Pergolakan Dunia Pers Mahaiswa Indonesia - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 21 April 2015

Pergolakan Dunia Pers Mahaiswa Indonesia

Judul : Menapak Jejak Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia
Penulis : Moh Fathoni, DKK
Penerbit : PT. Komodo Book
Cetakan : ke 1 Mei 2012
Tebal      : 230 halaman
Peresensi : Ishlahul Ummah

                 Perjalanan panjang pers mahasiswa Indonesia tidak terlepas dari belenggu kekuasaan dengan dalih pembekuan terhadap aktivitas pers mahasiswa. Dalam perjalanannya pers mahasiswa yang semakin berani terhadap pemerintahan diupayakan untuk dihapus agar tidak mengganggu terhadap jalannya pemerintahan.
Buku ini menceritakan perjalanan pers mahasiswa yang berawal dari Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) menjadi Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI). Namun perubahan ini bukan berarti regenerasi atau pun antitesis organisasi pendahulunya. Meski kehadirannya tidak dikehendaki penguasa diwaktu itu, karena PPMI merupakan organisasi yang tidak memiliki legalitas, hingga ruang geraknya dibatasi oleh pemerintah.
PPMI terlahir sebagai respon dari kehendak generasi zaman. Dimana pada saat itu tiap personal Pers mahasiswa IPMI lebih memilih melakukan praktik politik dengan turut serta dalam partai Sosialis Partai Nasional Indonesia (PNI) dan menduduki kursi-kursi birokrasi serta bertindak seolah tak lagi berpihak pada rakyat.
                Di era orde baru, terjadi pembekuan secara halus oleh pemeintah terhadap pers mahasiswa dengan adanya Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Kordinasi Kemahasiswaan (BKK) yang di programkan oleh kemendiknas berjalan mulus dan tersebar luas di Indonesia, namun  dengan adanya program tersebut bukan berarti aktivis pers mahasiswa hanya diam, pers mahasiswa meneriakan perlawanan serta menumbuhkan gerakan mahasiswa kembali, hal ini pun terwujud dengan terbitnya Majalah Politika yang di prakarsai oleh 125 Mahasiswa dari 29 Universitas dari 17 kota di Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Dari sinilah pers mahasiswa mulai bangkit kembali.
Meski perjalan pers tak semudah yang dibayangkan, dalam masa-masa sulitnya tetap memiliki semangat kritis. Hingga pada suatu ketika pers mahasiswa memilih berani untuk melawan pemerintahan sebagai respon dari kebijakan penguasa yang membatasi penerbitan dan bahkan kemungkinan pereduksian terhadap aktivis pers. aktivis pers melakukan perlawanan dengan tetap menjaga sikap dan orientasinya, ativis pers terus menjadi pengawas pelaku kekuasaan yang menjadikan rakyat sebagai korbannya.
Pers mahasiswa sebagai pengamat dan pengawal perubahan dan berfungsi sebagai media alternatif, telah menunjukakan perubahan yang sangat pesat. hal ini terlihat jelas ketika gerakan mahsiswa dari seluruh daerah di Indonesia berhasil menggulingkan rezim soeharto. Namun sangat disayangkan setelah penggulingan Soeharto, Masalah-masalah yang signifikan pun mulai muncul dari diri pers mahasiswa itu sendiri, mulai dari pendanaan, sumber daya manusia, manajemen organisasi, sampai birokrasi kampus. Keberadaanya menjadi suatu Perdebatan soal pergeseran nilai dan perlawanan yang dipertentangkan. Bahkan eksistensi pers waktu itu mulai redup seolah kembali pada awal dekade 1980-an, beruntunglah tinggi untuk beinsan pers mahasiswa masih mempunyai semangat yang tinggi untuk terus berfikir kritis, oleh sebab itulah pers mahasiswa masih terus menghiasi organisasi kampus di Indonesia hingga sekarang.
Buku ini berusaha mempertegas ideologi dan orientasi pers mahasiswa sebagai pelaku intelektual yang mampu berfikir kritis dan menciptakan perubahan, dengan menjunjung tinggi moral dan etika serta mempertahankan martabat bagsa dengan berpihak terhadap rakyat.
Buku ini merupaka sejarah tentang kiprah Pers Mahasiswa yang memberi inspirasi untuk pembacanya, buku ini juga dapat memupuk semangat para aktivis pers mahasiswa untuk tidak berhenti berfikir kritis dalam menyikapi suatu fenomena. Buku ini memberikan kesan yang mendalam tentang sejatinya seorang pers yang harus mampu menghadapi segala tantangan yang akan menghancurkan eksistensi aktivis pers itu sendiri, buku ini juga memperjelas citra pers mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu berdiri di barisan depan untuk melawan kekuasaan demi masyarakat.

Kelemahan dalam buku ini adalah ketika buku ini mengatakan bahwa pers mahasiswa itu memiliki orientasi dan ciri yang berbeda sesuai dengan kondisi zaman, buku ini tidak mengakhiri sejarah pers mahasiswa yang di ceritakan di dalamnya secara jelas. Buku ini juga hanya menginspirasi lewat masalah-masalah yang dihadapi oleh pers mahasiswa diwaktu itu. Buku ini menurut peresensi kurang relevan dengan kehidupan pers mahasiswa saat ini.