DURI - Araaita.com

Breaking News

Monday, 27 July 2015

DURI

Yang tengah saya risaukan beberapa bulan ini mungkin lebih kepada tak mampunya ide yang ada di kepala tertuang dalam bentuk tulisan di selembar kertas. Sungguh semu, ketika saya mencoba menceramahi seorang teman yang baru bangkit dari sekarat karena kolaborasi penyakit Tipus dan DBD dengan menyuruhnya menulis secara feuteurs, mendayu-dayu pengalamannya selama opname di rumah sakit. Sedangkan saya sendiri sedang tidak dalam proyek menulis. Bukan karena tidak ada media untuk mempublikasikan tulisan saya, bukan karena tidak ada sesuatu hal yang bisa digunakan sebagai bahan tulisan, atau tidak ada alat yang bisa digunakan untuk menulis. Melainkan lebih kepada motivasi diri saya sendiri untuk menulis. Entahlah mungkin itu, ya motivasi. Apa yang terjadi pada diri saya ini, saya tidak menyuruh pembaca untuk mengkritisi. Namun terserah saja, apa pentingnya jika sebuah wacana dari hasil pergulatan ide di kepala hanya sebatas disemai dalam buku diary, buku harian yang sangat privasi dengan gembok mengular mengunci hardcover-nya.

            Kalau rasa geram, saya pikir iya. Apa yang dimaksudkan oleh Arief Budiman mengenai seorang sastrawan ‘kiri’ yang begitu dekatnya dia dengan situasi lingkungan atau konteks dimana ia berada dalam sekup sosial, akan terlihat dari karya-karya ciptaannya. Maka saya pikir tak ada yang lebih legam atau lebih kere lagi dari substansi yang ada disekitar kehidupan saya, yang mana bisa pula menjadi bahan tulisan.

            Dinamika yang terjadi dalam kehidupan saya mengenai kampus, propaganda organ ekstra, tugas kuliah dua hari yang lalu, agitasi, radikalisme berformat diskusi tugas kuliah, cinta bertepuk sebelah tangan, gerombolan se-ideologi, revisi makalah, gelandangan, makanan sisa semalam, politik, semuanya tak pernah kurang dari kehidupan saya, begitu pucat dan penat memenuhi setiap neuron-neuron di kepala saya, lantas memuakkan. Mungkin bisa dikatakan tidak ada yang disebut kurang dari bahan baku tulisan saya, jika saya mau menulisnya, atau malah ini lebih dari cukup untuk membuat sebuah tulisan yang atraktif dan mengguncang dunia, atau terlalu muluk mungkin, minimal mampu membuat geram para manusia-manusia konservatis dengan aksesoris jenggot yang gemar meneriakkan parau yel-yel; khilafah till die di sablonan kaos futsal antar kampung mereka, seperti yang dimuntahkan oleh Ulil dalam opini Harian Kompas 14 tahun lalu. Atau seperti kilah Syekh Siti-Jennar dalam perwujudannya melawan hegemoni strukturalis rezim Sunan Drajat.

            Tapi tetap saja, sekalipun bahan baku ada hingga melimpah ruah, tulisan tetap saja tak mampu tertuang dalam kalimat-kalimat berbanjar yang rancak untuk dikecap para pembaca yang tengah berfikir ataupun melamun. Atau jangan-jangan memang motivasi itu sendiri yang sebenarnya menjadi pokok masalah. Jika dorongan yang dimaksudkan itu adalah pangkal dari segala sesuatunya, yang membuat sesorang menjadi tergerak melakukan sebuah aktivitas yang kongkret. Mungkin saja ketidakadaan hal yang menjadi pendorong itu sendiri adalah sebuah jawaban atas ketidakmampuan saya untuk mengaktualisasikan apa keinginan saya. Lantas dorongan yang dimaksudkan itu apa? Itu pertanyaan susulannya.

            Bisa saja karya tulis itu lahir dari dorongan akan pengharapan sebuah pujian atau ucapan selamat muncul dari mulut seseorang, atau hal lain, dorongan menulis itu muncul karena mendapat sejumlah uang dari hasil publikasi tulisannya. Itu sederhana, dorongan yang dimaksud berasal dari apa yang menjadi keinginan semata dalam diri. Lantas bagaimana jika duduk perkaranya seperti pemerkosaan yang dilakukan tiga orang preman terhadap wanita dengan tinggi semampai yang terjadi di suatu siang yang begitu terik di depan gapura masjid yang megah bak kastil. Kira-kira dorongan apa yang membuat ketiga preman tersebut tak lagi segan meluapkan nafsu hewaninya. Ternyata begitu kompleksnya sebuah dorongan atau drive yang dimaksud, memaksa postulasi ini memunculkan kemungkinan berlanjut, yaitu adanya dorongan yang bersumber dari luar dirinya tidak hanya dari dalam dirinya semata. Maka untuk kembali menakar kasus pemerkosaan di gapura masjid itu, bukan hanya unsur libido semata yang muncul tidak pada tempatnya dari dalam diri ketiga preman itu yang mengakibatkan aksi pemerkosaan itu terjadi. Tapi bisa saja kemungkinan kedua yang paling banyak mendasari. Lebih tepatnya apa yang membuat nafsu libido itu terpantik. Jangan-jangan perempuan itu yang memang keranjingan birahi sengaja minta digagahi karena nafsu libido yang sama, atau karena bentuk payudara yang mencungul dari ketatnya kaos oblong yang ia kenakan siang itu. Entahlah saya hanya mencoba memetakan kekalutan pikiran yang tak lagi berani dibuat sebagai jaminan oleh sahabat-sahabati mahasiswa kita dalam sebuah jargon ucapan salam ketika hendak memulai diskusi dengan, “salam kebebasan berfikir!”

            Usut punya usut, menindaklanjuti perkara yang baru saja meneror, tentang pemerkosaan di gapura masjid, ternyata wanita yang diperkosa beramai-ramai secara bergiliran oleh ketiga preman itu merupakan seorang tuna wisma yang kebetulan memiliki gangguan jiwa, namun dibalik keterbelakangan mentalnya wanita itu memiliki tubuh yang aduhai sedapnya dengan payudara montoknya jika sedikit saja Pemerintah Daerah (Pemda) dan Dinas Sosial (Dinsos) setempat mau merawatnya, sekedar memandikannya dengan menyemprotkan air PDAM rutin ketubuhnya. Mungkin tidak hanya preman-preman di sudut kelam jalan yang akan rutin menggagahi setiap hari, tapi petugas Satpol PP atau aparat kepolisian yang sering menggelar razia penyakit masyarakat juga tidak akan segan mencicipi hangatnya kepitan payudara montok sang tuna wisma hasil cidukkannnya.

            Bukan aksi pemerkosaan, ketika tiga pria yang baru saja menunjukan kejantanannya itu memaparkan keterangannya pada kepolisian setempat. Seorang dari mereka mengatakan kalau wanita gila pada siang hari itu tiba-tiba menyingkap kaosnya dan memamerkan payudara gedenya di hadapan preman yang ketika itu tengah memanjat pagar gapura masjid yang terbuat dari terali besi rapat setinggi 4 meter. Semakin berkembang kasus yang semula dianggap masalah moralitas biasa, preman kedua yang mengaku telah menggagahi selama 1,5 jam itu kalau semula mereka bertiga hendak buang air besar ke kamar mandi masjid. Dikarenakan pintu pagar terkunci mereka memutuskan untuk memanjat karena tak kuat menahan sembelit mau buang air besar. Belum sampai pada tujuan awalnya untuk buang air besar, rejeki nomplok pun tiba ditengah-tengah teriknya sang surya. Preman ketiga memaparkan kalau mereka bertiga menggagahi wanita gila itu di sebuah ruang kecil di gapura masjid yang tak lagi terpakai, dan ia mengaku kalau ruangan itu tak pernah ada orang yang pernah masuk, sekalipun takmir masjid sendiri.

            Begitu kompleks kasus tersebut, membuat aspek dorongan yang dimaksudkan pada bagian awal tadi mendadak kabur dimana letak preposisi sebenarnya. Ketika pemaparan muncul satu per satu dari mulut preman yang memerkosa wanita gila itu. Tambahan keterangan baru dari pihak kepolisian yang baru saja dilansir Ba’da Isya tadi, jika wanita yang semula statusnya sebagai korban pemerkosaan itu dinyatakan positif menderita gangguan jiwa dan tidak mampu menceritakan kronologi peristiwa siang itu karena ketidakmampuan wanita itu berkomunikasi secara normal seperti orang pada umumnya. Akhirnya ketiga preman tersebut dinyatakan tidak bersalah dan resmi dilepaskan atas kekuatan hukum yang berbunyi perbuatan tidak senonoh atas dasar saling suka bukan termasuk perbuatan melanggar hukum.

            Demikian kompleksitas yang muncul. Letak kemungkinan yang menjadi acuan dasar bagaimana dorongan itu muncul sangat relatif sifatnya, seakan-akan tidak ada landasan yang asasi sebagai jaminan jika kemungkinan itu adalah salah satu sumber munculnya dorongan. Nampak jelas jika dorongan itu ada, entah jika ukuran dorongan itu mau ditakar lagi dengan ukuran baik dan buruk. Tapi kebingungan akan muncul kembali jika dorongan yang dimaksudkan itu benar-benar tidak ada, atau nihil adanya, namun ajaibnya implementasi bisa muncul dari ketidakadaan itu.

            Bagaimana dengan dunia sastra atau seni dalam dimensi histori yang pernah mengakar di negeri ini.

            Apakah salah, sebuah tulisan muncul atas dasar bukan karena apa-apa, dan tidak untuk apa-apa. Apakah salah tulisan muncul kepermukaan hanya dengan membawa secarik rekap peristiwa yang benar-benar pernah terjadi sekaligus benar-benar tak akan pernah diketahui banyak orang, apalagi dalam karakter masyarakat kapitalis seperti sekarang ini, kalau tidak seorang penulis itu sendiri yang merekapnya kemudian menampilkannya dalam kemasan yang indah lantas siapa lagi

            Sastra itu ada karena pergulatan dengan kehidupan. Mustahil jika seorang penulis akan kehabisan ide jika ia dekat dengan seluk beluk dan dinamika kehidupannya atau orang-orang disekitarnya. Kritik ideologi sastra yang terkesan radikal dari Pramudya Ananta Toer pada rezim orde lama tahun 60an terhadap karya sastra Indonesia masa itu dimaksudkan sebagai antitesa pemikiran dari kelompok seni tandingan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang mengatasnamakan diri mereka Manifes Kebudayaan (Manikebu). Orde lama masih dalam suasana pergolakan paska kemerdekaan, Indonesia masih begitu muda dengan berbagai macam bentuk ideologi yang hendak diujicobakan sebagai ladasan berbangsa dan bernegaranya. Manikebu meluapkan kritik berkesenian ala mereka yang ditujukan atas bentuk interupsi terhadap karakteristik seni yang dibaiat secara komunal oleh penganut Lekra sebagai ideologi berkesenian mereka. Bahwa seni harusnya murni sebagai kepentingan universal bukan sebagai kepentingan kelompok atau golongan tertentu, apa lagi yang berhaluan politis tertentu.

            Pernyataan menentang dalam deklarasi pembentukan Manikebu ditandatangani dengan semangat membara atas situasi politik yang gempita oleh golongan muda; Taufik Ismail, Goenawan Mohammad, Arief Budiman, Sapardi Djoko Damono, dan golongan tua; Wiratmo, H.B. Jassin, dan Trisno Sumardjo dalam pertemuan bertanggal 17 agustus 1963 di Jalan Raden Saleh kediaman Bokor Hutasuhut.

            Pergulatan seni pun terjadi paska deklarasi Manikebu, Lekra bukan lagi menjadi lembaga seni satu-satunya di Indonesia yang berbicara soal seni. Ideologi Manikebu dalam berkesenian memiliki maksud menempatkan diri sebagai entitas tersendiri yang murni tanpa ada tedeng aling-aling seperti Lekra, yang dianggap terlalu sarat akan muatan politis dalam setiap produktivitas seni atau karya sastranya. Lekra dimata orang-orang Manikebu terlalu naif mengidentikkan seni sebagai alat untuk menebar propaganda dan kepentingan politik dari Ideologi Sosialis. Tuduhan mau tak mau ditelan mentah-mentah karena paska pemilu 1955 Lekra menjadi tandem terbesar partai berlambang Palu Arit, Partai Komunis Indoensia (PKI), yang mengukuhkan PKI menjadi salah satu dari jajaran lima partai besar, meskipun ditentang keras kemudian oleh Njoto ketua umum Lekra pusat dengan dalih jika seni ala Lekra adalah seni untuk perjuangan, bukan seni untuk seni seperti yang telah dipertegas Pram, seni ala Lekra adalah alat menyampaian sebuah kata merdeka dari penindasan dalam bentuk apapun, fisik ataupun pemikiran. Justru kemudian Lekra mengkritisi kembali esensi dari berdirinya Manikebu sebagai organisasi yang tak mendukung sama-sekali perjuangan bangsa Indonesia melawan hegemoni negara penjajah.

            Tak bisa menafikkan pergulatan seni yang pernah terjadi dalam masa orde lama itu, antara Lekra dan Manikebu, dua buah gerbong besar pembawa entitas berkesenian ala Indonesia, dengan tak sedikit pembawaan rasa sakit, getir, anyir, dan luka sobek, dan penebasan tunas-tunas baru cikal bakal pemikiran, sebenarnya mencoba mensintesiskan kembali apa yang dikeluhkan Boudrillard mengenai sastra yang tumbuh dan bersemi dalam struktur masyarakat pembangunan dunia ketiga. Apresiasi seni bukan atas rekayasa tepuk tangan penonton seperti di acara musik pagi hari di RCTI, apresiasi seni bukan seperti transaksi sebuah barang atau jasa pada umumnya, apresiasi seni bukan pertukaran antar produk seni dengan nilai, rupiah, ukuran, apalagi dengan cara tawar menawar. Melainkan seni harus ditukar dengan seni itu sendiri, jika memang harus ada bentuk sebagai alat tukar atas pengejawantahannya, maka bentuk seni itu sendiri yang harus dibayarkan terhadap seni. Karena seni itu sendiri ternyata tidak selalu bebas nilai, maka untuk pengkategorian seni, tidak hanya berhenti sampai kepada pencarian status ontologi dari seni yang dimaksudkan itu sendiri. Pertanyaan susulan mengenai bagaimana seni yang dimaksudkan tadi bisa muncul dan tercipta akan menghantarkan kita pada prosesi paling akhir dari sebuah pengetahuan itu ada, dimana prosesi ini merupakan tahapan paling nyi-nyir dari kenyataan yang paling empiris sekalipun, pertanyaan curiga akan muncul; atas dasar kepentingan apa seni itu ada dan sengaja dibuat? Atau jangan-jangan ada seseorang yang sedang memesannya.

            Salah seorang senior saya yang bisa dikatakan lama tenggelam dan berektase dalam dunia seni di Fakultas Dakwah UIN Sunan Ampel pernah menyisahkan sekelumit konsepsi berkesenian dalam dunia seni peran ataupun sastra yang ia geluti. Tak dapat disangkal memang jika seni merupakan rekap sejarah yang pernah hadir dalam realitas kehidupan, namun bagaimana cara realita itu bisa diingat, ditelusuri, ditarik dan dihadirkan kembali dalam bentuk utuh adalah sebuah pertanyaan mendasarnya. Jika saja alam bawah sadar tidak terlalu bersih keras untuk mengembalikan dan mengubur dalam-dalam pengalaman yang sepersekian detik saja dirasakan oleh alam sadar, mungkin cukup mudah pengalaman itu diunggah kembali ke alam sadar, sekalipun harus melintasi penjagaan ketat untuk menyortir pengalaman apa kiranya yang tidak ataupun pantas ditampilkan kembali oleh ambang sadar. Namun ada sebuah cara jika pengalaman itu terlanjur terpendam begitu dalam, terkunci pada sebuah peti mati, dan dimakamkan di kompleks pemakaman alam bawah sadar. Dengan, memaksa diri mengikuti ritme meditasi untuk mengingat-ingat kembali.

            Di dalam meditasi, kita mulai bercengkrama dengan entitas yang sudah ada ataupun dengan entitas yang sebelumnya tidak pernah ada dalam diri sendiri. Meditasi memaksa kita untuk melibatkan diri dalam dinginnya diam dan sejuknya damai. Dalam keheningan tubuh ini sepertinya begitu ringan untuk menggali perlahan-lahan pengalaman yang terpendam dalam gundukan tanah kuburan masal di kompleks pemakaman alam bawah sadar. Satu per satu pengalaman akan muncul, sebuah rekap adegan peristiwa yang beragam bentuknya mulai dari yang utuh atau sepotong-potong akan tersaji diingatan sadar selama proses meditasi berjalan.

            Namun bahan makanan yang telah tersedia lengkap diawang-awang memunculkan pertanyaan susulan, bagaimana cara mengolah, mengemas, atau menghias kembali pembungkus pengalaman-pengalaman yang telah tersaji dihadapan spektrum pikiran kita, menjadi sebuah hidangan lezat bagi setiap orang di sebuah meja makan dalam ruangan bernamakan alam sadar. Ia menandaskan jika tahapan paling menentukan berikutnya untuk menghidangkan kudapan seni yang rancak dari sisa-sisa pengalaman yang tak lagi utuh adalah proses kreatif.

            Proses kreatif bisa dikatakan sebagai pangkal dimana hasil dari mengingat kembali paska pergulatan dengan diam dan keheningan damai akan ditakar pada bagian mana yang harus dikurangi atau ditambah sebagai bentuk upaya pengemasan kembali pengalaman itu sendiri. Bisa dianggap juga proses kreatif sebagai eksekusi akhir yang paling menentukan sebuah penilaian dari seni, apakah seni itu bisa diapresiasi, indah, atau hal lain sebaliknya, namun sepertinya kita telah mensepakati untuk tidak sedang berada dalam arus pemikiran radikal yang lazimnya kita gunakan untuk menggunjing sebuah status quo ideologi atau dogma.

Dalam perbincangan seni seyogyanya kita tidak mendikotomikan apa yang harusnya diapresiasi menggunakan perbendaharaan kata antara bagus atau buruk. Dalam perbincangan serius mengenai seni, kita tak selancang itu menggunakan asas kontradiksi yang tak asing pula dalam pergunjingannya mengenai ideologi yang menghipnotis penganutnya menjadi ortodoksi marxisian seperti yang ditesakan kembali oleh anak seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) pemerintahan Tsar Alexander yang lahir di Ulyanovsk abad 19.

            Lagi pula seni bukan sebuah pertaruhan gengsi di sebuah papan permainan mahyong. Seni bukan berangkat dari asumsi awal soal taste atau kegemaran yang sifatnya mempribadi antar individu. Tapi tidak menutup kemungkinan akan hal itu. Apresiasi seni bukan suatu bentuk assassement atau tahap mengamati objek dengan memanfaatkan ketinggian sebuah gedung yang dinamakan paradigma. Bukan berarti salah, namun cara melihat semacam itu berpotensi mengaburkan substansi yang hendak disampaikan oleh si pembuat, dari syahdunya meditasi dan pergulatan batin untuk menentukan proses kreatifnya.

            Seni tidak mampu diidentifikasi sebagai keselarasan warna dan bentuk, seni bukan disusun dalam kata-kata indah, karenanya memang bukan untuk itu seni dibahasakan. Seni bukan mencari pada bagian mana letak keindahan itu berada, lantas merumuskannya, seni bukan berarti bertautan antara objek-objek tertentu yang dianggap atau sekaligus diklaim sebagai bentuk yang indah. Tapi apa boleh buat, terkadang kita terjebak dengan pengandaian seni itu sendiri. Indah adalah definisi paling kongkrit dari upaya penjabaran seni, tapi indah yang dimaksud oleh kebanyakan dari kita pada saat yang bersamaan telah mengaburkan prosesi apresiasi kita terhadap seni.

            Tidak bisa dipungkiri memang, seni terkadang membingungkan bagi sekelumit dari kita yang sadar. Disatu sisi kita melihat karya seni dalam proses penciptaannya begitu kompleks menggambarkan sejarah, pengalaman, atau peristiwa yang beberapa tahun, bulan, minggu, hari, jam yang lalu terjadi secara nyata, dan begitu dekat dengan afeksi si pembuat. Namun terkadang seni juga hadir dengan cara pencapaian ektase yang ekstrim dengan berupaya secara keras mencarikan bentuk-bentuk yang dianggapnya serasi dan nampak indah karena pada saat itu pula mereka tau bahwa yang hadir dalam pameran, pagelaran atau pementasan adalah manusia-manusia yang telah memiliki konstruk definisi seni adalah dan sama dengan indah, dan harus berasal dari yang indah-indah.

            Jika seni merupakan sebuah pergulatan dengan kehidupan seperti yang diafirmasi oleh Pram dan kolega-koleganya di Lekra. Atau seni harus merepresentasikan latar belakang dari si pembuat karya seni seperti yang diaforismekan oleh Areif Budiman sebagai sastrawan kiri yang ‘kere’. Maka kebingungan menginterpretasi seni; apakah sebagai cara menampilkan sisi lain yang tak terjamah, atau sebagai suatu rumusan yang pasti terjadi, menyudutkan kita semua dengan pilihan cara bagaimana untuk melihat seni, bagaimana seni itu bisa ada, dan untuk apa seni itu ada. Jelas upaya mendefinisikan seni dengan definisi klasik, mengenai yang indah-indah tak bisa diejawantahkan kali ini. Mungkin seni yang dimaksud Bambang Sugiharto dalam buku terbarunya yang tidak saya temukan dimesin pencari katalog di pepustakaan kampus bisa sedikit meredakan sakit kepala karena dilema membedakan mana ranting mawar merah dan mana ranting mawar melati.

            Tawaran konsep berkesenian ala Lekra, saya pikir sebagai bentuk kongkret dari pendirian seorang seniman. Bagaimana tidak, dalam beberapa atau sebagian besar karya sastra, lukisan, lagu atau seni pahatan yang dibuat seniman lekra, seakan akan sudah mengesampingkan apa itu metafora-metafora. Tidak ada lagi majas personifikasi sebagai peredam luapan amarah dari seorang seniman yang merepresentasikan apa yang ada dalam dirinya atau sekedar bahasa yang diperhalus untuk menutupi maksud kasar yang hendak dimuntahkan. Lekra memang mengakui tidak lagi segan jika diksi yang dipakai dalam setiap karya sastra harus selugas itu, karena itu adalah karakteristik berseni mereka, bukan berarti cara seperti itu mengesamping aspek seni yang universal pada umumnya, justru Lekra bermaksud menampilkan seni sebagaimana seni diperuntukkan merekap atau menampilkan kembali realita atau konteks yang ada pada masa itu. Kita tau Indonesia paska kemerdekaan belum seutuhnya rakyat kita menikmati sejuknya angin lembah perdamaian, atau tanah yang lenggang untuk kuda-kuda hutan yang liar, dan luasnya cakrawala memandang perbukitan tanpa sekat pagar pembeda ras dan agama. Dengan segala keterbatasan yang ada pada negara jajahan yang baru seumur jagung itu merdeka, jika seni didefininsikan sebagai alat perjuangan, maka disitulah anyir darah yang bercipratan di kanvas para pekerja seni Lekra menyuguhkan tanda tanya hitam dan berdebu, atas dasar apa pembantaian mengatasnamakan kesamaan gaya berfikir mereka dengan PKI dan pemenjaraan besar-besaran atas orang perorangan terjadi pada mereka.

            Lekra bukan bermaksud ikut aras kepentingan ideologi sosialis berpijak. Lekra bukan sebagai organisasi yang berisikan misonaris marxisian. Melainkan Lekra ingin menyuguhkan konsepsi seni yang tidak lagi pantas jika masih berkutat pada pemilihan diksi anggur dan wewangian kasturi seperti karakterstik seni Manikebu. Seni sebagai perjuangan adalah seni yang mampu menyuguhkan kenyataan hipotetik mengenai apa yang terjadi pada masa itu, dan kontekstual itulah yang dimaksud. Maka pantas saja Manikebu harus menerima bogem mentah dari pendirian radikal mereka terhadap seni humanis yang universal, yang mencerminkan seni yang terlalu akrab dengan hal yang mewah-mewah, khayalan, elitis dan individualis.

            Karena memang benar Lekra dalam karyanya kerap menggambarkan kenyataan yang naturalistik mengenai kondisi yang terjadi di negara ini, apa yang dialami oleh para petani, para buruh dan rakyat jelatah ketika itu. Dan itu jelas bahwa seni secara definitif bukanlah berbicara mengenai yang indah-indah, melainkan seni berbicara mengenai kompleksitas hidup yang tak pernah akan ada yang bisa memprediksi atau sekedar memetakannya. Begitu rumit memang kompleksitas ang dimaksud, seperti halnya kasus pemerkosaan diatas, bukan karena libido atau kerajingan nafsu semata dari ketiga preman itu, banyak aspek yang turut membuntutinya, begitu beragam dimensi kehidupan yang turut menjadi pembungkusnya, terkadang pembungkus tersebut menjelma bak renda-renda hiasan yang tak akan pernah ada orang menolak akan keindahannya, atau tak jarang pula pembungkus yang dimaksud menjadi berfungsi sebaliknya, malah menjadi sebuah kerumitan lain yang membuntutinya. Apalah itu, kompleksitas kehidupan yang selalu kita hirup sepnjang hari dan menjadikan kesibukkan kita untuk mendefinisikan ulang apakah ini beraroma amis atau wangi, sepertinya itulah yang dimaksud oleh seni mengenai sekelumit kompleksitas yang biasa ia bungkus dari masa ke masa.*(Luhur)





Gresik, 16 Juli 2015