Perombakan Jadwal Sepihak Rugikan Mahasiswa - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

Perombakan Jadwal Sepihak Rugikan Mahasiswa



Pihak akademik mengizinkan perombakan jadwal dan perpindahan kelas, asal semua itu  disepakati bersama. Namun jika ditemukan ketidak adilan maka pihak yang terlibat dalam kegiatan akdemisi itu, pasti ada yang dirugikan.

Fakultas Dakwah dan Komunikasi memberi kebijakan untuk mahasiswanya mengenai perencanaan studi, yang mana mahasiswa bisa merencanakan program studi untuk semester selanjutnya atas dasar Indek Prestasi Komulatif (IPK) di semester sebelumnya. Dimana mahasiswa yang akan melaksanakan Kartu Rencana Studi (KRS), dia akan diberi batas maksimal pengambilan SKS sesuai dengan IPK yang berhasil diperoleh. Pihak Fakultas memberikan kelonggaran pada mahasiswa yang IPK-nya tinggi ataupun rendah dengan memperbolehkan mahasiswa mengambil semua SKS yang menjadi batas maksimal atau hanya mengambil sebagian saja, dalam artian pihak fakultas tidak memaksakan mahasiswa untuk mengambil semua batasan SKS-nya. Namun kebanyakan mahasiswa mengambil semua batas SKS tersebut.

Mengacu pada banyaknya jumlah mata kuliah yang di ambil sesuai dengan batas maksimal SKS-nya, sehingga berdampak pada masa perkuliahan. Banyak ditemukan fenomena rombak jadwal yang tidak sesuai dengan jadwal yang diberikan akademik. Perombakan semacam ini biasa terjadi jika kedua belah pihak, baik dosen maupun mahasiswa sama-sama setuju.

Namun apa yang sudah disepakati itu, saat ini justru membawa masalah. Pasalnya, perombakan jadwal justru menghadirkan benturan dengan jadwal mata kuliah yang lain. Hal ini sama dengan yang dikeluhkan Achmed, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pengembangan Masyarakat Islam. Menurutnya perombakan jadwal di kelas tidak merangkul semua kesepakatan bersama. Teman-temannya yang merubah jadwal secara sepihak justru mengakibatkan dia mengorbankan salah satu mata kuliahnya. “Saya merasa dirugikan, karena perombakan yang dilakukan teman-teman, malah membuat jadwal mata kuliah saya berbenturan dengan mata kuliah saya yang lain,” pungkasnya.

Achmed juga menambahkan kmentarnya, perihal upaya perombakan jadwal haruslah bisa merangkul semua kesepakatan mahasiswa. agar supaya tidak ada pihak yang dirugikan akibat adanya benturan jadwal. “Saya meminta kesudian teman-teman mahasiswa agar perpindahan jadwal ini bisa disesuaikan dengan kepentingan semua anggota kelas, jangan sampai berangkat dari keputusan sepihak,” tambahnya.

 Hal senada juga dirasakan oleh Nana (bukan nama sebenarnya), Mahasiswi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam ini juga memaparkan keluhan yang sama perihal perombakan jadwal. Dia menjelaskan bahwa perpindahan di kelasnya bermula dari keinginan dosen, karena jadwal dosen yang bertabrakan dengan aktivitas-nya diluar kampus. Setelah semua pihak setuju atas dirombaknya jadwal, ternyata ada mahasiswa yang tidak bisa mengikuti mata kuliahnya karena berbenturan dengan mata kuliah lain. Yang akhirnya menjadikan perpindahan tersebut tidak berlanjut dan tetap sebagaimana jadwal yang diberikan akademik. “Untung dosen saya masih mempertimbangkan masukan mahasiswa,” jelas mahasiswi asal Surabaya ini.

Mengenai kejadian-kejadian diatas, saat ditemui crew new-news (02/04) Wakil Dekan I Imas Maesaroh selaku bagian kurikulum menanggapi, bahwa perpindahan kelas semacam itu memang diperbolehkan oleh pihak akademik, namun semua itu juga harus berlandaskan kesepakatan bersama tidak boleh ada yang merasa dirugikan. Jika ditemukan kerugian disalah satu belah pihak lebih baik tidak perlu adanya rombak jadwal. Apalagi jika mudhorot-nya sangat dirasa, seperti mahasiswa harus mencari kelas kosong. Yang mana pihak akademik tidak mengizinkan jika aktivitas belajar dilaksanakan di tempat lesehan. “Tidak boleh jika belajarnya dilesehan, apalagi kuliah di masjid," tegasnya.

Wakil Dekan I pun menambahkan bahwa mahasiswa maupun dosen sekalipun harus mementingkan kebaikan bersama. Dia mengungkapkan jika ditemukan suatu dampak yang  tidak baik, maka suatu keharusan dari pihak yang bersangkutan untuk menolak hal tersebut apalagi jika dampaknya sampai mengambil hak paksa seseorang, “Masak sudah mahasiswa tidak bisa mempertahankan haknya,” tanggap-nya dengan semangat.

No comments:

Post a Comment