Membongkar Kebiasaan Lama di OSCAAR Versi Descrates - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 27 August 2015

Membongkar Kebiasaan Lama di OSCAAR Versi Descrates

Descartes dilahirkan pada 1596 -1650,  dia adalah tokoh filsafat yang banyak menghabiskan waktu untuk merenung metode-metodenya sendiri, mulai dari memikirkan aturan-aturan dan penalaran dengan cara meragukan dan membuktikan serta menyangkal hal yang sudah jelas dalam rangka mencari kepastian yang hakiki melalui proses berfikir. Dan dia yakin bahwa berfikir menggunakan akal sehat merupakan satu-satunya jalan menuju pengetahuan, sehingga pada akhirnya ia mempunyai kesimpulan “BERFIKIRLAH MAKA KAMU ADA”
Pola pikir Descartes ini mungkin bisa dibandingkan dengan Socrates, dimana kala itu Socrates menjadi satu-satunya tokoh filsafat yang dapat membongkar kebiasaan-kebiasaan lama kaum Sophis dengan akalnya. Descartes dan Socrates sama-sama tokoh filsafat yang mempertuhankan akalnya dan hal ini dipengaruhi oleh kondisi sekitarnya.
Kondisi pada masa Socrates mungkin bisa dibandingkan dengan kondisi OSCAAR di UINSA saat ini, dimana hanya orang politkus saja yang dapat menguasai panggung OSCAAR. Mereka berdiri tegak memegang micropon di depan Mahasiswa baru,  Layaknya kaum Sophis yang dapat menguasai panggung politik di Athena, mereka menganggap hal yang terpenting dalam hidupnya adalah menguasai seni berpidato yang dapat mengatakan berbagai hal dengan cara meyakinkan dan mendoktrin masyarakat  lewat berpidato. Namun pada sisi yang lain mereka hanya ingin mencari nafkah dan mencari keuntungan serta ketenaran di alun-alun kota athena pada saat itu. Dan kaum Sophis mempunyai ciri khas yang sama dengan para filsuf alam sebelmnya, mereka bersifat kritis terhadap metodelogi tradisional, namun pada saat yang sama, kaum Sophis menolak apa yang mereka anggap sebagai spekulasi filsafat yang tak berguna, atau jika di bawa ke ranah bahasa OSCAAR alasan-alasan atau tindakan-tindakan yang tak berguna.
Kembali lagi ke Descartes, dia juga dikatakan seorang bapak filsafat modern. Karena setelah abad ketujuh belas para filsof berusaha untuk memasukkan gagasan-gagasan baru kedalam sistem filsafat yang jernih. Dan yang pertamakali mengusahakannya adalah Descartes. Sehingga kebelakangnya banyak para tokoh-tokoh filsafat yang mengakui pemikirannya.
Diantara pola pikirnya Descartes adalah meragukan segala sesuatu sebelum meyakini, ia mengatakan bahwa indra menipu kita dan kebenaran-kebenaran umum yang kita klaim sesungguhnya mempunnyai efek atau kesan fantasi dan keraguan. Bahkan lebih jauh lagi, menurut Descartes kita sering salah dalam pembuktian penetapan hukum. Sesuatu yang dapat dilintasi oleh kesalahan, maka hilanglah keyakinan darinya dan perlu dipertanyakan kembali. Hematnya takut ada spirit jahat yang selalu menipu kita, dimana ia menggambarkan sesuatu yang buruk sebagai yang baik dan sebaliknya yang baik diungkapkan sebagai yang buruk kepada kita.
Jika dibawa ke dalam ranah OSCAAR dapat diibaratkan dengan berbagai alibi para penyelenggara OSCAAR, misalkan sistem pendidikan OSCAAR yang keras dan permainan lewat atribut dan lain sebagainya, dengan dalih sebagai pemelajaran mahasiswa baru. Jika adanya OSCAAR betul-betul untuk mendidik lantas pola pendidikan yang seperti apa?. Mungkin oleh sebaagian kaum akademis ini bisa jadi dibenarkan, karena banyak alasan. Namun jauh dari itu sebenarnya dapat dibaca kepentingan-kepentingan para.penyelenggara OSCAAR , mislkan adanya kekerasan pada OSCAAR yang dipertahankan dengan dalih membentuk mintal yang kuat dan lain sebagainya, namun tidak dapat menutup kemungkinan jauh dari alasan ini hanya dijadikan sebagai ajang balas dendam oleh panitianya kepada mahasiswa baru mengingat sebelumnya pola pendidikan OSCAAR demikian adanya, atau malah hanya mencari ketenaran dan sensasi saja. Entahlah? Atau barangkali diwajibkannya para mahasiswa baru memakai atribut dengan berbagai alasan dan dalil, namun jauh dari itu juga dapat dibaca ada kemungkinan besar yang belum tersentuh oleh mahasiswa baru, sehingga kesannya mereka sangat gampang untuk didomplengi. Misalkan kepentingan itu untuk menuai keuntungan yang amat besar dari mahasiswa baru atau malah sengaja mempersulit mahasiswa baru. Entahlah ?. Beginilah jika membungkus kepentingn dalam kewajaran !
Selain itu, Jika Descartes dalam konsep ketuhanan mengatakan, “ketika pikiran memilah-milah berbagai konsep dan gambaran yang ada padanya, maka diantara berbagai konsep dan gambaran itu ia akan menemukan konsep tentang ;  Eksistensi yang maha tahu dan maha kuasa di atas segala sesuat”. Sesuai dengan apa yang diperolehnya dari ide tersebut, maka dengan mudah pikirannya akan memutuskan bahwa tuhan adalah wujud sempurna itu. Dan hal inipula tidak menutup kemungkinan jika para mahasiswa baru mampu menganalisa OSCAAR dan mereka  melihat pola pendidikan di OSCAAR akan mempunyai spekulasi bahwa inilah yang  sempurna atau malah di balik dan berasumsikan inilah yang jelek.


* Salam kebebasan berfikir….!.*(Ahmad)

No comments:

Post a Comment