Plato, Si Dahi Lebar - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 21 April 2015

Plato, Si Dahi Lebar


            Aristokles merupakan sosok yang berperawakan tinggi dan tegap, dahi dan bahunya lebar, parasnya yang elok dan menawan. Di dalam tubuh yang besar dan sehat itu pulalah terdapat pemikiran-pemikiran yang mendalam dan tajam. Tidak heran jika salah seorang gurunya lebih akrab memanggilnya dengan sebutan Plato. Dalam bahasa Yunani Plato berarti lebar, yang menunjukkan kepada salah satu ciri fisiknya, yaitu dahi dan bahunya yang lebar.
Plato dilahirkan dan dikebumikan di Athena. Dia lahir pada tahun 427 SM dan meninggal dunia pada tahun 347 SM. Dia berasal dari keluarga bangsawan, Salon (6 SM) adalah kakek dari jalur ibunya mempunyai jabatan penting di kota (kerajaan) Athena, yaitu sebagai pemberi hukum. Sedangkan dari jalur ayahnya, plato masih keturunan raja terakhir Athena.
Sejak berumur 20 tahun, Plato menimba ilmu kepada Socrates dan pengaruhnya sangat kuat. Sehingga menjadikan Plato sebagai murid yang setia. Pada saat Socrates berumur 71 tahun, dia divonis hukuman mati (meminum racun cemara) oleh pengadilan di Athena dengan tuduhan telah merusak akhlak dan berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan anak muda yang ada di Athena.
            Semenjak itulah, Plato mengembara selama selama 12 tahun untuk mencari kebijaksanaan. Awalnya ia pergi ke Megara (Yunani), tempat Euklides mengajarkan filsafatnya. Kemudian dia melanjutkan perjalanannya ke Kyrena (Afrika Utara), di sana Plato memperdalam pengetahuannya tentang matematika kepada Theodoros. Kemudian dia pergi ke Italia Selatan dan terus ke Sirakusa di pulau Sisiria.
            Sepulangnya dari pengembaraan tersebut, Plato mendirikan sekolah bagi orang-orang yang hendak mempelajari ilmu, seperti etika, metematika, ataupun logika. Tempat tersebut diberi nama Akademia, dikatakan bahwa Akademia merupakan sekolah tingkat tinggi pertama yang ada di barat.
Di Akademia inilah, Plato mempunyai murid yang pada akhirnya menjadi salah satu Filosof yang paling berpengaruh di Yunani, Ariestoteles. Diceritakan bahwa Ariestoteles pernah bertanya kepada Plato, apakah manusia itu? Plato kemudian menjawab “Manusia itu adalah binatang/hewan yang berkaki dua”. Pada keesokan harinya, Ariestoteles membawa seekor ayam lalu memperlihatkannya, “Inikah yang anda maksud manusia?”.
Setelah Plato melihat apa yang dibawa oleh muridnya, dia merevisi definisi tentang manusia, “Manusia adalah hewan berkaki dua dan tidak berbulu”. Mendengar jawaban tersebut Ariestoteles tidak kehabisan akal. Keesokan harinya, ia kembali menghadap gurunya dengan membawa seekor ayam yang telah dicabuti bulunya. Kemudian ia kembali bertanya, “Apakah ini yang guru maksud dengan manusia?”. Cerita tersebut berhenti sampai di sini, tidak ada anekdot yang mengisahkan tentang manusia.
Inti dari ajaran filsafatnya Plato terdiri dari empat bagian, yaitu pertama, ajaran tentang idea. Idea merupakan inti dari pemikiran Plato. Namun, pengertian idea yang dikemukakan oleh Plato berbeda dengan penafsiran ilmuan pada abad modern yang hanya mengartikan idea sebatas gagasan atau tanggapan yang hanya terdapat dalam pemikiran saja. Sehingga seseorang hanya akan beranggapan bahwa idea bersifat subjektif belaka. Berbeda halnya dengan Plato, baginya idea merupakan semua yang ada di entitas ini sudah ada di alam idea. Idea tidak bergantung kepada pemikiran tapi justru sebaliknya pemikiranlah yang bergantung kepada ide. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hubungan antara idea dan realitas, yaitu idea hadir dalam benda-benda konkret, benda konkret mengambil bagian dalam idea, dan idea merupakan model atau contoh bagi benda-benda konkret. Benda tersebut merupakan model tidak sempurna yang menyerupai model tersebut.
Kedua, ajaran tentang jiwa. Jiwa merupakan pusat kepribadian manusia. Tidak ubahnya dengan idea, jiwa juga bersifat abadi. Plato mengatakan bahwa manusia mengenal suatu benda adalah proses mengingat sesuatu yang sudah ada dalam dunia idea.
Ketiga, ajaran tentang etika. Manusia dalam menjalani kehidupannya pasti mempunyai tujuan yang baik, tujuan tersebut bisa terapai hanya dalam negara (police). Bagi Plato, manusia merupakan makhluk sosial, dengan demikian berdasarkan kodratnya manusia hidup dalam negara. Dan keempat, ajaran tentang negara. Menurut Plato negara ada karena kepentingan yang bersifat ekonomis atau ada hubungan mutualisme antara pemerintah dan rakyat yang menciptakan spesialisasi di bidang pekerjaan. Negara yang baik pasti terdiri dari; pertama, golongan penjaga, yang tidak lain adalah seorang filsuf yang dipercaya untuk memimpin sebuah negara. Golongan pembantu atau prajurit, yang mempunyai tugas untuk menjaga kedaulatan negara dan membantu segala tugas kepala negara. Dan ketiga, golongan pekerja atau petani, yang menanggung semua kehidupan negara.

Sumbangannya dalam dunia filsafat sangat besar, tidak heran jika kemudian Plato dianggap sebagai salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam dunia filsafat. Hal tersebut terbukti dengan didikannya dalam membentuk generasi muda yang unggul dan menjadi pemikir dalam filsafat, salah satu muridnya yang sangat terkenal adalah Ariestoteles. Selain itu, bisa dilihat dari karya-karyanya yang sangat monumental, seperti Republic, Phaidros, Theaitetos, dan Symposion.