UINSA Belum 100% Kampus Islam? - Araaita.com

Breaking News

Monday, 6 April 2015

UINSA Belum 100% Kampus Islam?


Kampus atau Universitas merupakan suatu tempat berkumpulnya para komunitas intelektual. Sebagai orang yang beragama Islam tentunya kita mendambakan Universitas yang Islami. Dalam buku “The Concept of Islamic University” yang ditulis oleh Hamid Hasan Bilgrami dan Sayid Ali Asyraf, Universitas Islam adalah Universitas yang memiliki konsep pendidikan yang bersandar pada tauhid, konsep ilmu yang diajarkan bersandar pada al-Qur’an dan al-Hadits, staf pengajar yang menjunjung tinggi nilai Islam, Mahasiswa yang terseleksi dengan memperhatikan aspek moralitasnya, serta pimpinan dan staf yang berdedikasi dan cerdas.
            Tetapi dalam hal ini, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya yang kampusnya bernuansa Islam, belum 100% bisa disebut sebagai kampus Islam. Dari pengertian kampus Islam yang sudah ditulis oleh Hamid Hasan Bilgrami dan Sayid Ali Asyraf, hanya beberapa hal saja yang mampu diwujudkan oleh UIN Sunan Ampel untuk bisa disebut kampus Islam. Karena pada kenyataannya, masih ada beberapa hal yang belum dilaksanakan atau diwujudkan dengan sempurna oleh UIN Sunan Ampel ini.
            Mengapa UIN Sunan Ampel masih belum sempurna menjadi kampus Islam? Terdapat beberapa fakta, dimana fakta ini menunjukkan masih kurangnya syarat UINSA disebut kampus Islam. Salah satunya dari aspek moralitas Mahasiswa, sering kita jumpai disetiap sudut di UINSA laki-laki dan perempuan yang berhubungan tanpa batas, maksudnya dalam hal ini mereka menjalin hubungan tidak dibedakan antara yang laki-laki ataupun perempuan, mereka menganggap semua sama. Sehingga terkadang dari mereka melakukan hal yang tidak pantas untuk dilakukan menurut pandangan Islam, seperti saling bersentuhan tangan ataupun tidak menjaga pandangan dari lawan jenis, hal ini sudah melanggar aturan Islam yang harus dijauhi.
            Bukan hanya dari moralitas Mahasiswa yang bermasalah, namun juga dari aspek dimana staf pengajar harus menjunjung tinggi nilai Islam. Dalam hal ini, dosen yang menjabat sebagai teladan Mahasiswa harusnya memberi contoh yang baik dari nilai-nilai Islam yang dipelajarinya. Tetapi pada kenyataannya, masih ada Dosen yang masih belum menerapakan nilai Islam, salah satunya dalam hal berpakaian. Tentunya jika kita berada di kawasan UIN Sunan Ampel yang sudah jelas kampus Islam, seharusnya kita bisa memakai pakaian yang sesuai aturan agama dan lebih sopan. Namun, masih ada saja dosen yang tidak memberikan teladannya untuk berpakaian baik sesuai aturan Islam, malah Dosen tersebut menunjukkan cara berpakaian yang jauh dari kata Islami.
            Dalam perspektif Islam, hubungan antara laki-laki dan perempuan mempunyai batas yang tidak bisa diabaikan begitu saja, karena bisa mengganggu Iman kita. Seperti yang diungkapkan dalam Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabarani  “Andai kata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa bersalaman atau bersentuhan dengan seorang wanita yang bukan mahram bagi laki-laki tersebut diharamkan. Tapi hal ini tidak berlaku di UIN Sunan Ampel Surabaya, dimana kita dapat menemukan masih banyaknya laki-laki dan perempuan yang secara sadar saling bersalaman ataupun bersentuhan. Malah terkadang antar laki-laki dan perempuan tidak ada batas sedikitpun dalam bergaul. Padahal sebagai seorang mahasiswa Universitas Islam, kita patut membatasi diri agar terdapat perbedaan juga antara Universitas Islam dan bukan.
            Dari cara berpakaian, Dosen pengajar seharusnya bisa memberi contoh kepada mahasiswanya, yaitu berpakaian yang sopan dan baik sesuai ajaran agama Islam. Dalam hal ini seperti dijelaskan pada salah satu Ayat al-Qur’an Surah An Nuur ayat 31, “Katakanlah pada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada mahram laki-laki mereka.” Namun, aturan berpakaian menurut Islam ini tidak semua Dosen mampu menjalankannya, seperti halnya pengakuan dari salah satu Mahasiswa di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, bahwa ada dosen pengajar yang masih menggunakan pakaian tidak sesuai aturan Islam.
            Mungkin kesemua hal itu memang tidak akan berlaku jika berada di Universitas selain Islam, bahkan semua hal tersebut mungkin tidak akan menjadi aturan yang terlalu penting untuk dijalankan. Tetapi kita tidak boleh lupa, bahwa sekarang kita berada di sebuah Universitas yang di dalamnya terikat dengan banyak aturan tentang Islam. Tidak seharusnya kita mengabaikan begitu saja aturan Islam yang ada. Karena Universitas Islam hadir tidak hanya untuk memperbaiki keahlian akademik saja, tapi juga memperbaiki akhlak bagi setiap Mahasiswa di dalamnya. Universitas Islam hadir dengan aturan yang sesuai dengan kaidah Islam, yang sebenarnya hal ini untuk membedakan dengan Universitas lain yang non Islam. Jika ketentuan atau aturan dalam Islam tidak dijalankan di Universitas yang berbasis Islam, maka tidak ada bedanya antara Universitas Islam dengan Universitas yang bukan Islam.

            Mewujudkan sebuah kampus atau Universitas menjadi berbasis Islam memang tidak semudah “membalikkan telapak tangan”. Apalagi jika kita ingin mewujudkan hal tersebut disebuah Negara yang pada dasarnya begitu kompleks latar belakang sosial dan budayanya. Maka hal tersebut akan mengalami banyak sekali kendala. Namun, jika kita ingin mewujudkan di ranah Universitas yang benar-benar berbasis Islam di dalamnya, kita bisa bercermin kepada kampus-kampus terkemuka di negara-negara lain yang menerapkan nilai-nilai Islam, seperti kampus al-Azhar. Dalam kampus tersebut sistem perkuliahan antara laki-laki dan perempuan di tempatkan di tempat yang berbeda. Mungkin hal ini bisa menjadi solusi  mencegah terjadinya pergaulan antar laki-laki dan perempuan yang berlebihan dan sampai bersentuhan.

No comments:

Post a Comment