Ketidakdisiplinan Pioner Kampus - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

Ketidakdisiplinan Pioner Kampus

Dosen sebagai pioner utama dalam suatu proses pembelajaran, seharusnya mampu menjadi teladan yang baik bagi mahasiswanya. Namun fakta yang diperoleh hanya sebagian saja dosen yang mampu menjadi teladan bagi mahasiswanya.

UIN Sunan Ampel Surabaya atau yang lebih dikenal dengan sebutan UINSA, merupakan satu-satunya Universitas Negeri berbasis Islam yang ada di kota Surabaya. Sebagai Universitas Islam Negeri, UINSA diharapkan mampu menjadi contoh yang baik bagi Perguruan tinggi Islam lain yang ada di Kota Surabaya ataupun sekitarnya.
Hampir dua semester sudah kampus ini bermetamorfosis menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Sudah sewajarnya para petinggi mengoreksi bagaimana kinerja bawahannya. Apakah sudah baik atau masih sama dengan dulu saat masih menyandang status Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Terutamanya yang harus dikoreksi adalah kinerja para Dosen, yang merupakan pioner utama pada kelangsungan pembelajaran di UINSA.
Sebagai pioner utama pada proses pembelajaran, dosen seharusnya menjadi teladan bagi setiap mahasiswanya. Menjadi teladan dalam hal tingkah laku, tutur kata, cara berbusana, dan lainnya. Namun fakta yang terjadi dilingkungan Fakultas Dakwah dan Komunikasi masih banyak ditemukan dosen-dosen yang kurang bisa menjadi teladan.
Seperti yang dikatakan  Shela, Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam asal Palembang, ada dua dosennya yang memiliki kebiasaan tidur ketika para mahasiswanya presentasi. “ Dikelas saya ada dua dosen yang punya kebiasaan tidur ketika mahasiswanya sedang presentasi. Bagaimana bisa seperti itu, mahasiswanya serius presentasi mala dosenya tidur”, Tuturnya.
Shela pun berharap memiliki dosen yang mampu menjadi teladan, yang berkompetensi, disiplin, serta memberikan inspirasi-ispirasi bagi mahasiswanya. “ Bagaimana bisa seseorang berharap untuk memiliki anak yang baik, namun dirinya sendiri belum baik. Oleh karena itu saya berharap agar kita semua warga FDK berbenah, agar FDK dan UINSA bisa jadi lebih baik”. Ujar Shela Mahasiswi semester 2.
 Berbeda dengan Isra Anwar mahasiswa semester 2 jurusan Ilmu Komunikasi, dia menemukan dosen yang masih memakai baju ketat. “ Kalau dikelas saya tidak ada dosen yang mempunyai kebiasaan jelek, hanya saja ada dosen wanita yang cara berpakaiannya masih ketat. Padahal sudah ada peringatan dan deklarasi agar tidak berbaju ketat. Peringatan itu bukan hanya untuk mahasiswa namun juga untuk dosen,”  ujar Isra.
Masalah kedisplinan dosen datang di kelaspun masih menjadi sorotan oleh sebagian mahasiswa. Seperti yang diungkapkan Dimas Mahasiswa KPI dan Isra Anwar Mahasiswa Ilmu komunikasi, bahwa masih ada dosennya yang datang terlambat. “ Masih ada dosen yang datang terlambat, namun sebagai mahasiswa Islam kita bersikap Husnudzon saja, mungkin dosennya ada keperluan lain”, jelas Dimas. Pria cedel kelahiran kalimantan itu pun menambahkan  bahwa dosen yang mengajar di kelasnya rata-rata terlambat semua. “Alhamdulillah dosen saya masih banyak yang datang terlambat, dari 100 % mungkin hanya 30 % yang datang tepat waktu, yang lain malah memilih agenda-agenda lainnya,” jelas Isra Anwar.
menanggapi hal itu Suhartini selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) mengatakan, akan memberikan surat peringatan kepada semua dosen dan akan memanggil setiap kosma (kordinator mahasiswa) pada minggu ke-4 semester 2 untuk evaluasi perkuliahan di FDK. “ Nanti saya akan memberikan surat peringatan kepada dosen dan setelah masuk minggu ke-4 saya akan memanggil kosma seperti semester kemarin”, ungkap Dekan FDK.

Mengenai busana Dosen suhartini pun menambahkan bahwa pihak Fakultas telah menyediakan seragam sendiri untuk para dosen. “ Kami dari Fakultas telah membelikan seragam untuk dosen yang jumlahnya 6, yang bisa digunakan selama hari kerja. Sudah berulang kali kami mengingatkan para dosen agar memakai seragamnya dan tidak menggunakan pakaian yang ketat tapi ya tetap saja,” jelas Dekan. 

No comments:

Post a Comment