Mahasiswa dan Tong Sampah - Araaita.com

Breaking News

Wednesday, 29 April 2015

Mahasiswa dan Tong Sampah


Mahasiswa sebagai remaja yang masih dalam proses pencarin jati diri seringkali yang adopsi adalah hal hl yang negatif, mulai dari cara berpakaian dan gaya hidup. Semua serba diterima tanpa penyaring.
Masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Dan mahasiswa yang notabenanya sebagai remaja, mulai mencari gaya hidup yang pas dan sesuai dengan seleranya. Ia mulai mencari idola yang bisa dijadikan panutan, baik dalam pencarian gaya hidup, gaya bicara, penampilan, dan lain sebagainya, demi mendapatkan status didalam pergaulannya. Imbasnya banyak  dijumpai mahasiswa dengan berbagai gaya hidup yang sebenarnya mereka hanya mengimitasi dari tokoh idola. Mulai dari Gaya hidup serba mewah, serba enak dan serba berkecukupan yang pada ujngnya hanya ingin mencari kepuasan belaka.
Lebih sederhananya Mahasiswa sekrang dijajah lewat ideologi. Otak  mereka sudah dionani dengan kesenangan semu. Sebab yang menjadi tolak ukur dalam setiap perilakunya adalah kesenangan semata. Sehingga tidak heran jika melihat mahasiswa sekrang yang cendrung hedones, dan pola imitasi yang tidak terkontrol. “Semua yang baru serba diadobsi oleh mahasiswa saat ini, tanpa ada parameter disetiap prilakunya. Mereka  layaknya tong sampah yang dapat  menerima apapun yang berbentuk sampah selagi dalam muatan,” ungkap Nurul salah satu mahasiswa Fakutas Dakwah.
Hal ini terlihat saat Crew New News mewawancari sebagian Mahasiswa Fakultas Dakwah, misalkan yang dialami Alfin Zulfikar salah satu mahasiswa prody  PMI yang mengungkapkan bahwa dirinya memilih main ke Maal saat libur kuliyahnya.  Pasalnya Alfin ingin refresing dan mencari hiburan ditengah kepadatan jadwal kuliyahnya. Hal ini ia lakukan untuk mengurangi rasa jenuh dan menghindari stres. “Saya itu butuh refreshing agar tidak stres, masak mau mikir urusan kuliyah terus rek, cepet tua nanti,” ungkapnya
Senada dengan Anis mahasisawa prody KPI yang memilih main ke taman taman di surabaya pada waktu libur kuliyah. Hal ini ia lakukan hampir setiap minggu untuk meghilangkan rasa jenuhnya. “Daripada saya tidur di dalam kamar terus, lebih baik saya keluar dan mencari hiburan. Apalagi di rumah saya kekurangan teman,” ungkapnya.

Perubahan gaya hidup mahasiswa saat ini ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh pola imitasi terhadap idolanya saja, tetapi pola pendidikan juga mempengaruhi terhadap karakter mahasiswa. misalkan ketika dosen mengajar  di kelas  yang kurang kreatif dalam mendidk mahasiswa, sehingga suasana kelas menjadi fakum  dan membosankan bagi mahasiswa, pada ahirnya mahasiswa merasa malas masuk kuliyah dan memilih mencari suasana baru sebagai hiburan. Hal ini diungkapkan oleh Dekan Fakultas dakwah dan Komukasi. “Tidak seluruhnya prilaku mahasiswa ini dipengaruhi oleh budaya baru yang masuk, tetapi dosen yang kurang tegas dan kreatif juga mempengaruhi” ungkap Suhartini saat ditemui Crew New News di kantorny