OSPEK bukan ajang adu kekuasaan dan kepintaran - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 27 August 2015

OSPEK bukan ajang adu kekuasaan dan kepintaran

Orientasi study  pengenalan kampus  atau yang sering di sebut dengan OSPEK bukanlah hal baru lagi di telingga masyarakat terutama di kalangan akademisi.Di seluruh universitas di Indonesia, baik di perguruan tinggi negeri ataupun swastasemuanya pasti mengadakan OSPEK sebagai pembekalan untuk mahasiswa baru (MABA) untuk menghadapi kehidupan kampus.
Di Indonesia, OSPEK sering kali menjadi mimpi buruk untuk MABA. Mereka beranggapan bahwa masa orientasi adalah masa dimana senioritas dan perlakuan kasar pasti akan mereka lalui.
Kekhawatiran mereka ini bukanlah tanpa alasan.Maraknya kasus kekerasan yang di lakukan oleh para senior terhadap juniornya dengan dalih sebuah hukuman merupakan sebab utammanya. Senior dengan sengaja menerapkan sebuah pasal yang dijadikan peraturan tak tertulis oleh merekayang berbunyi :“Pasal pertama senior selalu benar, pasal kedua jika senior salah kembali kepasal satu.” dengan peraturan ini mereka membuat mental MABA menjadi kehilangan keberaniannya untuk melawan senior mereka.
Banyaknya kasus yang menceritakan tentang OSPEK yang mencekam dan mematikan ini tentunya mengundang perhatian publik terutama para orang tua.Dalam salah satu situs sosial yang beralamtka www.bog.kenz.or.id dijelaskan bahawa sejak tahun 1995 hingga saat ini kasus-kasus tentang OSPEK mulai marak di bicarakan di media masa, walau tidak bayak data yang dapat di peroleh, namun maraknya kekerasan dalam OSPEK yang banyak di muat di media cukup mengambarkan model pendidikan yang sangat tidak layak di terapkan dalam dunia akademisi, seperti yang sering terjadi di Institut Teknologi Negeri (ITN) Malang dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri(IPDN) serta banyak kampus negri mapun swasta lain.
Dengan peraturannya yang sangat memihak pada dirinya, senior-senior itu memperlakukan MABA sesuka hati mereka tanpa mempertimbangkan efek yang pasti akan terjadi. Bagi penguasa yang terkuat, mereka secara tidak langsung menempatkan diri mereka setingkat di bawa tuhan hingga hinga tak ada yang mampu melawan mereka.
Hal ini sering disebut dengan pelocoan terhadap MABA. Pelocoan ini selalu dianggap sebagai pembodohan serta perusak moral mahasiswa, OSPEK yang seperti ini akan mudah menggagalkan upaya pemerintah Indonesia dalam membentuk generasi emas yang di banggakan dan di harapkan oleh bangsa Indonsia.
Pelocoan dan pembodohan terhadap mahasiswa bukan hanya tercermin dari kekerasan yang di lakukan oleh panitia, namun penggunanan atribut yang terlalu berlebihan dan tidak memiliki alasan yang jelas, itu pun juga dapat memberikan citra pembodohan terhadap MABA.
Senior selaku konseptor acara yang biasanya menggunakan dalih meningkatkan kreatifitas MABA, terkadang tidak dapat menjawab dengan baik ketika di tanya tentang atribut yang mereka usulkan untuk dipakai oleh MABA, bahkan atribut yang mereka sarankan terkadang malah bukan dapat melatih kreatifitas tapi menguras kantong maba. Hal ini disebabkan cara mendapatkan atribut yang amat sulit serta memiliki banyak komponen.
Selain kejangalan dalam hukuman yang diberikan oleh senior, tema OSPEK juga menjadi sorotan besar yang akan selalu patut di pertanyakan. Di tahun lalu Fakultas Ushuludin UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya juga berakhir diranah hukum. Tema yang salah tempat mampang itu menjadikan pihak Fakultas Ushuludin berhubungan dengan hukum disebabkanoleh gugatan dari Organisasi Masyarakat FrontPembela Islam (Ormas FPI).
Tema yang sebenarnya tidak mempunyai masalah serius di meja diskusi itu, menjadi masalah besar sebab tema itu tak lagi memiliki arti filosofisnya sebab pandangan radikalis anggota FPI, hukumpun sampai sekarang masih dalam proses. Itulah sala satu contoh pencekalan OSPEK yang penah terjadi di UINSA, dan semoga saja hal ini tak lagi terulang di dalam OSPEK di UINSA di tahun ini dan tahun selanjutnya.
Masalah tema ini tentunya sangat berbeda dengan masalah pelocoan ataupu pembodohan, ini murni sebuah kecelakaan UINSA sebab lalai dalam pemasangan sepanduk tema OSPEK yang kurang di pertimbangkan peletakannya. Namun tetap saja ini adalah sebuah kesalahan yang tidak boleh di ulanggi lagi, sebab kesalahan apapun dalam sebuah akademisi akan memberikan contoh yang tidak baik bagi anggota barunya yakni MABA.
Sesuai dengan namanya, OSPEK memang harusnya menjadi ajang pengenalan dunia kampus bagi mahasiswa baru, serta melatih mental mereka untuk berani bersikap seperti seorang akademisi yang mampu mengimplementasikan tri dharma perguruan tinggi pada dirinya.

Momen OSPEK bukanlah ajang senioritas serta adu kepandaian senior sebagai konseptor acara sekaligus pengusung tema OSPEK.Walau telah menjadi orang yang dituakan di dalam kampus harusnya senior bisa lebih bijaksana dan lebih mendidik juniornya.Seneor harus mampu menempatkan dirinya ada posisi yang tepat agar mampu menjadi contoh yang baik bagi juniornya. Untuk masalah tema, harusnya kita lebih mempertimbangakan makna filosofi yang tepat dan mendidik, serta tempat yang tepat untuk menggksplor tema yang sekiranya dapat memicu fallasi sesorang.#mulenh nag masjid

No comments:

Post a Comment