Kesatria Pulau Maluku - Araaita.com

Breaking News

Sunday, 14 June 2015

Kesatria Pulau Maluku

                Beberapa abad yang lalu, Maluku telah menjadi saksi bisu perjuangan Pemuda paling pemberani  di daerahnya. Keberanian itu di lukiskan dalam sebuah penghargaan sebagai pahlawan nasional tepat pada 6 November 1987. Pahlawan itu sering disebut dengan nama Kapitan Pattimura. Ia adalah seorang keturunan Bangsawan di daerah Maluku yang pernah belajar strategi berperang pada norang-orag Inggris yang mengguasai Maluku pada saat itu. Ketika itu ia adalah seorang Sersan Inggris, Berkat keahlian militer yang di pelajarinya dari orang-orang di Inggris yang pernah menjajah di maluku, ia berhasil Pemberontak kekuasaan belanda yang datang setelah Pemerintahan Inggir di Maluku berhasil di rebut oleh Belanda.
Ada dua kontroversi sejarah tentang kehidupan Pattimura. Dalam suatu buku yang berjudul “Api Sejarah” karangan Mansyur Surya negara, nama asli Patimura adalah Mat Lussy ia lahir di Hualoy, Seram selatan. Ia terlahir dari keturunan bangsawan dari Kerajaan Islam Sahulau, tidak di Jelaskan kapan tanggal dan tahun Pattimura lahir, namun disitu dijelaskan bahwa saat Mat Lussy lahir, kerajaan Sahulau dipimpin oleh Sultan Abdurrahman yang di kenal dengan sebutan Sultan Kasimillah.
Sedangakan menurut sejarah versi Pemerintah  yang ditulis oleh M. Sapija, nama asli Pattimura adalah Thomas Matullesy. Ia terlahir dari keturunan bangsawan yang berasal dari Nusa Ina yang sekarang terkenal dengan sebutan Seram, ayahnya adalah anak dari Kasimllah Pattimura matuless yang merupakan keturuanan dari Sultan Sahulau. Ayahnya itu bernama Antoni Matullesy.
Perjalan perjaungan Pattimura dimulai sejak berpindahnya kekuasaan Inggris ke tangan Belanda pada tahun 1816. Sejak saat itu Belanda menguasai maluku dan menetapkan kebijakan politik monopoli, pajak tanah (landrente), pemindahan penduduk dan juga pelayaran Hongi (Hongi tochten).  Kebijakan-kebijakan itu memberikan tekanan yang sangat dirasakan oleh warga Maluku, Kemudian pada tahun 1817 rakyat Maluku mulai melakukan perlawanan akibat kekerasan dan paksaan yang dilakukan oleh Belanda terhadapnya. Dalam perang perlawanan pertama, Pattimura di tunjuk oleh para sesepuh Maluku yang tak lain adalah Raja-Raja kerajaan Maluku, para Kapitan dan para Ketua adat yang ada di Maluku, untuk menjadi pemimpin sekaligus panglima perang rakyat Maluku. Menurut mereka Pattimura adalah sosok Pemuda yang bersifat Kesatria, selain itu ia juga memiliki pengalaman Militer ketika maluku masih di kuasai oleh Inggris dan sejak saat itulah gelar kapitan Pattimura di berikan kepada Matulessy. Kapitan adalah istilah yang diberikan kepada orang yang berjiwa mulia dan memiliki kesaktian khusus dan agamis.
Sebagai seoerang Pemimpin, ia tidak langsung merajahi, pemerintahan raja-raja yang menunjuknya, justru ia malah mengarahakan kepada raja-raja itu untuk tetap memimpin dan menggerakan roda pemerintahan. Selain itu ia juga membantu raja-raja itu untuk menagtur pendidikan dan penyediaan pangan dan dia menganjurkan pada raja untuk membuat benteng pertahanan. Ketika ia menjadi seorang panglima perang ia merencanakan segala strategi untuk berperang dan bahkan ia menggunakan strategi berperang secara nasional dengan menjalin hubungen kerjasama dengan kerajaan Ternate dan Tidore, Kerajaan-kerajaan di pulau  Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang nasional melawan belanda pun terjadi dengan sangat hebat. Belanda pun merasa terancam dengan keberadaan Ptimurra pada waktu itu. Belanda kemudian mengirim seorang Komisaris jendral yang hebat dari Belanda yakni Laksamana Buykes hanya untuk menyerang Pattimura.
Dalam peperangannya melawan Belanda, Pattimura ditemani oleh para Panglima lainnya, diantaranya adalah Melchior Kesaulya, Anthono Rebhok, Philip Latumahina dan Ulupaha. Mereka adalah penglima-panglaima hebat bangsa indonesia, keberanian mereka membuat Belanda tak berkutik dalam berperang. Namun sayangnya belanda berhasil mengadu domba persatuan mereka. Kelicikan belanda itu berbuah manis untuk Belanda, persaudaraan yang terjalin dengan kuat, telah berhasil di robohkan oleh belanda dengan politik aduh dombanya.
Ketika warga maluku mulai lengah akibat politik aduh domba itu. Belanda merencanakan Penangkapan kepada Patimura dan kawan-kawannya. Saat itu Pattimura berada di sebuah rumah di desa Siri Sori Maluku, Belanda datang dengan wajah yang terliat baik, mereka membujuk Pattimura untuk bekerjasama dengan mereka. Pattimurah tetap teguh dalam pendiriannya, bahwa ia tetap anti terhadap Belanda. Setelah berkali-kali ditolak oleh Pattimura, Belanda kemudian membawa Pattimura menuju Ambon, di sana ia di hakimi oleh pengadilan Belanda kemudia ia di ancam hukuman gantung atas penolakannya. Benteng Viktoria Ambon adalah saksi kesetiaan Pattimura terhadap bangsanya. Di sana ia memberi penolakan secara tegas terhadap Belanda kemudian eksekusi hukuman gantung untuknya pun dilaksanakan.