Proses Panjang Kaderisasi Ara Aita - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 21 April 2015

Proses Panjang Kaderisasi Ara Aita


Tidak mudah untuk menjadi kader Ara Aita (Arta), karena harus mempunyai semangat yang tinggi dan rasa ingin tau. Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang sudah berumur 33 tahun ini masih aktif melakukan kaderisasi yang cukup keras, ketika kader sudah tidak siap menghadapi sistem yang ada di Arta tersebut, maka boleh keluar atau dikeluarkan.

Lembaga Pers Mahsiswa (LPM) Ara Aita (Arta) Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang sudah berumur 33 tahun masih aktif dalam melakukan poses kaderisasi. Untuk bisa menjadi kader Arta, wajib mengikuti Diklat Jurnalistik Dasar (DJD) yang dilakukan selama tiga hari. Diklat tersebut sebuah syarat pertama untuk menjadi crew Ara Aita. Karena dalam diklat tersebut, mahasiswa akan mendapatkan berbagai macam pengetahuan dasar tentang jurnalistik, seperti nilai-nilai dan teknik penulisan berita, opini, cerpen, dan lain sebagainya.
Menurut penuturan Iqbal, Pimpinan Umum LPM Arta menuturkan pihaknya dalam diklat tersebut menggunakan metode praktek lapangan, sehingga peserta tidak hanya mendengarkan dan memahami materi diklat melalui penjelasan nara sumber, namun mereka juga harus melakukan peliputan langsung di lapangan dan menuliskannya dalam bentuk berita, baik straigh news, depht news ataupun features. Hasil tulisan tersebut dievaluasi langsung oleh narasumber yang memang merupakan senior arta yang sedang bekerja di berbagai massa media seperti kompas, tempo ataupun jawab pos group.
“Kalau dari hasil evaluasi tersebut ditemukan beberapa kesalahan mendasar, maka para peserta diminta untuk memperbaiknya kembali, lalu di evaluasi lagi, begitu seterusnya, hingga peserta benar-benar bisa membuat berita walaupun belum sempurna,” ungkapanya ketika ditemui di LPM Arta....?
Lebih lanjut, Iqbal menuturkan bahwa selama proses diklat itu berlangsung banyak peserta yang kerap mengeluh, pasalnya jadwal dan model pelatihan tersebut memang diniliai cukup ketat dan keras. Dalam waktu tiga hari peserta harus menerima minimal enam materi, dan masing-masing materi peserta diberikan sebuah tugas yang harus dilakukan. “Karena hal itulah banyak peserta yang kerap tidak bertahan hingga akhir pelatihan, ya kadang-kadang dari 30 peserta hanya tinggal 10-15 orang yang masih kuat mengikuti pelatihan tersebut,” tuturnya.
Proses kaderisasi yang dilakukan oleh LPM Arta tidak hanya berhenti pada diklat jurnalistik saja, namun para peserta yang bertahan untuk terus berproses di LPM Arta akan dibimbing terus untuk bisa menulis dengan baik. Pasca diklat peserta akan ditugaskan untuk menerbitkan buletin new-news yang merupakan media pembelajaran bagi kader-kader Arta yang baru. Dalam proses penerbitan ini peserta akan diberikan tanggung jawab secara langsung untuk mengelola media.
“Bagi peserta diklat yang bertahan akan menerbitkan sebuah buletin new news, yang memang sebuah kewajiban untuk melalui kaderisasi. Akan tetapi tidak dilepas begitu saya, mereka selalu dibimbing untuk menuju penulisan yang baik,” tutut Lailatul Badriyah selaku pimpinan redaksi Majalah Arta.
Perempuan yag akrab dipanggil Ila ini menambahkan bahwa buletin tersebut terbit setiap minggu sekali, dan untuk sebuah penerbitan mereka akan mengadakan rapat tema terlebih dahuluuntuk menentukan berita apa saja yang akan diterbitkan oleh para kader baru Arta. Berita yang akan mereka angkat melingkupi kampus. Setiap rapat tema mereka selalu didampingi oleh para pengurus bahkan alumni Arta, sebab seringkali anggota baru tersebut kebingungan dalam melakukan rapat tema dan menetapkan sebuah tema.
“Tema berita yang akan mereka angkat harus dirapatkan terlebih dahulu. Dalam rapat tersebut ada senior yang mendampingi mereka, kalau ada kebingungan dalam rapat,biasanya senior itu yang akan menuntun mereka,” tambahnya
Alur dan isi berita dalam buletin tersebutbersifat kritis dekonstruktif, karena kader Arta memang dicetak untuk kritis melalui sebuah penulisan. Akan tetapi mereka tidak hanya melakukan kritikan terhadap kampus, tapi mereka juga akan membangun konsep untuk kebaikan kampus.“Untuk berita mereka yang akan diangkat dalam rapat tema tersebut, ia bersifat kritis. Tapi kritikan mereka untuk membangun kedepan lebih baik,” tuturIla saat ditemui.
Setelah tulisan mereka selesai, setiap tulisan itu akan dievaluasi sebelum di layout. Evaluasi  dilakukan oleh senior Arta tiap minggu sekali, karena hasil tulisan mereka masih ada sebuah kesalahan seperti kesalahan alur paragraf, kalimat dan tanda baca. Senior akan melakukan bimbingan terhadap mereka untuk memperbaiki kesalahan tulisan tersebut.
Hal tersebut dibenarkan oleh Eko Dian Wahyudi, mantan Pimpinan Umum LPM Ara Aita periode 2013-2014, dia menuturkan bahwa dalam proses belajar menulis di Arta para kader Arta harus melakukan proses yang panjang, terlebih lagi dalam penerbitan buletin new-news, para peserta harus melalui beberapa tahapan, mulai dari tahapan diskusi tema, peliputan, penulisan berita, dan tahap evaluasi.
“Tulisan yang sudah selesai akan di evaluasi kembali, supaya tidak ada kesalahan dalam tulisan tersebut dan tidak membingungkan bagi para pembaca bulatin new news,” katanya.
Namun Eko juga menambahkan bahwa dalam proses tersebut, kader-kader Arta yang baru harus siap menghadapi berbagai macam tekanan, karena disamping deadline waktu yang ketat, kader-kader Arta harus memiliki wawasan dan pengetahuan yang cukup. Oleh karena itu walaupun mereka dibebani oleh penerbitan new-news namun mereka juga harus melakukan kajian ataupun diskusi tentang berbagai tema, seperti filsafat, logika, teori sosial, psikologi dan komunikasi.

“Menulis itu tidak mudah, harus memiliki pengetahuan yang cukup, karena itulah kader-kader arta harus rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk siap mengikuti semua proses pengkaderan yang ada, jika tidak maka mereka boleh keluar atau dikeluarkan oleh Arta,” pungkasnya.