Pagelaran Teater Fajar Magelang “Gang Senggol” - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

Pagelaran Teater Fajar Magelang “Gang Senggol”


Lucu, kocak, dan menyenangkan, adalah ciri khas dari penampilan teater fajar dari Magelang Jawa Tengah yang mengusung judul “Gang Senggol”. Drama komedi realis ini, berhasil membuat para penontonnya terhibur dan tidak boan-bosan meihat aksi lihai para pemainnya dalam memainkan aksi panggungnya.

Sore itu kamis (02/04/2015), di Auditorium Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya terlihat ramai oleh banyaknya kendaraan yang berjajar di samping maupun di depan gedung auditorium. Mulai dari kendaraan motor beroda dua, empat, hingga yang beroda enam, semuannya mengantarkan  penumpangnya masing-masing. Terlihat dari kejauhan, di bagian depan gudung putih auditorium, terlihat sebuah banner persegi panjang berbentuk vertikal, menggantung atau sengaja digantung di antara langit-langit sampai lantai dengan disanggah oleh beberapa potong bambu.
 Di belakangnya, tidak jauh dari tempat banner berada, terdapat empat meja persegi panjang berjajar rapi persis di depan pintu auditorium. Di samping kanan, dua buah dan di sebelah kiri juga ada dua buah meja yang seakan-akan diposisikan untuk menyambut tamu-tamu yang datang. Di belakang meja juga terdapat beberapa pemuda yang nampaknya adalah panitia yang bertugas sebagai penerima tamu, dan dua penjaga yang berdiri di depan pintu masuk sebagai pemeriksa tiket. Ketika mulai memasuki gedung auditorium, terlihat kain-kain hitam panjang yang terbentang membatasi, dan membentuk sebuah ruangan yang tertata apik. Di dalam ruangan yang terbentuk, terlihat banyak orang sedang memperhatikan drama dengan khusyuk dan sesekali terdengar suara tawa dari beberapa penonton karena kekocakan para aktor yang memamerkan aksi panggungnya.
Di bagian depan rungan tersebut, terdapat panggung datar pementasan sang aktor dengan segala artistik propertinya. Mulai dari kotak persegi panjang yang difungsikan sebagai toilet umum di sebelah kanan bagian depan panggung;  sebuah gambaran jendela pintu yang mewakili rumah dengan tanda penunjuk identitas yang bertuliskan “RT 69”; beberapa pot tumbuhan hias, tong sampah, dan sebuah sapu yang tersusun rapi di depan rumah untuk memeperkuat keberadaan rumah; sebuah pos ronda berukuran sedang di sebelah kiri panggung, dengan aksesoris kentongan yang menggantung di salah satu tiang pos, papan jumlah bunyi kentongan; dua jalan sekatan kain hitam yang difungsikan sebagai gang kecil, akses keluar masuk penduduk yang persis berada di samping toilet umum dan juga di sebelah pos ronda.
Di drama komedi realis ini, menceritakan tentang kehidupan bermasyarakat pada suatu kampung. Terdiri dari tiga hansip kocak, pak RT, pak RW, seorang ibu guru cantik, Bu Anton, dua bodyguard lemot, anak sekolahan, warga desa, dan tukang jamu tradisional. Tiga hansip yang memegang peran penting pada alur pementasan ini, memiliki kepribadian masing-masing. Hansip Jono yang bertubuh kecil kurus, sok bisa menyelesaikan semua masalah tapi tidak mau berkorban untuk masalah yang dia selesaikan, mata keranjang, suka mengoda perempuag cantik yang lewat di gang itu. Hansip Kampret, berbadan gempal tapi bukan gemuk, dengan karakter yang sangat penurut, sedikit dungu, tapi lebih mementingkan dirirnya sendiri. Hansip Junet, berperawakan kurus tinggi, suka bercanda keterlaluan, cepat merasa khawatir, tapi tetap kocak.
Sebuah kampung yang memiliki penduduk yang saling peduli satu sama  lain, tidak terlepas oleh kocaknya tiga hansip yang semakin menghidupkan suasana kampung tersebut. Tiga hansip yang selalu bertugas di pos ronda dekat dengan rumah pak RT 69, dan betempat di gang senggol ini. Gang ini di jadikan akses warga untuk keluar masuk kampung, dan bagi warga kampung itu, gang senggol sangatlah penting untuk warga kampung tersebut. Kehidupan di sana sama seperti halnya kampung-kampung lain yang sejahtera, hingga pada suatu saat terjadi sebuah konflik yang mengancam keberadaan gang senggol. Seorang warga merasa tanah gang senggol adalah miliknya, sebut saja Bu Anton, dia menginginkan gang senggol itu di tutup atau jika ada orang yang lewat gang tersebut harus membayar. Ketika itu, Bu Anton pergi ke gang senggol bersama dua bodyguard-nya untuk mengukur tanah yang dirasa miliknya.
Setelah mengukur panjang kali lebar dari tanahnya, tiba-tiba datang hansip dan para warga yang baru datang dari acara melayat pada salah satu rumah ibu guru yang anaknya meninggal karena penyakit demam berdarah. Melihat Bu Anton yang sedang mengukur tanah gang senggol, para hansip sangat marah dan mengancam bu Anton dan kedua bodyguard-nya, beruntung pak RW segera datang dan melerai perkelahian yang akan terjadi. Tapi karena pembicaraan yang semakin memanas, perkelahian hampir terjadi untuk yang kedua kalinya dan tiba-tiba, polisi datang melerai perkelahian antar warga dan bodyguard bu Anton. Ternyata, polisi itu di suap oleh bu Anton untuk membelanya. Di tengah-tengah pembicaraan antara polisi dan bu Anton, hansip Jono mendengar pembicaraan mereka, dan mengancam mereka atas tindakan penyuapan. Karna takut di hukum polisi itu tidak berani melanjukan tugasnya, yang kemudian gang senggol terselamatkan karena tanah gang senggol bukan sepenuhnya milik bu Anton.
Penggarapan pentas keliling ini sudah memakan waktu yang lama untuk persiapannya, “penggarapan pentas keliling ini sudah sejak bulan Februari lalu, waktu yang cukup lama untuk penggarapan sebuah pentas,” ungkap pimpinan produksi pementasan teater Fajar. Crew yang menangani pentas ini adalah dari teater Fajar yang berkolaborasi dengan teater Q fakultas Syari'ah UIN Sunan Ampel Surabaya. Pimpinan produksi, dalam salah satu penjelasannya berharap agar penonton  menyukai hasil penampilan mereka. (Azizah)



No comments:

Post a Comment