Organisasi Membentuk Kepribadian Mahasiswa - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 21 April 2015

Organisasi Membentuk Kepribadian Mahasiswa



      
           “Cogito ergusum” aku berpikir maka aku ada, merupakan sebuah ungkapan yang pernah disampaikan oleh seorang filsuf abad modern, yaitu Rene Descartes. Ungkapan tersebut sangat fameliar di kalangan aktifis mahasiswa untuk menunjukkan sebuah eksistensi dari organisasi. Berpikir jangan hanya diartikan sebagai penggunaan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. Lebih dari itu berpikir haruslah dibarengi dengan tindakan, jika tidak maka berpikir tidak akan berdampak apa-apa.
Organisasi adalah sebuah wadah dimana mahasiswa melakukan kegiatan berpikir sekaligus bertindak. Marujuk kepada pengertian dasarnya, organisasi mahasiswa merupakan sekumpulan mahasiswa yang mempunyai kesamaan paradigma dan
membentuk suatu kelompok tertentu demi mencapai tujuan bersama.
Dari sekian banyak tujuan organisasi pasti bermuara pada satu titik, yaitu membentuk mahasiswa sebagai agen perubahan sosial (Agen of Social Change), pengawas kebijakan (Agen of Control), penerus masa depan (Iron Stoke), dan berada di barisan terdepan ketika rakyat dalam lingkaran ketidakadilan (Event Grade).
Akan tetapi, saat ini tidak sedikit mahasiswa yang menjauh dari tujuan tersebut. Keengganan mahasiswa terhadap organisasi  hari ini dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu Pemberlakuan 4 SKS, jadwal kuliah semakin padat yang mengharuskan mahasiswa berangkat ± jam 06:00 wib dan pulang ± jam 18:00 wib, dan pengalihan basecame UKM/UKK ke luar kampus merupakan salah satu alasan mengapa banyak mahasiswa kurang minat mengikuti organisasi baik intra maupun ekstra kampus.
Melihat kenyataan di atas, kita kembali diingatkan dengan kebijakan korporatif pada masa Soeharto. Dengan berlakunya NKK/BKK semua organisasi mahasiswa dikekang dan diambil kebebasan berpendapat serta berada di bawah bayang-bayang Soeharto, yang mau tidak mau harus mengikuti apa yang diinginkan oleh pemerintah. Sehingga sangat sulit bagi mahasiswa untuk mengembangkan otonomisasi dan independen keorganisasian.
Kebijakan NKK diawali dengan pembekuan atas dewan eksekutif mahasiswa tingkat kampus di seluruh Indonesia berdasarkan SK No.0156/U/1978. Konsep ini menilai bahwa tindakan para mahasiswa yang tidak menginginkan Soeharto menjadi presiden lagi dianggap telah merongrong wibawa pemerintah, menimbulkan rasa benci, perpecahan, pertentangan, yang jika dibiarkan akan berimbas pada kekacauan di tengah masyarakat. Keadaan ini menyebabkan mahasiswa hanya ada pada kegiatan akademis dan jauh dari aktifitas organisasi (politik).
Setelah dewan mahasiswa dibekukan maka sebagai gantinya pemerintah membentuk keorganisasian baru yang disebut BKK. Berdasarkan menteri P&K No.037/U/1979 kebijakan ini membahas tentang Bentuk Susunan Lembaga Organisasi Kemahasiswaan di Lingkungan Perguruan Tinggi. Organisasi mahasiswa yang diakui oleh pemerintah hanyalah organisasi Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dan Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas. Namun demikian, kegiatan mahasiswa masih berada dalam bayang-bayang rektor dan pembantu rektor sebagai wujud tanggung jawab pembentukan, pengarahan, dan pengembangan lembaga kemahasiswaan.
Jadi, mahasiswa kehilangan ruang organisasi (politik) yang bebas di dalam mengembangkan kritisisme dan kreatifitas di dalam menyikapi persoalan bangsa oleh karena pemahaman organisasi (politik) mahasiswa hanya sebatas konsep, dan organisasi konvensional yang selama ini diandalkan sebagai basis protes (senat mahasiswa dan organisasi mahasiswa eksternal) mengalami depolitisasi.
Saat ini, seakan-akan sejarah akan terulang kembali ditingkat perguruan tinggi negeri maupun swasta. Dengan diadakannya kebijakan-kebijakan yang kurang berpihak kepada organisasi mahasiswa, baik intra maupun ekstra dan seolah-olah organisasi mahasiswa diarahkan ke organisasi pada tataran konsep saja serta organisasi yang lebih mengarah kepada materi, kepuasan dan kesenangan. Jangan sampai kebijakan NKK/BKK bermetamorfosis di era reformasi dengan wajah baru dan dengan cara yang halus serta kasat mata.
Sebab jika hal semacam itu tetap dibiarkan terjadi, maka dikhawatirkan akan membentuk mahasiswa ke dalam beberapa kategori. Pertama, mahasiswa apatis; mahasiswa menganggap terlalu beresiko jika aktif dalam berorganisasi dan acuh tak acuh dengan kehidupan kampus dan kondisi sosial yang ada di lingkungannya. Hal tersebut disebabkan oleh ketatnya sistem pendidikan yang memberlakukan Sistem Kredit Semester (SKS) dan Sistem Indeks Prestasi Kumolatif (IPK).
Kedua, mahasiswa kontemplatif; mahasiswa terus merenung dan berpikir dengan penuh perhatian apakah akan melakukan tindakan-tindakan nyata atau terus berkontemplasi. Ketiga, mahasiswa oportunistik atau yang sering kita kenal dengan mahasiswa kupu-kupu; mahasiswa yang hanya pulang-pergi ke kampus untuk belajar, ingin cepat lulus, dan tidak mau ambil pusing dengan masalah organisasi dan kehidupan disekelilingnya.
Keempat, mahasiswa partisan; mahasiswa yang mempunyai kesenangan dan ikut-ikutan meramaikan kegiatan yang ada dalam kampus yang diadakan oleh organisasi mahasiswa, tapi enggan apabila dipercaya untuk menjadi pemimpin atau panitia dalam sebuah event. Mahasiswa tersebut tidak mempunyai komitmen dengan organisasi. Singkatnya, organisasi hanyalah sebagai tempat hiburan dan bersenang-senang dengan mengadakan pesta dan lain sebagainya.
Padahal organisasi sangat erat kaitannya dengan konsep manajemen yang terdiri dari planning, organizing, actuating, controlling, dan evaluating. Jika hal tersebut tidak terkonsep dengan baik dalam diri mahasiswa, maka mahasiswa akan mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan di tengah masyarakat. Mahasiswa sebagai pengemban perubahan, penyambung lidah dan pejuang nasib rakyat hanyalah sebatas harapan dan mimpi.