Keringat dan Dilema - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 21 April 2015

Keringat dan Dilema


Lembaga Pers Mahasiswa Ara Aita sudah berumur 33 tahun, sungguh sebuah perjalanan umur yang cukup panjang. Jika kita analogikan dengan kehidupan rumah tangga seseorang mungkin sudah beranak-pinak. Lantas pertanyaannya adalah bagaimana dengan LPM Ara Aita? Apa LPM Ara Aita sudah mencapai target yang cita-citakan? Jawabannya tentu “belum”. Mengapa demikian? Karena LPM Ara Aita bukanlah lembaga yang ingin mencapai target tertentu,  LPM Ara Aita hanya ingin memberi wadah bagi anggotanya yang suka menulis dan menjadikan anggotanya mampu menulis dengan baik dan benar, maka tidak heran jika proses di dalamnya,  LPM Ara Aita benar-benar memberikan edukasi yang mengandalkan tanggung jawab bagi anggotanya untuk serius dalam berproses di dalamnya.
Tak jarang pula anggota LPM Ara Aita yang tidak tahan dengan proses yang diberikan, mulai mengeluh dan memilih menghentikan prosesnya di LPM Ara Aita. Ibarat daun yang diterpa angin perlahan mulai berguguran satu-persatu dengan berbagai alasan, mungkin itulah sebuah seleksi alam. Terlepas dari itu semua, banyak hal yang bisa kita peroleh sebenarnya dalam suatu proses. Dimanapun kita berproses dan bagaimanapun keadaannya itulah sebuah proses. Secara tidak langsung pendidikan semacam itu mengajarkan kita untuk lebih dewasa dan bertanggung jawab. Hal semacam itu memberikan isyarat bagi kita pada kehidupan selanjutnya, jika nantinya kita sudah lulus dari kuliah yang tentunya banyak dari kita akan mengarungi kehidupan rumah tangga. Maka kita tidak akan terkejut melihat kehidupan baru. Karena kita sudah dididik menjadi orang yang tangguh menghadapi berbagai masalah.
Dalam Psikologi Komunikasi maupun komunikasi antar pribadi terdapat sebuah konsep diri agar komunikasi itu berjalan dengan lancar. Maka proses yang ada di LPM Ara Aita yang dianggap killer, tidak humanis, bahkan cenderung dianggap tidak sosialis itu sebenarnya memberikan kita sebuah konsep diri. Konsep diri tersebut akan muncul akibat dari interaksi dan pengalaman yang pernah dilakukan. Maka jika seseorang lebih memilih untuk bertahan dan menghadapi berbagai masalah yang timbul, akan mampu menghadapi segala permasalahan yang datang dikemudian hari.
Bagi mereka yang pernah berproses di LPM Ara Aita dan mampu bertahan hingga ia lulus kuliah, dapat memetik hasilnya. Banyak alumni dari LPM Ara Aita yang sudah menjadi seorang jurnalis, seperti Aziz jurnalis DUTA, Rafa jurnalis TEMPO, Erliyanto jurnalis GAPURA, Taufiq jurnalis Radar Surabaya, Choliq direktur Radar Mojokerto, Hanbali jurnalis Radar Bangkalan dan lain sebagainya.
Sekalipun menjadi seorang jurnalis bukan salah satu tujuan utama, akan tetapi setidaknya menjadi aktivitas mereka yang positif semasa kuliah. Anehnya, banyak dari para jurnalis yang ada di LPM Ara Aita bukan berasal dari program studi (Prodi) yang memiliki orientasi dalam hal keilmuan jurnalistik. Seperti Bimbingan Konseling Islam (BKI), Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Jurusan Psikologi dan Manajemen Dakwah (MD). Hal itu membuktikan bahwa sebenarnya sumbangsih sebuah organisasi intra maupun extra yang ada di kampus, memberikan sebuah peran yang sangat besar terhadap lulusan-lulusannya. Karena pada hakikatnya yang dibutuhkan sebenarnya adalah sebuah skill yang itu hanya dapat diperoleh dari organisasi-organisasi kampus, khusunya LPM Ara aita.
 Dan bahkan para jurnalis yang ada di Surabaya ini didominasi lulusan dari UIN Sunan Ampel Surabaya. Dan ini menunjukan bahwa  LPM Ara Aita menjadi salah satu Lembaga Pers Mahasiswa yang turut andil dalam perkembangan dan kemajuan Pers tanah air khususnya di Kota Pahlawan Surabaya.
Keberhasilan atau capaian yang semacam itu tidak muncul begitu saja, proses yang panjang dan rumit dalam berproses didalamnya membutuhkan semangat juang yang tinggi. Bagaimana harus menyeimbangkan antara kuliah dengan kegiatan organisasi. Hal semacam itulah yang sering menjadi problem bagi mahasiswa dalam berorganisasi. Lukman Hakim mantan pimpinan redaksi LPM Ara Aita (1998-1999) yang kini menjadi dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi, dalam rubrik fokus majalah Ara Aita edisi ke 55. Ia Mengungkapkan, “hidup dikampus menjadi aktivis adalah pilihan. Namun dengan sebagai pilihan, maka konsekuensi akan selalu datang berdampingan. Kita harus bisa membagi waktu antara akademik dengan organisasi.” Ungkapnya.
Hal semacam itu menggambarkan bahwa konsekuensi mahasiswa dalam berproses akan selalu ada dan harus dihadapi, secara tidak langsung proses tersebut akan melatih mahasiswa untuk mengembangkan ranah afektif (sikap), psikomotorik (perilaku) dan tentunya ranah kognitif (pikiran). Maka dari itu, alangkah sempurnanya seorang mahasiswa yang berkecimpung di dunia akademik menjadi lebih sempurna lagi jika turut pula berkecimpung dalam dunia organisatoris dan menjadi aktivis.