Reformasi Sistem, Mentaldan Karakter Ala Mahasiswa - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

Reformasi Sistem, Mentaldan Karakter Ala Mahasiswa


Agen perubahan atau yang disebut Agent Of Change. Ketika mendengar istilah yang satu ini, tidak ada bayangan lain yang terlintas dalam pikiran sebagian orang, selain hanya tertuju kepada kita sebagai mahasiswa. Sebutan ini merupakan gelar yang disandang secara tidak langsung kepada setiap pemuda yang berstatus mahasiswa. Namun, apakah kita sudah sadar tentang seberapa besar makna yang terkandung dari kata “Mahasiswa”?. Siswa diberi arti sebagai orang yang melakukan pekerjaan dengan cara menuntut ilmu di sekolah. Lalu kemudian, kita tambahkan kata “Maha” didepan kata siswa dengan bagaimana seharusnya. Maha sendiri diartikan sebagai sesuatu yang besar dan tinggi dalam suatu kedudukan. Lalu bagaimana dengan penggabungan dua kata “Maha” dan “Siswa”? Ini yang seharusnya kita maknai lebih dalam bahwasanya, mahasiswa bukan hanya sekedar panggilan semata untuk orang yang menjalani pendidikan di perguruan tinggi atau universitas.
Seharusnya, mahasiswa menyandang gelar tersebut hanya ada dalam dunia ide saja. Semuanya yang disandang sebagai agen perubahan tidak ubahnya sebagai tong sampah dosen yang eksis dengan dunianya. Namun mahasiswa seharusnya menjadi intelek, motorik, penggerak, pendobrak, bahkan semua yang bersifat konstruktif untuk masyarakat yang tertinggal, lemah dan yang menjadi korban kebiadaban sebuah struktur, itulah mahasiswa.
Penulis mencoba lebih mendalami konteks ini, dengan berdiskusi singkat dengan mahasiswa aktif yang juga merupakan aktifis pergerakan mahasiswa dikampus UINSA. Melalui diskusi ini, perspektif tentang komparasi mahasiswa era lampau dengan saat ini bisa jauh lebih terbuka. Pasalnya, kita tidak bisa begitu saja menarik garis merah suatu pokok permasalahan, tanpa mengetahui sejarah dan napak tilasnya.
Mahasiswa dalam segi fungsionalnya memiliki peran aktif yang cukup besar terhadap negara. Namun demikian, mahasiswa dengan sejarah dan perjalanan panjangnya dimasa lampau hingga masa kini terus menerus mengalami siklus perubahan, dimana setiap siklusnya terjadi naik turun dalam mutu dan kualitas. Yang paling nampak ialah terjadinya perubahan antara dominan sikap aktif  mahasiswa, bertransformasi menjadi dominan sikap yang pasif. Dimana sifat ini sendiri secara tidak langsung berpotensi memiliki dampak yang besar terhadap peran asli pelajar yang berstatus mahasiswa. Mulai dari pengkerdilan mahasiswa oleh sistem yang ada saat ini, mental  mahasiswa yang mulai menciut digerus zaman, dan karakter penggambaran jati diri mahasiswa yang mulai memudar. Beberapa aspek ini saling berkaitan dan berkesinambungan antar satu sama lain. Sehingga ketiganya sangat perlu dianalisis dan dikritisi kembali oleh mahasiswa.
Dizaman ini mahasiswa berada dalam suatu sistem dan terjebak didalamnya. Jika ditinjau dari kacamata mahasiswa, seharusnya sistem yang ada pada perkuliahan saat ini membantu mencari jati diri mahasiswa. Namun, yang terjadi pada kenyataannya ialah potensi dan kreatifitas mahasiswa malah dikerucutkan oleh sistem tersebut. Kita ambil contoh melalui kurikulum perkuliahan saat ini. Kurikulum yang berlaku saat ini didesain dan ditujukan untuk menunjang nilai akademis mahasiswanya, dalam rangka memfokuskan mahasiswa terhadap proses pembelajaran di dalamnya. Lantas apakah sistem ini benar membatasi lingkup mahasiswa ataukah mahasiswa yang tidak cukup pandai mengatur waktu?
Dalam satu kali pertemuan mahasiswa dengan dosen, waktu pertemuan dan jam pembelajaran sudah diatur sedemikian rupa melalui kurikulum. Diantaranya 50 menit tatap muka langsung, ±80 menit mahasiswa belajar mandiri, dan sekitar 120 menit  tugas terstruktur.Waktu habis untuk sebagian besar jam kuliah dikampus. Dan inilah yang diterapkan sehingga dirasa pergerakan mahasiswa dibatasi dan dikerdilakan melalui sistem yang ada. Jika dirasa demikian, namun kenyataanya mahasiswa pun masih dapat menjadi seorang organisatoris.
Masuk pada ranah mental dan karakter mahasiswa. hal ini menarik untuk ditelaah dan dipelajari kembali kilasan perjalanannya. Perlu diketahui, pasalnya pada setiap era, mahasiswa kita mempunyai karakter pergerakan yang berbeda-beda. Dari karakteristik inilah harusnya muncul ciri khas yang membedakan gerakan masa dulu dengan gerakan masa kini. Diantaranya yang sering kita dengar dengan gerakan ‘66, gerakan ‘72, gerakan ‘80 dan yang terakhir terjadi pada rezim Soeharto yaitu gerakan ‘98. Dimana masing-masing gerakan sangatlah berbeda dalam bentuk pergerakan maupun analisis pesoalan dan masalahnya. Satu contoh pebedaan gerakan ‘66 dan gerakan ‘98. Dimana pada eranya, gerakan ‘66 berhasil mendapat dukungan dan juga kepercayaan penuh dari aparat keamanan negara yaitu TNI dan POLRI. Sedangkan pada gerakan ‘98 justru terjadi sebaliknya, mahasiswa yang berdemonstrasi kala itu malah menjadi musuh berat bagi aparat keamanan. Jika kita kembali melihat kebelakang, situasi dan kerusakan yang disebabkan saat itu sampai menyebabkan gonjang-ganjing dan ketidakstabilan negara yang berkepanjangan. Pertanyaannya sekarang, apa yang menyebabkan keadaan yang sangat bertolak belakang ini? Pada era gerakan ‘66, masalah yang diangkat kepermukaan merupakan masalah dan kepentingan semua aparatur negara, bukan hanya masyarakat bawah. Sehingga berhasilnya gerakan ‘66 pada saat itu merupakan keberhasil bersama. Berbeda dengan era ‘98, dimana pada rezim Soeharto kala itu yang bersifat absolut sehingga sangat susah digoyahkan bahkan hampir mustahil dijatuhkan.
Lantas bagaimana dengan mahasiswa era modern ini? Apa yang sudah kita lakukan sebagai agen perubahan? Sudahkah kita suarakan jeritan rakyat? Sudahkah kita sampaikan hemat kita pada persoalan negara? Sudahkah kita kritisi setiap sistem yang dibuat dan ditujukan untuk kita? atau mungkin, kita yang belum sepenuhnya sadar akan tugas mulia kita? think twice.