Artis - Araaita.com

Breaking News

Friday, 15 May 2015

Artis


             Orang-orang sedang ribut membicarakan fenomena bisnis lendir yang melibatkan para artis dan pesohor di negeri ini. seorang pesohor publik berinisial AA rupanya ditengarai punya jaringan esek-esek kelas atas yang kabarnya melibatkan para pejabat dan nama-nama besar di negeri ini. masyarakatpun berdebar-debar menunggu nama-nama siapa saja yang akan muncul di media beberapa hari mendatang. Saya lumayan terganggu juga karena keranjang feed saya dibanjiri permalink dari situs-situs yang getol membahas seputar isu tersebut. Terganggu lantaran kadung tergiur dengan judul-judul beritanya yang “panas”, setelah dibuka malah ketemu daftar jualan tas, sepatu, hape bekas dan lain sebagainya. Ealah...
                Selain itu, saya punya seorang dosen luar biasa (DLB), dan dia memang luar biasa. mungkin dia adalah salah satu alumni terbaik yang pernah dimiliki UIN Sunan Ampel Surabaya. Dia sempat menjadi host di berbagai acara televisi nasional. Seorang trainer, motivator, public speaker yang amat handal, juga pemilik sebuah event organizer besar yang bolak-balik jadi langganan berbagai perhelatan besar mulai dari instansi pemerintahan hingga partai politik. Ketika dia masuk kelas, tampilan, performa, intonasi bicara, outfit, hingga suara decit sepatunya mampu menyihir teman-teman sekelas saya untuk berebut duduk manis di barisan depan. Memasang muka se-antusias mungkin. Saya tentu saja seperti biasa cuma terkantuk-kantuk di bangku pojok belakang. Reputasi beliau adalah mampu mengorbitkan anak-anak berbakat hingga melejit sukses di dunia media dan entertaiment. Tak heran mengapa kawan-kawan saya begitu getol ingin tampil enerjik, cerah, berbakat dan meyakinkan di depan beliau. siapa tahu dirinya adalah seorang yang beruntung untuk diorbitkan. Saya yang dekil, rusuh, kampungan, sering terlambat, ngantuk dan kumus-kumus, tentu dalam hal ini adalah pengecualian.
                Bu Cita, begitu kami memanggil beliau, mengatakan di awal-awal masa perkuliahan, bahwa beliau memang berniat untuk mendidik dan menciptakan seorang Artis. Jadi segala sesuatu yang berkaitan dengan manner adalah segalanya. mungkin kawan-kawan menangkap image seorang artis itu adalah pesohor publik yang bermata cerah, punya kulit sebening buah langsat, dan bibir mengkilap seperti habis makan pisang goreng tidak dilap. Muncul di sinetron-sinetron dan panggung-panggung musik. Presenter terkenal, ataupun penyanyi handal. Kalo tidak main film ya merilis album. Mungkin di kepala mereka muncul gambar-gambar seperti Dian Sastro, Agnes Mo, ataupun Anggun C. Sasmi. Lain kepala saya yang langsung memunculkan para pelukis terkenal abad renaissans Michaelangelo (michael) Bounarroti, Rafaello (Rafael) Santi, Donato (Donatello) di Nicoolo, Fra Bartolo (Bartholomew) mmeo. Dan sang pencipta lukisan mistis legendaris “monalisa” Leonardo da Vinci begitu mendengar kata-kata Artis.
                Selain masalah redirect link yang menyebalkan, Saya pribadi, dan—begitu juga saya sarankan—seluruh kawan-kawan mahasiswa tidak perlu meributkan soal para artis ataupun orang-orang diatas sana yang sok ngartis demi sebuah aji bernama popularitas. Selain kemudian kita adalah wong cilik, kita juga patut memahami bahwa demikianlah alamiahnya jagat keartisan. Selalu dipenuhi oleh sensasi-sensasi sesaat yang amat bombastis. Yang juga nanti pada akhirnya layu tenggelam seperti kerupuk kehujanan. Artis dan pelanggaran moralitas sepertinya adalah saudara sekandung. Tidak usah saya sebutkan lagi berapa kasus anak pejabat yang kena masalah pelanggaran lalu lintas saat merayakan malam tahun baru maupun touring dengan kelompok moge-nya. Masyarakat dan orang-orang di warung kopi tempat langganan saya setiap pagi rutin membaca berita sambil mengelus-ngelus dada. Dengan ekspresi terperanjat, terbelalak dan suara gumaman ckckck saat membaca laku para pesohor tersebut menghiasi headline koran . Namun lama-kelamaan ya merekapun akan maklum, melupakannya, dan kita pun akan sama-sama berseloroh “namanya juga artis.”
                Namun tentang fenomena artis dan ngartis yang saat ini mewabah akut di kampus tercinta, ini baru menjadi urusan kita, para agent of change dan agent of social control. Bukannya saya kemudian mengajarkan untuk menjauhi sama sekali hal-hal yang menyangkut Ekshibisi maupun Showbiz. Itu merupakan hal yang layak untuk kita pelajari dan kuasai apalagi sebagai kaum muda muslim yang dituntut mesti progresif dan reaktif dalam menjawab tantangan zaman. Namun yang berusaha saya katakan disini adalah ada kekeliruan kaprah dalam pemahaman kita bahwa Artis adalah selebritis, Sosok figur yang menghiasi perayaan-perayaan, perhelatan-perhelatan, moment-moment, dan event-event. Mestinya kita harus pahami bahwa Artist adalah seorang seniman. Kreator dalam berbagai lini kehidupannya masing-masing. Artis dan Seni juga tidak melulu soal lukisan seperti Leo, Don, Rafael, Michael, dan Fra. Siapapun yang mampu mengkreasikan berbagai hal menjadi sesuatu yang baik dan bermanfaat, plus indah dan mengagumkan, adalah artis. Abraham Lincoln adalah Artisnya Demokrasi, Martin Luther King adalah Artisnya HAM, Mahatma Gandhi adalah artisnya Kemanusiaan, Adam Smith adalah artisnya ekonomi dan pebangunan, sama seperti iwan Fals yang merupakan artisnya suara sumbang khas kritik perlawanan, dan bang haji Rhoma Irama yang merupakan artisnya musik dangdut indonesia.
                Yap, Mahasiswa UINSA harus menjadi artis, seperti kata bu Cita. namun artis dalam bidangnya sendiri. dalam karakternya sendiri, dalam lini kehidupannya sendiri. artinya mampu menjadi kreator dan initiator. Tidak perlu repot-repot berusaha menjadi orang lain, kecuali memang punya tampang, suara, dan kesempatan yang mirip Dian, Agnes dan Anggun. Tiga figur ini saya rasa yang mewakili artis dalam dunia hiburan. Mereka mampu menjadi tenar dengan skill, kerja keras, dan komitment. Tidak bergantung pada Bom-Bom sensasi sesaat yang tak bisa diharapkan keberlangsungannya.  Seperti para pesohor sok ngartis yang senantiasa menghiasi feed-feed saya.
                Siapapun kita, Mahasiswa, Mahasiswi, lembaga, organisasi maupun komunitas tak perlu risau tentang bagaimana eksis dan menjadi terkenal. Selama kita mampu mengkreasikan sesuatu yang bermanfaat, saat itulah kita telah menjadi artis. Yang kurang cantik tidak perlu frustasi berlebihan menghamburkan uang untuk membeli seperangkat kosmetik. demikian organisasi tidak perlu jor-joran menghabiskan dana jutaan rupiah hanya untuk mengejar sebuah event demi tenar sesaat. bentuklah karakter, berani menentukan ruang dan waktu tempat berpijak, berani mengambil sikap, memilih di sektor mana akan berkreasi, serta di lini mana akan berjuang, maka disitulah kita akan tetap eksis ditepuk-tangani orang ataupun tidak.   
Hal lain yang perlu diingat kerja seorang kreator adalah terus-menerus, berkesinambungan, kontinyu, dan istiqomah. Bukan timbul tenggelam mengikuti warna kalender. Kalau menahbiskan diri sebagai pembela kaum buruh, ya tidak usah nunggu satu mei. Kalau ingin jadi perempuan inspiratif, tidak perlu menunggu 21 April. Jangan menjadi orang yang musiman, dan lembaga yang sekedar even-evenan, hilang momentumnya, hilang pula semangatnya. perubahan besar tidak akan tercapai dengan semangat yang angin-anginan. Jadilah Artis yang berafiliasi dengan Art (seni) bukan artis yang cenderung ke Celeb (perayaan). Karena seluruh lini kehidupan ini, ada seninya.

Jadi, Ayo sama-sama jadi artis!

                                                                                                                Taufiqurrahman.
                                                                                                                taufiqtheavenger@gmail.com