Mewujudkan Pendidikan Karakter yang Praktis - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

Mewujudkan Pendidikan Karakter yang Praktis


Oleh : Moh. Khoirul Umam
Dalam rangka mengamalkan tri darma perguruan tinggi, sejatinya mahasiswa dituntut agar senantiasa mengemban amanat moral yang tersirat didalamnya. Dengan mencerminkan sikap dan keperibadian yang baik, berakhlaq mulia, berkata sopan, tanggung jawab dan berbudi pekerti luhur. “Semakin banyak ilmu semakin merunduk” begitu kira-kira adagium lama yang sering kali kita dengar.
            Kata moral dikalangan kampus bisa kita tafsiri  kedalam tiga arti. Pertama sebagai “sikap” keseluruhan yang melekat pada tindakan dan gaya hidup tiap individu mahasiswa. Kedua, kata “moral”  menunjuk pada arti yang lebih kecil yaitu “kesopanan berbicara ” sebagai instrumen komunikasi kepada orang lain. Mahasiswa, dosen dan sebagainya. Ketiga, “moral ” mengisyaratkan hasil akhir mahasiswa sebagai akademisi yaitu “tulisan” atau penelitian,makalah dan sebagainya..
            Ketiga katagori diatas rupanya masih belum mendapat perhatian dikalangan mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Kerap kali kita temukan prilaku yang tidak wajar yang dilakukan mahasiswa secara keseluruhan. Mulai dari tindakan asusila (goncengan dengan pelukan) antara mahasiswa-mahasiswi, berbicara kotor (mencemooh, mengejek dosen dan mahasiswa), serta kebiasaan plagiasi .
            Alih-alih rupanya hal yang seperti diatas dianggap sebagai suatu yang biasa dan sepele. Mulai dari mahasiswa hingga para dosen tidak pernah mau tahu bahwa hal sepele itu menjadi tolak ukur masyarakat tentang  keberhasilan pendidikan karakter di kampus Islam ini.  Pada dasarnya tujuan pendidikan berdasarkan Kurikulum Pendidikan Starata Satu (S1) IAIN Sunan Ampel Surabaya Tahun 2009 yaitu, menyiapkan mahasiswa agar menjadi anggota masyarakat yang memiliki akhlaqul karimah,+.   Hal ini menyatakan bahwa oreintasi besar pendidikan yaitu  bagaimana peserta didik mampu mengaplikasikan ilmunya kedalam dunia sosial sebagai kesatuan pikiran dan tindakan serta “mengkarakter”. Kata karakter menurut ahli psikologi Dali Gulo adalah kepribadian yang melekat ditinjau dari perspektif etis atau moral. Sebenarnya jika ditelisik lebih lanjut bahwa beban dan tanggung jawab moral bagi mahasiswa UINSA lebih berat dibandingkan Universitas lainnya, jika dilihat dari basis ajaran dan pengetahuan keagamaannya. Karena selama ini asumsi masyarakat melihat  UINSA sebagai kampus Islam yang diwarnai dengan nila-nilai Islam . Namun bukan itu yang saya maksud dalam opini ini. Melainkan, saya ingin meberikan rumusan-rumusan besar tentang pendidikan karakter dikalangan mahasiswa UINSA. Pertama, sudahkah para dosen memberi dan melakukan transformasi pendidikan karakter kepada mahasiswa?. Atau sejauh mana para dosen memberi contoh, aturan tertentu dan teguran kepada para mahasiswa yang melakukan pelanggaran, sebagai  implikasi pengembangan dari behaveorisme pendidikan?.
            Sebelum menjawab rumusan-rumusan diatas perlu kita tahu sepintas makna pendidikan karakter. Menurut Thomas Lickona pedidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti. Hal ini mengindikasikan bahwa segala aspek pembelajaran  dosen idealnya selalu mengarah pada bagaimana mempengaruhi mahasiswa agar dapat memperhatikan aspek normatif dan moralitas.
            Selama ini fakta berbicara dosen masih enggan melakukan upaya-upaya prifintif mengatasi mahasiswa yang sering kali melakukan pelanggaran. Salah satu buktinnya dosen masih membiarkan mahasiswa melakukan plagiasi dalam karya tulisan. Padahal plagiasi merupakan tindakan yang malanggar dan tidak diperbolehkan dalam etika kepenulisan. Tidak hanya itu, dosen juga masih membiarkan mahasiswa yang melanggar Kode Etik Mahasiswa (KEM), seperti tidak memakai sepatu, berkaos, telat mengikuti pelajaran dan lain sebagainya.   Ironisnya pihak instansi Fakultas pun masih terlihat jarang melakkukan teguran dan sangsi-sangsi kepada si pelanggar. Alasannya karena mereka terkadang masih melakukan pelanggaran. “ guru kencing berdiri siswa kencing lari” begitu kira-kira bahasa yang pas untuk digunakan.
            Meski kampus telah memiliki program pesantren sebagai sarana pembelajaran Akhlaq, nampaknya hal itu akan sia-sia bila tidak diimbangi dengan peraturan yang ekstra ketat dalam tata prilaku, tulisan dan pembicaraan. Ia benar, bahwa ajaran islam pesantren selama ini diharapkan memberi warna baru bagi identitas UINSA. Dengan demikian diperlukan control sosial yang sinirgi, mulai dari kalangan mahasiswa, dosen hingga pihak yang terkait termasuk instansi, dan unit-unit kerja lainnya, untuk mewujudkan karakter muda yang moralis, yang mampu membendung tantangan modernitas.       

No comments:

Post a Comment