Ushuluddin Memperketat OSCAAR, LPM Tidak Boleh Liputan - Araaita.com

Breaking News

Thursday, 27 August 2015

Ushuluddin Memperketat OSCAAR, LPM Tidak Boleh Liputan

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lintas Universitas dan Fakultas Dicurigai Oleh Pelaksana Orientasi Studi Cinta Akademik dan Almamter (OSCAAR) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat; Steering Comitte (SC) dan Organizing Comitte).

Senin, 24 Agustus 2015 jam 07:45 WIB terlihat kerumunan mahasiswa baru Fakulltas Ushuluddin dan Filsafat di depan ruang Auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya (UIN-SA Surabya) untuk mengikuti salah satu kegiatan OSCAAR berupa seminar nasional yang bertemakan “Bedah Mahasiswa: Menggugat Peran Insan Akademisi.”
            Sangat disesalkan seminar tersebut tidak bisa diliput oleh teman-teman pers UIN-SA seperti LPM Ara-Aita dan Jurnal KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), LPM Alam-Tara Fakultas Psikologi dan Kesehatan (Psi-Kes), dan LPM Solidaritas UIN-SA.
            Ahmad Annur salah satu jurnalis LPM Ara-Aita sempat mempertanyakan dan mengajukan keberatannya kepada salah satu SC di depan Auditorium UIN-SA. Ia menegaskan bahwa dirinya mempunyai hak dan otoritas penuh untuk meliput segala kegiatan yang ada di lingkungan UIN termasuk OSCAAR karena dirinya merupakan  salah satu anggota dari LPM yang berada di bawah naungan FDK UIN-SA. “Saya mempunyai kebebasan untuk mengawal dan mempublikasikan selama kegitan OSCAAR berlangsung,” kata jurnalis dengan ID Card di dadanya.
            Senada dengan Ahmad, Leni Laraswati penggagas atau pendiri LPM Alam-Tara Psi-Kes datang ke Auditorium atas nama LPM Ara-Aita untuk bernegosiasi dengan salah satu panitia agar LPM Ara-Aita diperbolehkan mengawal jalannya OSCAAR selama berlangsung. Namun, sayang beribu sayang, ia pulang dengan tangan hampa. Ia tidak berhasil membujuk panita. Ia sangat terkejut dan hampir tidak percaya ketika menerima persyaratan agar media boleh masuk ke Ushuluddin, LPM harus membawa Surat Pengantar Liputan. “Ya sudahlah, kita buat saja Surat Pengantar Liputan supaya teman-teman bisa liputan di Ushuluddin,” ujarnya.
            Pada waktu yang bersamaan wartawan meminta penjelasan langsung terkait dengan tidak diperkenankannya seluruh LPM untuk mengikuti jalannya OSCAAR di Ushuluddin ke DEMA Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. DEMA-F tersebut tidak bisa memberikan penjelasan langsung ke wartawan, ia diwakili oleh Hariri salah satu jurnalis senior LPM Forum Mahasiswa (FORMA) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat dan menjabat salah SC di kepanitian. Ia mengatakan bahwa pihaknya tidak hendak mempersempit gerak-gerik media untuk mencari informasi tentang pelaksanaan OSCAAR di Ushuluddin tapi ada beberapa hal yang memang tidak boleh diketahui oleh publik atau bersifat privacy dan pihaknya juga belajar atau mengambil khikmah dari pelaksanaan OSCAAR tahun 2014. “Kami bukan hendak mempersulit teman-teman wartawan tapi kami hanya minta Surat Pengantar Liputan sebagai langkah antisipasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya.
            Klarifikasi tersebut ternyata mendapatkan respon yang sangat sensitive dari wartawan, saah satu contohnya adalah LPM Ara-Aita yang langsung membuatkan Surat Pengantar Liputan untuk Crew-nya yang bernama Afifi, mendapat tugas untuk liputan di Ushuludin. Ia mengakui bahwa dirinya baru bisa ngeliput setelah dhuhur kira-kira jam 14:25 WIB. Itupun masih diawasi dengan ketat oleh SC dan OC dan dengan persyaratan-persyaratan tertentu. “Saya ngeliput di Ushuluddin setelah selesai melaksanakan shalat dhuhur.  Walaupun demikian, saya tidak boleh ngeliput ketika bedah tema berlangsung,” terangnya.
            Di sini saya juga menemukan beberapa kejanggalan dan penuh dengan tanda Tanya besar karena beberapa OC yang saya temui tidak mengetahui tema OSCAAR tahun ini, tidak ada baner tentang tema sebagai informasi kepada mahasiswa baru, dan tidak boleh foto dari depan peserta OSCAAR dengan dalih takut mengganggu protokoler yang sedang bertugas, padahal di sana juga ada photographer dari kepanitian sendiri. Mengapa ada aturan yang demikian,? imbuhnya.


Moh Afifi A. Jami’

No comments:

Post a Comment