Mahasiswa Kelinci Percobaan Kurikulum - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

Mahasiswa Kelinci Percobaan Kurikulum

               
 Perubahan kurikulum yang terjadi saat ini mengakibatkan berbagai masalah yang sedang dialami oleh beberapa mahasiswa. Bagian kurikulum pun angkat bicara dan menjelaskan bahwa semua masalah-masalah yang dialami mahasiswa adalah proses berkembangnya kurikulum Fakultas Dakwah.

                Mengacu pada Kepmendiknas (keputusan menteri pendidikan nasional) Nomor 232 Tahun 2000 dan Nomor 045 Tahun 2002 tentang rambu-rambu penyusunan kurikulum inti pendidikan tinggi, demikianlah desain kurikulum kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabayasepeti yang tertera dalam panduan pendidikan program Strata Satu  tahun 2014.
                Dengan struktur kurikulum masing-masing jurusan yang terbagi menjadi beberapa kelompok kompetensi atau mata kuliah, antara lain Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK). Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB), Mata Kuliah Perilaku Berkarya (MPB), Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB), dan Mata Kuliah Keahlian Alternatif (MKKA). Dari enam kelompok kompetensi tersebut disesuaikan dengan jadwal paket mata kuliah mahasiswanya.
                Berbeda dengan angkatan tahun lalu, mahasiswa angkatan 2014-2015 kini sudah dapat menggunakan KRS (kartu rencana studi) disemester genapnya, guna memprogram sendiri mata kuliah mereka. Namun menurut Rohma salah satu mahsiswa semester dua ini mengungkapkan bahwa,MABA (mahasiswa baru) masih terlalu awam untuk menggunakan sistem KRS, dan sesungguhnya membutuhkan waktu untuk mengenali sistem tersebut lewat pengalaman-pengalaman seniornya terlebih dahulu. “jika memang perubahan kurikulum mengharuskan sistem KRS digunakan MABA, setidaknya sosialisasi lebih ditekankan. Tidak hanya sewaktu ospek saja”. Ungkap mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi asal sidoarjo itu.
                Tidak hanya saat memilih mata kuliah yang sudah ditentukan saja yang rumit, namun dalam memilih mata kuliah tambahan yang diambil mahasiswa berIPK (indeks prestasi komulati) diatas rata-rata pun bermasalah. Eka (nama samaran) salah satu mahasiswa jurusan KPI ini mengeluh karena kurang adanya pengarahan dari wali dosennya, sehingga ia salah dalam memilih mata kuliah tambahannya. “Saat KRSan, wali dosen saya tidak mengarahkan apa-apa dan langsung menandatangani KRS saya, sehingga saya salah mengambil mata kuliah yang berhubungan dengan semester tiga,” ujar perempuan asal Surabaya itu.
                Berbeda dengan Eka, Ummah mahasiswa jurusan PMI pun mengeluh bahwa ia diombang-ambing dengan mata kuliah yang sebelumnya sudah dikonfirmasi oleh wali dosennya. “Saat saya sudah meminta tanda tangan untuk mengkonfirmasi KRS ke wali dosen saya, ternyata ada satu mata kuliah yang muncul dadakan, jadi saya harus kembali ke Surabaya lagi mengurusnya,” jelas mahasiswa asal lamongan tersebut.
Menanggapi persoalan Sosialisasi  pemprograman KRS yang terlalu singkat saat OSCAAR (orientasi cinta akademik dan almamater), Wakil dekan I bagian kurikulum meminta tolong kepada para mahasiswa yang pernah bermasalah  dengan KRSnya, untuk memberi tahu mahasiswa yang lain tentang teknis KRS tersebut. “Sosialisasi tambahan hanya bisa kita lakukan kewat SIAKAD (sistem informasi akademis) dan mading saja, jika mengumpulkan mahasiswanya terlalu ribet,” jelas dosen yang mengajar mata kuliah kepemimpinan tersebut.  
Wakil dekan I itu pun menambahkan bahwa, setiap wali dosen memiliki karakter yang berbeda-beda dalam memandu mahasiswanya. “memang terdapat  wali dosen yang kurang pengarahan dan terlalu percaya mahasiswanya sehingga begitu saja mengkonfirmasi KRS mahasiswa tersebut ada pula wali dosen yang sangat antusias dalam mengarahkan mahasiswanya.Ungkap dosen terkenal disiplin itu.
Dosen yang pernah singgah di Australia itu pun menjelaskan bahwa, baru tahun ini mahasiswa semester awal dapat memilih mata kuliahnya sendiri dengan KRS tersebut. Karena memang pada tahun sebelumnya masih menggunakan sistem paket terlebih dahulu. “maka dari itu UIN Sunan Ampel terutama Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini masih perlu proses untuk menjadikannya sesuai harapan, jadi semua butuh waktu,” jelas wali dekan satu sekaligus bagian kemahasiswaan Fakultas Dakwah tersebut.

No comments:

Post a Comment