dan enjoy dengan busananya itu. Namun uul tidak menutup kemungkinan jika dirinya juga sering memakai busana yang sesuai dengan KEM, akan tetapi semua itu lagi-lagi tergantung kenyamanannya. “Saya berbusana apa adanya, selagi saya rasa busana ini pantas di buat ke kampus maka saya akan tetap memakainya,” tanggap uul saat ditemui crew new news.
Selain itu uul juga menambahkan bahwa busana yang dia pakai dirasa lebih baik adanya walau ketat dari pada memakai pakaian yang tertutup tapi transparan, seperti meksi bahan sifon contohnya. “Mending langsung celanaan gini, yang memang menutupi dari pada menutupi tapi transparan sama saja keliatan kan klo gitu,” tambah mahasiswi ini.

Menanggapi permasalahan di atas, Suhartini selaku Dekan memberi ketegasan bahwa KEM akan terus di tingkatkan, sesuai dengan kemajuan dan kemunduran mahasiswanya. Seperti teguran yang banyak di berikan kepada mahasiswa yang masih melanggar etika berbusana, namun dia menyadari bahwasannya teguran saja tidak cukup untuk merubah mahasiswanya. Suhartini menegaskan suatu saat pasti ada hokum konkret bagi pelanggarnya. “Hukum konkret untuk pelanggar pasti akan ada, namun semua itu masih membutuhkan penelitian terhadap perkembangan mahasiswa sendiri,” tanggap satu-satunya Dekan wanita di Fakultas Dakwah itu.
Dekan pun menambahkan bahwa pernah ada teguran yang diluncurkan oleh Imas Maysaroh selaku Wakil Dekan I terhadap mahasiswi yang mengenakan busana tidak sesuai dengan KEM seorang mahasiswa. Imas menegurnya agar besok tidak kembali memakai pakaian yang di kenakannya saat itu, kalau tidak mematuhi dia tidak boleh masuk kuliah. “Besok jangan mengenakan busana seperti ini lagi, klo tidak di rubah maka besok tidak usah masuk kelas saja,” tegur wanita berkulit kuning itu.

No comments:

Post a Comment