Prof. Akh. Muzakki Sebut Islam Nusantara itu Seperti Fried Chicken - Araaita.com

Breaking News

Sunday, 2 August 2015

Prof. Akh. Muzakki Sebut Islam Nusantara itu Seperti Fried Chicken


Dalam rangka menyemarakkan Muktamar NU ke-33 di Jombang, Pascasarjana STAINU Jakarta menggelar seminar bertajuk "Mengarusutamakan Konsep & Gerakan Islam Nusantara". Dalam seminar yang digelar di Aula Yayasan Tambakberas, Minggu (2/8), panitia menghadirkan narasumber Menteri Agama H. Lukman Hakim Saifuddin, Katib Syuriyah PBNU KH Afifuddin Muhajir, Direktur Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta, Prof Dr M Ishom Yusqi, dan Prof Dr Akh Muzakki, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya dengan dimoderatori oleh Dr Abdul Moqsith Ghazali, Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta. Dalam penyampainnya Prof Akh Muzakki, mengilustrasikan Islam Nusantara seperti fried chicken (ayam goreng) sebagai komoditas beberapa perusahaan Amerika. "Di Amerika dan Eropa, ayam goreng itu dijual begitu saja, tanpa nasi. Beda dengan di Indonesia, nasi disertakan sebagai pendamping," ujar Sekretaris PWNU Jawa Timur ini.
Menurutnya, penyertaan nasi ini merupakan wujud penyesuaian terhadap budaya orang Indonesia. "Kalau belum makan nasi, kita belum merasa makan. Ya seperti itulah Islam menerima budaya kita sebagai pendamping," lanjutnya
Menyinggung kesalahpahaman sebagian kalangan yang mengira Islam Nusantara hendak melakukan sinkretisasi, Prof Muzakki mengibaratkannya dengan ayam goreng dan nasi pecel atau rawon.
"Meski nasi pecel atau rawon sangat populer di negeri ini, jangan harap fried chicken Amerika menjualnya sebagai pendamping. Karena itu jelas keluar dari khittah atau trademarknya. Demikian juga budaya Nusantara yang dapat merusak esensi Islam tentunya tidak akan digunakan," pungkasnya. 
"Di Amerika dan Eropa, ayam goreng itu dijual begitu saja, tanpa nasi. Beda dengan di Indonesia, nasi disertakan sebagai pendamping," demikian ujar Sekretaris PWNU Jawa Timur ini.
Menurutnya, penyertaan nasi ini merupakan wujud penyesuaian terhadap budaya orang Indonesia.
"Kalau belum makan nasi, kita belum merasa makan. Ya seperti itulah Islam menerima budaya kita sebagai pendamping," lanjutnya.
Menyinggung kesalahpahaman sebagian kalangan yang mengira Islam Nusantara hendak melakukan sinkretisasi, Prof Muzakki mengibaratkannya dengan ayam goreng dan nasi pecel atau rawon.
"Meski nasi pecel atau rawon sangat populer di negeri ini, jangan harap fried chicken Amerika menjualnya sebagai pendamping. Karena itu jelas keluar dari khittah atau trademarknya. Demikian juga budaya Nusantara yang dapat merusak esensi Islam tentunya tidak akan digunakan," pungkasnya.
Menteri Agama H. Lukman Hakim Saifuddin, dalam sambutannya membuka acara ini, menegaskan bahwa Islam Nusantara tidak ingin melakukan de-arabisasi.

"IN tidak anti manapun, termasuk anti-Arab. IN ingin mengambil yang positif dan menanggalkan yang negatif," tegasnya.*(dwm).

No comments:

Post a Comment