Semangat Juang Sang “Damar” - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

Semangat Juang Sang “Damar”


          
  Terasa sudah menyatu antara keringat dan kulit hitam itu, menetes dan mengalir bebas setiap ia berjalan di bawah terik matahari. Damar memikul kayu-kayu berat itu di pundaknya, padahal ia baru selesai pulang dari SMA Islam di desanya. Damar, meski berasal dari latar belakang ekonomi yang miskin, ia tetap ulet dan bekerja keras demi menghasilkan uang pendaftaran di Perguruan Tinggi  Islam Negeri yang diinginkannya kelak, suatu hari nanti.
            Suatu  ketika,  Damar tersudut di kamarnya yang  sederhana dan berukuran minimalis itu, Damar bermunajat kepada tuhannya, ia mengangkat kedua tangannya seraya berkata: “Ya allah, mudahkanlah pekerjaan yang engkau karuniai ini, dan berikanlah rizeki yang melimpah kepada hambamu untuk keperluan yang sangat penting demi menuntut ilmu di perguruan tinggi yang hamba ingini,”  pinta Damar ditengah keheningan malam.
            Sekian lama bermunajat, tanpa sadar damar meneteskan air matanya kerena saking besarnya hasrat Damar untuk mencari ilmu di perguruan tinggi yang ia idam-idamkan selama ini.  Lalu tiba-tiba terdengar suara panggilan lelaki paruh baya yang bersumber dari luar kamarnya, “Damar... damar.... ini bapak nak,” teriak bapak Damar dari balik pintu kamar.
            Lalu Damar melangkah mendekati pintu, lantas membukakan pintu untuk mempersilahkan lelaki paruh baya itu untuk segera masuk ke dalam kamar. Damar menatap ayahnya ragu, seakan ada hal yang ingin ia bicarakan tetapi ia takut untuk menyampaikannya pada lelaki tua ringkih di hadapannya itu, yang tak lain bapaknya. Mengapa tidak? Ayahnya sudah tua, ia takut membebani pikiran ayahnya, sementara ia sendiri punya keinginan besar yang mau tak mau memang harus didiskusikan dengan ayahnya.
“Pak! Damar mau bicara,” ucap Damar dengan nada bicara yang melemah.
“Ada apa Damar? Bicara saja nak,” ucap Bapak Damar dengan lirih.
            Akhirnya Damar menceritakan keinginannya kepada bapaknya bahwa suatu hari  ia ingin melanjutkan pendidikan nya di Perguruan Tinggi. Dan setelah mendengar keinginanan anaknya, serta melihat kesungguhan Damar, akhirnya Bapak Damar pun memberi izin kepada anak semata wayang nya itu untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginannya.
            Akhirnya mendengar persetujuan ayahnya, Damar merasa senang. Segaris senyum terlihat di wajah Damar. Bagaimana pun menurut Damar yang paling utama adalah izin dari orang tua dan  do’a dari orang tua supaya dimudahkan pula oleh yang kuasa jalannya ketika ia mau melaksanakan tes di Perguruan Tinggi nanti. 
            Lalu, dua bulan kemudian pasca hari itu. Kini Damar telah mengikuti ujian tes tulis di salah satu Perguruan Tinggi di Surabaya. Ternyata luar biasa hasilnya, Damar berhasil diterima di Perguruan Tinggi di daerah Jawa Timur yang bertempatan di Jln. Ahmad Yani yang tak lain adalah Universitas Islam Negeri Sunan Ampel surabaya.
            Dan hari-hari Damar pun sudah dimulai di kampus  yang bercorak islam itu, tetapi kian hari uang nya kian menipis. Tapi Damar tak ambil pusing, ia pun berinisiatif untuk menjual kue  seperti yang  pernah dilakukan dahulu ketika masih di Desa. Maka setiap pagi sebelum ia belanja ia selalu mendahulukan sholat malamnya agar apa yang ia kerjakan selalu lancar dan tidak ada halangan. Setelah menunaikan ibadah malam, ia langsung belanja bahan-bahan yang ia ingin kan untuk diolah menjadi kue tersebut, dan dijual di dalam kampus. Damar selalu menawarkan jualannya seperti orang pedagang kaki lima, mulai pagi jam 07.00 sampai berkumandangnya adzan maghrib.
            Karena  semangat nya yang sangat luar biasa, maka dagangan yang ia bawa selalu habis. Ketika jualannya habis Damar selalu berkata dalam hatinya “alhamdulillah atas nikmat allah yang telah di berikan kepada hambanya,” serunya seraya  menghitung hasil jualannya yang sudah terjual semua, lantas dimasukkannya uang  hasil penjualanjannya itu ke dalam sebuah tabungan yang berbentuk ayam.
Di sela-sela aktivitas berdagangannya yang sangat laris, ia juga aktif di dalam kelas maupun organisasi lainnya. Damar yang di sibukkan dengan pekerjaanya, ia tidak pernah mengeluh dengan pekerjaan yang ia lakukan. Sehinnga di akhir semester ia mendapatkan nilai yang sangat luar biasa dan menjadi lulusan yang terbaik no.2 di Universitas Islam Negeri tersebut. Dapat di katakan bahwa tekat sosok  Damar harus di contoh bagi mahasiswa lainnya. Lahir dari keluarga yang tidak mampu, tidak menjadi alasan tidak menuntut ilmu.

  

No comments:

Post a Comment