Menyongsong Era Baru Jaringan Media Kampus - Araaita.com

Breaking News

Friday, 24 April 2015

Menyongsong Era Baru Jaringan Media Kampus

Oleh : Taufiqurrahman*

            Majalah TIME edisi 16 Februari 2009 memuat ilustrasi kover yang cukup nyentrik. Digambarkan disitu beberapa lembar koran The New York Times (NYT), harian yang se-induk perusahaan dengan TIME membungkus seekor ikan. diatas gambar tersebut sebuah judul besar melintang provokatif berbunyi “How To Save Your Newspaper?”. Ilustrasi kover itu kira-kira mengandung pesan bahwa suatu saat koran sebagai “simbol” media cetak akan kehilangan kedigdayaannya dan menjadi tak lebih dari pembungkus makanan.
            Benarkah? Kita sama-sama tidak tahu. Dalam tulisan ini saya tidak hendak mengukur kebenaran ramalan bahwa industri media cetak sedang menuju kepunahan. Doomed! Kata situs bussinessweek.com. 22 April kemarin Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) milik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) resmi meluncurkan araaita.com. sebuah portal berita yang akan memuat seluruh konten jurnalistik yang diproduksi oleh lembaga ini. diresmikan langsung oleh rektor UINSA sendiri. setelah sebelumnya pada 15 April dekan FDK meresmikan jurnalkpi.com. situs jurnalistik online yang digagas oleh mahasiswa konsentrasi Jurnalistik Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Peluncuran dua situs jurnalistik online ini bisa kita intrepretasikan sebagai momentum lahirnya cyber-journalism serta gerbang—bagi yang cukup jeli melihat—dimulainya model baru dinamika pers mahasiswa.
            Baiklah, mungkin terlalu jauh untuk mengaitkan peluncuran dua situs jurnalistik online tersebut dengan depresi industri media cetak. Lagipula, dalam perbincangan kawan-kawan saya, ramalan diatas sebenarnya mulai terasa “Basi”. Industri media cetak telah diramalkan akan mampus sejak dunia memasuki “era online” pada awal tahun 1990. Nyatanya TIME masih tegak, NYT dan Lost Angeles Times masih berproduksi. Di indonesia majalah TEMPO dan Harian Kompas masih menjadi rujukan para pengamat dan politikus dalam memonitor perkembangan isu-isu tertentu. The Jakarta Post masih bisa saya jumpai di perpustakaan. Jawa Pos dan Harian Surya masih nangkring manis di warung-warung kopi. menemani saya ongkang-ongkang kaki setiap pagi. Sambil iseng-iseng memandangi para mahasiswi yang berangkat intensif.
Kita patut bersyukur bahwa kampus UINSA Surabaya masih memiliki lembaga-lembaga pers yang handal meski “kesaktiannya” disebut-sebut mulai memudar. Saya suka membaca SOLIDARITAS untuk sekedar update seputar budaya-budaya “pop” di kampus kita. Saya juga kagum pada EDUKASI yang masih setia mengawal isu-isu pendidikan. Kesejahteraan guru, hak-hak siswa, serta menyuarakan nuansa pendidikan yang humanis. Saya merasa merekalah kepanjangan tangan Paulo Freire dan Ivan Illich di kampus ini. ARRISALAH terus getol mengulas seputar isu-isu seputar Hukum, UU, RUU, dan perangkat-perangkat aturan lain yang dianggap salah sasaran. Sedang ARAAITA tetap kerasan menjadi media paling “berisik” dan “pedas” dalam menganalisis kebijakan-kebijakan kampus. Juga QIMAH dan FORMA, serta puluhan buletin yang tersebar di penjuru kampus
Kemudian saya melihat bahwa hal-hal hebat tersebut terancam sirna karena hari ini para jurnalis kampus kita mengalami depresi yang sama. Lembaga-lembaga pers terus bergelut dengan problem internal di masing-masing. Lalu ditambah dengan bonus problem internal yang menggerogoti keberlangsungan (sustainability) dari siklus penerbitan. Sebut saja proses pemindahan sekretariat ke luar kampus, perubahan sistem kucuran dana penerbitan, belum lagi harus berhadapan dengan problem merosotnya budaya literasi mahasiswa yang sukses membikin dunia jurnalistik kampus sepi peminat.        
Yap, para awak media kampus harus memutar otak. Harus berani merombak tatacara berpikir. Jurnalisme tidak bisa sendiri-sendiri. Dalam hemat saya para jurnalis pertama-tama harus move on dari sekedar lembaga media (media institute) menuju perusahaan media (media company). Artinya media yang mampu menjamin sustainability-nya sendiri. punya kekuatan ekonomi, juga kekuatan tradisi jurnalistik. Sudah bukan jamannya lagi untuk menunggu kucuran dana dari kampus. Itupun tidak cukup, kita harus bisa menuju tingkatan selanjutnya, yaitu jaringan media (Media Network).  
Media yang telah mencapai tingkatan ini dapat dikatakan sebagai media yang mapan. Baik dalam kekuatan ekonominya, maupun kekuatan tradisi Jurnalistiknya. Hal ini telah cukup dicontohkan oleh LPM Ara-Aita yang mengusung konsep Diversifikasi Produk. Dengan menerbitkan Majalah dua kali setahun, Jurnal Penelitian tahunan tiga bahasa, Buletin berita mingguan (New News) dan sekarang bertambah dengan sebuah situs berita online. di Indonesia, konsep ini bukanlah sesuatu yang baru. kita bisa melihat bagaimana TEMPO memiliki tempo.co, Jawa Pos memiliki jpnn.com, Harian Surya memiliki tribunnews.com. begitupun dengan TVOne dan Vivanews.com, SINDO dengan Okezone.com, belum lagi kita berbicara tentang MNC group milik taipan Harry Tanoesodibjo yang mengklaim diri sebagai “the most intregrated media group”. Ini, meskipun bukan satu-satunya cara, adalah salah satu cara agar media bisa survive dengan mengembangkan sayap di berbagai bidang yang dapat saling menopang.     
            Jadi, ketakutan akan runtuhnya industri media cetak seharusnya tidak berlaku bagi kita semua. Media-media di kampus UINSA harus segera selesai dengan problem “keberlangsungan” dan berpindah fokus pada “Penguatan wacana dan pengawalan isu”. Thus, depresi dunia jurnalisme kita bukan karena kalah dengan media online yang serba cepat, murah, dan update, tapi karena kita gagal menjaga tradisi jurnalistik yang sudah tertanam sejak lama. jangan menjadikan media online yang baru lahir ini sebagai ancaman atau musuh, sebaliknya pandanglah dia sebagai partner yang mampu menguatkan jaringan media kita. yang jelas, jika andai saja—dan ini bukan impian yang muluk, saya rasa—semua media-media kampus UINSA serentak membangun Media Network yang terintegrasi untuk saling menopang sebuah tujuan bersama, maka tidak akan sulit mengembalikan UIN Sunan Ampel Surabaya to it’s  former glory!

            Selamat atas peluncurannya, Bravo Ara-Aita! Salam Pers Mahasiswa!



                                                                                                *taufiqtheavenger@gmail.com