Peserta Antusias Ikuti Seminar Pra Muktamar NU - Araaita.com

Breaking News

Friday, 3 July 2015

Peserta Antusias Ikuti Seminar Pra Muktamar NU


Surabaya, (2/7) Panitia Muktamar NU Ke-33 bekerjasama dengan UIN Sunan Ampel Surabaya dan
KOMPAS, mengadakan seminar internasional bertemakan “NU dan Islam Nusantara”. Dengan narasumber Prof. Said Aqil Siradj, Ketua Umum (Tanfidziyah) Pengurus Besar NU. Namun ia berhalangan hadir, Prof. Abdul A’la rektor UINSA, dan Greg Berton peneliti asal Australia. Acara yang sengaja mengundang narasumber berkompeten dibidangnya tentang ke-NU-an ini, membahas pokok permasalahan posisi Islam Nusantara ala NU, penyuguhan pemateri yang begitu memikat tentang isi materinya berhasil membuat peserta antusias untuk bertanya.
Dalam Seminar tersebut memang berjalan dengan manarik, pertanyaan-pertanyaan dari peserta di respon dengan baik oleh narasumber sehingga menumbuhkan diskusi yang mengalir dan bersemangat. Tema yang diusung panitia muktamar kali ini berhasil memancing pertanyaan para peserta akan kejelasan arti Islam nusantara. Seperti pertanyaan yang diberikan oleh salah satu peserta bernama Hafidz dari Surabaya, ia bertanya mengenai bagaimana latar belakang dari konsep islam nusantara, posisi islam nusantara dengan islam yang berada di Negara lain. “Bagaimana latar belakang adanya konsep Islam nusantara ini pak,   kerena ketika kita pertimbangkan Islam Nusantara dengan islam-islam yang lain, kalau konsep itu dimunculkan, apa tidak membuat kres dengan islam yang lain ?.” Tanya Hafidz.
Senada dengan pertanyaan di atas, Titin, mahasiswa asal UINSA ini juga menanyakan tentang, bagaimana maksud dari Islam Nusantara. Apa arti dari islam nusantara ? ujarnyamemberikan pertanyaan.
Peserta yang bernama Hafidzin dari UINSA juga sedikit berkomentar mengenai ketidakjelasan visi-misi NU, ia mengatakan bahwa dalam seminar tersebut tidak dijelaskan secara terperinci visi-misi NU, dan mempertanyakan mengenai sedikitnya peserta yang menghadiri. “Menurut saya, visi-misi NU ini tidak jelas, tidak dijelaskan secara terperinci untuk ditunjukkan secara terbuka tentang seminar ini, dan kenapa hanya ditunjukkankepadasedikit orang, apakah efektif ?,” Tanya Hafidzin.
Pertanyaan yang dapat memancing kekagetan Audient lain ini, langsung mendapat tanggapan seketika, membuat moderator selaku salah satu penyelenggara ikut andil menjawab. Moderator mengatakan bahwa seminar ini diadakan untuk memaparkan tentang visi-misi yang sejalan dengan visi-misi kompas. Sehingga pihak kompas mau berkerja sama dengan NU mengadakan seminar yang sedang dilangsungkan. “ Kompas punya visi-misi yang sama dengan NU, yaitu pluralisme, dan kenapa Audient-nya sedikit, sebenarnya audiennya tidak hanya di sini, kompas diterbitkan dibaca sekitar ribuan orang, saya kira sudah jelasya.” Ujarnya menjawab pertanyaan Audien yang perlu mendapat kelurusan ini.
Menurt A’la islam nusantara yang diusung oleh para kiyai ini adalah islam yang tidak pernah menyalahkan orang lain, karena jelas setiap orang lain memiliki pemikiran yang berbeda. Namun dengan perbedaan tidak harus saling menyalahkan, tapi harus menyesuaikan.”Zaman rasulullah, antaraUmar dengan Abu Bakar sudah berbeda tapi tidak pernah menyalahkan islam mereka. Kita ambil salah satu contoh Kiyai Indonesia, Kiyai Faqih Langitan, tertutup. Tapi tidak pernah menyalahkan orang lain.” Ujarnya.
Greg juga menanggapi,bahwa islam NU disebut sebagai islam tradisional. NU merupakan ormas yang melihat segala perubahan, mengambil sesuatu yang baru yang baik, dan tidak meninggalkan sesuatu yang lama yang baik pula. NU ini ada dengan kreatifitasnya.“ Islam yang sehat adalah islam yang mau terbuka dengan sebuah perkembangan, dan NU ada dengan kreatifitasnya,” ucap Greg menanggapi pertanyaan salah satu Audien, tentang model Islam Nusantara.
Acara yang dijadwalkan berakhir tepat sebelum adzan dikumandangkan, ternyata molor.Akibat masih banyak Audien yang ingin bertanya mengenai tema yang diusung oleh pihak pengada acara.S ehingga moderator terpaksa memotong pertanyaan, hanya sebagian daripara Audien yang dipersilahkan memberikan pertanyaan lagi, dari lima yang mengacungkantangannya, hanya satu yang diberi kesempatan bertanya. “Siapa yang mau bertanya lagi, wah, yang di depan saja, berhubung waktunya sudah habis.” Ujarnya mengakhiri pertanyaan yang terakhir.*(Nur)