Rela Buka Mata 24 Jam - Araaita.com

Breaking News

Tuesday, 21 April 2015

Rela Buka Mata 24 Jam


“Orang sukses adalah mereka yang melihat kesempatan dalam kesempitan, dan orang gagal adalah mereka yang melihat kesempitan dalam kesempatan,” (Chabib Musthafa).
Ungkapan tersebut dikatakan pada Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ara-Aita Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya yang melaksanakan tasyakkuran atas hari jadinya yang ke-33 tahun di daerah Margorejo Gang II No. 011, pada hari Rabu, 15 April 2015. Dalam kesempatan tersebut, Chabib Mustafa tak henti-hentinya memberikan motivasi dan semangat kepada crew Ara-Aita yang hadir.
“Orang bisa dikatakan sukses apabila dia sanggup melakukan sesuatu yang sama dengan orang lain tapi dengan cara yang berbeda dan dalam perspektif berbeda pula, misalnya ada dua orang yang sama-sama membaca buku, tapi salah satunya lebih memahami isi buku dan melakukan kajian-kajian. Sedangkan yang satunya hanya membaca tanpa memahami dan sukar untuk melakukan kajian,” ungkapnya.
Nasehat tersebut semakin memperkuat tekad untuk tetap berproses di Ara-Aita, walaupun banyak cobaan-cobaan yang harus dilewati tapi harus tetap dijalani dengan penuh keteguhan hati dan keikhlasan. Semua angkatan mempunyai cerita yang berbeda dalam berproses di Ara-Aita, tapi semua proses pasti bermuara pada satu titik, yaitu kesuksesan.
Rafa salah satu senior Ara-Aita yang kini menjadi wartawan di Koran Tempo, juga turut memberikan motivasi dan pengalamannya selama berproses di Ara-Aita. Ia mengungkapkan bahwa berproses di Ara-Aita sangatlah sulit, apabila ada mahasiswa yang tidak sungguh-sungguh berproses di Ara-Aita maka dengan sendirinya dia akan keluar dari barisan. “Banyak teman-teman kami yang keluar dari Ara-Aita karena tidak tahan dengan didikan yang ada di Ara-Aita,” ujarnya sembari mengenang kembali masa lalunya ketika belajar di Arta.
Lebih lanjut, alumni angkatan tahun 2007 ini menuturkan tentang pengalamannya pada saat berproses di Ara-Aita. Banyak pengalaman pahit dan manis yang dia rasakan bersama teman-temannya, mulai dari sikap senior yang keras saat menekan para kadernya untuk belajar, hingga kebersamaannya bersama teman-temannya. Bahkan menurut Rafa pernah pada suatu ketika pada saat hendak belajar ke rumah salah satu senior ia terpaksa harus berjalan kaki sekitar 15 Km menuju rumah salah satu seniornya, namun setibanya di sana ia bersama teman-temannya dibiarkan  duduk di depan teras saja sampai Subuh dan akhirnya ia pun pulang.
“Berproses di Ara-Aita sangatlah kejam. Kami berangkat ke rumah Cak Chabib dengan jalan kaki pada jam 18:30 wib untuk belajar tapi kami hanya dibiarkan menunggu sampai Subuh,” ungkapnya ketika bercerita dengan crew new news.
Tidak hanya itu, ia pernah disuruh untuk menulis berita dalam kurun waktu satu sampai dua jam. Selain itu, tidak sedikit berita yang telah ia buat dihapus dan disuruh membuat kembali berita yang telah diperoleh. Perlakuan semacam itu hampir setiap hari ia dapatkan dari senior. “Pernah suatu ketika kami terlambat menulis berita, Cak Chabib datang ke basecame Ara-Aita meminta kami untuk menyelesaikan tulisan kami hanya dalam waktu satu jam setengah,” imbuhnya.
Walaupun demikian, Rafa mengaku bahwa ia tak pernah patah arang, ia menjadikan hal tersebut sebagai cambuk yang terus memotivasinya untuk belajar. Tapi tidak sedikit teman-temannya yang tidak tahan dalam berproses sehingga memilih untuk keluar dari Ara-Aita. Dari yang awalnya 30 orang hingga tersisa sekitar 7 orang yang tetap kuat beproses hingga akhir.

Rafa menegaskan bahwa dengan didikan seperti itulah, ia dan teman-temannya secara tidak langsung telah diajarkan bagaimana cara belajar dengan baik. Banyak sekali ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan selama berproses di Ara-Aita. Apa yang ia dapat hari ini tidak lain dan tidak bukan berkat Ara-Aita. “Kami mendapatkan ini semua bukan dari bangku kuliah tapi semua ini kami dapat dari Ara-Aita,” jelasnya.