Mahasiswa atau Mahasantri ? - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

Mahasiswa atau Mahasantri ?

Di abad ke 18-an, kediktatoran pernah terjadi di Prancis dibawah kekuasaan raja Louis ke-9. Dan sekarang pun sadar atau tidak Uinsa  juga memberlakukan kediktatoran itu. Dengan menambahkan system intensive keagamaan ditengah jam kuliyah yang padat. Apa sebenarnya yang menjadi  tujuan? Disinyalir hal ini hanya akan mengarahkan mahasiswa yang sebelumnya agent of intellectual menjadi fatalis keagamaan saja. Seperti dikatakan Karl Mark bahwa agama adalah candu? Maka mahasiswa dituntut untuk selalu menengadahkan tangannya ke atas.
Padahal jika kita melihat kembali sejarah abad pertengahan, bagaimana sebuah bangsa romawi yang sebelumnya tampil gagah dengan  keudayaannya yang sangat tinggi seketika saja  hancur,  tidak lain dikarenakan spiritualisme menggeser budaya rasional masyarakat romawi kala itu. Sehingga tidak dapat dibendung lagi yang dianamakan fenomena teks merajai konteks yang kemudian melahirkan ketertiduran panjang dalam ilmu pengetahuan. Dan bayangkan umpama keberhasilan para raja atau uskup Romawi dalam menundukan rakyat pada aturan gereja saat itu, terjadi pula sebagai keberhasilan Rektor atau birokrat kampus  saat ini  yang begitu getolnya mentransisikan mahasiswa menjadi mahasantri?.
Akan tetapi, sampai saat ini mahasiswa yang katanya agent of social controll itu masih adem anyem saja meskipun ditengah-tengah mereka sedang terjadi kediktatoran pemikiran secara tidak langsung. Lebih tepatnya pemandangan yang dipertontonkan mahasiswa saat ini lebih menyerupai pameran bisu. Tidak ada perlawanan serta pemberontakan, lebih  banyak mahasiswa yang memilih sikap diam atau bersembunyi dibalik ketiak penguasa (Rektor, Dekan, Aturan akademik, dan Dosen) seperti disinggung oleh Nitzsche mereka  umpama mayat berjalan yang disiram oleh parfum.
Dan sangat disayangkan jika mahasiswa yang dalam fundamen histysnya dulu pernah diceritakan pemberani, tidak pengecut dan  mampu memberikan pengaruh serta menggerakkan masyarakat disekitarnya, seperti contoh Soekarno, Hatta, dan Sjahrir yang hidup dengan cara melawan sehingga membawa kememerdekakan bangsanya. Sekarang justru berganti dengan generasi mahasiswa yang datang ke kampus sekedar duduk manis dari pagi sampai sore, ngegosip, lalu pulang.
Meski pun tahu didepan hidung mereka selalu disodorkan kepalsuan, mahasiswa saat ini tidak bisa melakukan apa-apa, karena takut dikatakan amoral atau akan berpengaruh pada nilai. Sehingga sekarang sudah jarang mahasiswa yang masih berani melakukan debat sengit  dengan dosen, menciptakan suasana kelas yang gaduh  yang  penuh dnegan olah gagasan. Mereka hari ini  lebih banyak yang setuju-setuju saja dengan stetment  jika generasi tua (Guru atau Dosen) yang selalu benar. Apalagi dalam prinsip pesantren pun murid harus selalu taqdim (manut) kepada sang guru.
Padahal sikap seperti itu bukanlah cara yang tepat, karena sebenarnya sebagaimana pernah dikatakan Aristoteles bahwa imperium suatu bangsa terletak di pundak generasi mudanya. Jadi sangat kolot apabila kita mahasiswa selalu berpikir yang tua (Guru atau Dosen)  yang selalu benar. Seharusnya sebagai mahasiswa kita memiliki kesadaran kritis bukannya malah  mentradisikan apa yang sudah ada . Kenapa harus  takut dikatakan tidak bermoral?  Padahal yang tidak bermoral bukan hanya mereka yang tak punya sopan santun saja, tetapi mereka yang tak mengakui kesalahannya meski tau  dirinya salah dia juga tidak bermoral.
Katakanlah para dosen atau petinggi kampus lainnya, mereka digaji bukan untuk menjadi kuli kuli kurikulum yang bertugas hanya untuk menyampaikan kulikurum yang memang sudah sedemikian adanya. Tetapi seorang pendidik adalah membuat mahasiswanya pintar. Dan jika mahasiswa merasa belum pintar maka dia boleh mengkritisi gurunya seperti halnya Aristoteles yang pernah menentang pemikiran Plato sehingga ia pun menghasilkan pengatahuan yang baru berbeda daripada gurunya itu.
Lain dengan kita  pada hari ini, yang justru mau-mau saja dijadikan burung- burung Uinsa yang sibuk mengerami di dalam sangkar agamanya. Padahal Agama diturunkan tuhan buat manusia, dan bukan buat kepentingan tuhan itu sendiri. Tuhan sudah kelewat mulia, kelewat luhur, kelewat kaya. Pendeknya ia tak perlu apa-apa lagi. Lalu untuk apa lagi kita bermalas -malasan seperti ‘burung nyanyi’ melagukan ayat Alqur’an tetapi tidak memahami, seperti  yang dipaksakan si kuli-kuli kurikulum itu terhadap kita ? Allah pun pernah mengingatkan kita ummatnya  dalam kitab suci Alqur’an nya surat Al-Ma’un diantaranya; “tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama?” Dan dalam surat ini dijelaskan bahwa perbuatan malas, diamasukkan dalam kategori dusta itu sendiri.
Ayat-ayat suci sungguh bukan untuk dibaça, dilagukan, dan dipertandingkan dari tingkat kabupaten hingga tingkat nasional, melainkan untuk dimengerti, dipahami dan dilaksanakan. Tidak penting menjadi burung nyanyi Uinsa. Pendeknya, justru tindakan  dan amal kita seagai mahasiswa kampus islam, serta relevansi social dari agama itulah yang seharusnya dilakukan. Jadi kamu generasi muda, tanyakan pada hati terdalammu kampus tempatnya mahasiswa atau mahasantri?