Kurangnya Sosialisasi Kurikulum, Mahasiswa menjadi korban - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

Kurangnya Sosialisasi Kurikulum, Mahasiswa menjadi korban


Jadwal kuliah yang begitu padat menyebakan banyak mahasiswa yang mengelu, sehingga kuliahnya pun menjadi terganggu, setelah dicari akar masalahnya ternyata hal ini tak lain adalah disebabkan oleh kurangnya sosialisasi pihak kurikulum terhadap mahasiswa.

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya pun demikian, khususnya di Faultas Dakwah dan Komunikasi (FDK),  akibat kurangnya sebuah komunikasi antara pihak kurikulum, dosen dan mahasiswa, Banyak mahasiswa yang mengeluh prihal jadwal kuliahnya yang dirasa sangat mengekang dan membuatnya hampir tak dapat bergerak. Bayangkan saja mereka, harus kuliah dari pagi sampai sore, terutama mahasiswa semester 2 mereka harus kuliah dari jam 6 sampai jam 6 lagi. Padahal mahasiswa telah dengan mudah memilih jadwal yang dikehendakinya.
Hal sekecil ini pun tanpa disadari mempunyai efek yang negatif untuk mahasiswa sendiri, karena jadwal kuliah yang terlalu padat, akhirnya aktivitas kuliah pun terganggu,  karena tentunya daya berfikir sesorang itu memiliki kemampuan yang berbeda-beda.  “Kuliah seharian membuat pening dan jenuh,” ujar Ria mahasiswa PMI semester 2 itu.
                Bukan hanya daya pikir, daya tahan tubuh pun ikut terganggu. Hal ini sangat dirasa oleh mahasiswa aktivis yang mempunyai aktifits dilain akademis. “Aku capek, tugasku banyak, belum lagi ada kegiatan ini dan itu,” jawab gadis berbaju kuning itu, ketika berhasil kami mintai pendapatnya pada tanggal 1 april kemarin, dia adalah mahasiswi jurusan BKI semerter 2.
Setelah kami telusuri ternyata bukan hanya mahasiswa organisatoris yang mempunyai keluhan mahasiswa yang memilih kuliah sambil kerja pun merasakan hal yang sama. “Karena ada jam sore di kuliahku aku pun harus pulang malam dan aku sampai telat mengajar les prifat,” cetus Nita (bukan nama sebenarnya) mahasiswi PMI semester 1 itu.
Mendengar keluhan-keluhan tersebut Imas Maisyaroh selaku Dekan 1 Fakultas Dakwah dan  Komunikasi angkat bicara ketika berhasil ditemui oleh Crew New News di ruangannya tanggal 2 April kemarin. “sistem SKS itu tidak kemudian harus diambil semuanya, meskipun tidak mencukupi kurikulum yang ditentukan dan juga tidak memenuhi bobot SKS yang dapat diambilnya, karena kemampuan mhasiswa itu berbeda-beda, apa lagi mahasiswa juga bisa berkuliah maksimal hingga 14 semester,”. Jika memang demikian, muncullah pertanyaan kenapa bisa sebagian besar mahasiswa tidak tau dan bahkan sampai mereka mengeluh seperti itu?.
Pihak kurikulum sendiri mengakui bahwa pihaknya memang kurang bersosialisasi kepada mahasiswa tentang sistem KRS tersebut “sebenarnya semua ketentuan KRS itu sudah dijelaskan ketika OSCCAR  hanya saja waktu yang diberikan oleh panitia kepada pihak kurikulum itu terlalu sedikit,’’ jawab Dekan 1 fakultas dakwah dan komunikasi itu.
Untuk mengatasi hal demikian pun pihak kurikulum telah menitipkan hal yang demikian kepada dosen wali mahasiswa namun tetap saja meskipun telah dikeluarkan surat keputusan yang mengatakan bahwa dosen wali tidak boleh memvalidasi KRS sebelum terjadi pertemuan antara dosen wali dan mahasiswa, yang semula dimaksudkan agar dosen wali dapat membimbing mahasiswanya dengan baik, ternyata masih belum efektif. “Semua tergantung pribadi dosen wali,” cetus Imas Maisyaroh.
Hal ini sepertinya menggambarkan bahwa untuk pihak kurikulum masih belum mempunyai ketegasan  atas peraturannya, namun tetap saja akan ada tindak lanjut dari apa yang telah diputuskan. “Pertengahan bulan April nanti kami akan mengadakan evaluasi untuk semuaanya,” jawab Imas Maisyaroh
Solusi untuk menindaklanjuti masalah ini, pihak kurikulum pun mempunyai rencana diantaranya adalah sebagai berikut pertama pihak kurikulum akan menggunakan media cetak dan media internet dan juga akan mengoptimalkan studen center sebagai wadah informasi mahasiswa. “Melalui dosen wali yang kedua melalui student center, kemudian lewat media baik media cetak maupun media elektroniknya melalui web kemudian juga mungkin mading sebagai media informasinya dan tetap nanti studen center dan dosen yang akan lebih diutamakan karena bisa langsung mengarahkan mahasiswa,” pungkas Imas Maisyaroh selaku Dekan 1 itu.  

No comments:

Post a Comment