Mahasiswa Sayangkan Ketidakhadiran Dosen - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

Mahasiswa Sayangkan Ketidakhadiran Dosen


Fenomena dosen yang absenberturut-turut sudah menjadi hal yang biasa bagi mahasiswa. Hal ini benar-benar meresahkan sebagian mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Khususnya bagimahasiswa yang pulang-pergi, karena harus seharian di kampus. Kekecewaan atas ketidakhadiran dosen tidak hanya sekalidua kali dirasakan, bahkan pernah terbesit dalam pikiran bahwa percuma berangkat kuliah kalau dosen sering absen.Apakah tidak ada tindakan yang tegas dari dekan untuk mengontrol kedisiplinan dosen?. Kalau mahasiswa  dituntut untuk disiplin, maka dosenpun seharusnya demikian.
Pantas prospek lulusan UIN Sunan Ampel dianggap remeh oleh masyarakat, kalau tingkat kedisiplinan dosen saja masih rendah. Jika dosen tidak masuk, gaji tetap masuk.“Enak e ngajar gak ngajar, nafkah tetep mengalir.”Tetapi bagi mahasiswa ketidakhadiran dosen merupakan kerugian yang sangat besar. Terutama kerugian materi, apalagisebagian mahasiswa masih meminta uang kepada orang tuanya. Selain itu juga rugi waktu, orang tua berprasangka bahwa anaknya seharian belajar dikampus. Namun kenyataanya anak yang diharapkan hanyaluntang-lantungdi kampus tanpa arah. Setidaknya mahasiswa bisa langsung pulang, jika memang dosen tidak masuk. Akan tetapi sorenya masih ada jadwal ma’had.Harus bagaimana lagi, jadwal seperti ini telah ditetapkan oleh fakultas. Jadi mau tidak mau mahasiswa harus menunggu seharian di kampushanya sekedar untuk mengisi daftar hadir.
Meninjau lebih dalam atas ketidakhadiran dosen yang berturut-turut itu, dosen dengan seenaknyamenyuruh mahasiswa untuk  mendouble tanda tangan pada daftar hadir. Dengan begitu dosen dan mahasiswa dianggap hadir.Sementara kegiatan perkuliahan sebelumnya tidak terlaksana. Mahasiswa dengan mudahnya dibodohi oleh dosen, kalau seperti itumaka sama saja menguntungkan dosen dan mencabut hak mahasiswa. Mahasiswa butuh pendidikan bukan pemerkosaan seperti ini. 
Bukankah tindakan tersebut sama dengan mendzolimi mahasiswa?kita datang membawa semangat dalam genggaman tangan, berniat menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Tetapi  justru keseriusan dosen yang masih diragukan, karena keseringan bolos.Harusnya jika para dosen berhalangan hadir, ada dosen penggantinya agar kegiatan belajar mengajar tidak terhambat.Kalau seperti ini siapa yang paling kasihan?,tentu saja wali mahasiswa yang lebih nelangsa. Mereka rela mengeluarkan materi yang tidak sedikit jumlahnya. Denganharapan nasib anaknya bisa lebih beruntung darinya. Kerja apa pun mereka lakoni, asalkan anaknya bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi.
Sistem seperti ini juga menentukan kualitas keilmuan mahasiswa. Nilai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) sebagai acuan utama kelulusan. Namun, bekal keilmuan hanya seujung kuku. Ilmu yang mereka dapatkan, tidak sebanding dengan waktu yang mereka abdikan di kampus. Rasanya tidak cukup kuliah hanya delapan semesterkalau sistem perkuliahan tetap seperti ini. Dosen sering tidak masuk, sedangkan uang UKT  harus dibayar penuh.
Sebaiknya lebih dipertegas lagi bagi dosen yang seperti itu, dan sebenarnya bukan hanya tugas KOSMA (Kordinator Mahasiswa) untuk melaporkan dosen yang menyelewengkan tugasnya. Akan tetapi  sistem pengontrolan dari pihak Dekanat juga harus menyeimbangi. Agar kegiatan perkuliahan bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Lantas, mau di bawa kemana prospek lulusan UIN kalau tetap begini sistem perkuliahannya? 
Oleh: Luluk Rohmatun