Buah Mangga Membuka Keterharuan - Araaita.com

Breaking News

Monday, 21 September 2015

Buah Mangga Membuka Keterharuan


Di saat aku ingin memakan sebuah mangga. Aku bagaikan seorang ibu hamil yang lagi ngidam. Kemudian aku naik ke pohon mangga yang berada di depan kantor. Ketika hendak meraihnya, batang pohon yang menjadi pijakanku tak kuat untuk menahan berat badanku ini dan tak bisa di hindari aku pun terjatuh. Bukan mangga yang aku dapat, melainkan rasa sakit yang aku derita. Aku berusaha bangkit lagi demi keinginan yang tak kudapatkan. Ketika saat mulai bangkit, aku terjatuh lagi, kakiku tak kuat menahan tumpuan berat badanku. Tak lama terjatuh ternyata aku sudah ada dalam ruangan yang sudah tak asing lagi.
Terbangun badanku terasa sakit sampai ke tulang keringku, tak lama kemudian aku berusaha melihat sekitar ruangan itu ternyata sudah ada orang yang sudah menunggu di depan mataku. Orang itu adalah dicky temen sekantor yang akrab denganku.
Dicky memang selalu bersamaku selama aku bergabung di kantor yang penuh dengan warna hijau itu. Kemudian, aku putuskan untuk keluar dari kantor itu untuk berobat yang di temani dicky. Tak lama kemudian taxi yang bernopol L 3309 ML datang yang sudah di pesan oleh dicky untuk membawaku ke sangka putung katanya orang-orang pengobatan kilat nggak pakek lama.
“Kenapa itu ?,” tanya seorang lelaki paruh baya.
“Habis jatuh dari pohon pak,” jawabku, langsung duduk di lantai tanpa disuruh oleh lelaki tersebut, karena kakiku sudah tak kuat lagi untuk berdiri.
“Udah dibawah ke dokter dulu nak ?,” tanyanya sembari melihat kaki kiriku.
“Belum pak, ini saya langsung kemari sehabis jatuh,” jawabku sambil mengerang kesakitan karena kakiku mulai di raba. Orang melihat dan meraba seperti halnya uang palsu yang harus di periksa dan di teliti untungnya tidak sampe di terawang.
“Oalah, saya tidak berani nak. Karena kayaknya, tulangnya ini melingsih. Kamu bawa ke rumah sakit dulu aja,” ucap lelaki yang biasanya disapa pak Warjo.
Aku lantas mengikuti saran pak Warjo tersebut. Dengan bantuan supir taxi, aku pun dibantunya kembali masuk ke dalam mobil. aku meminta kepada supir taxi untuk mengantarku menuju rumah sakit Darul As-Syifa’ yang dekat rumahku. handphoneku berdering, ku lihat nama itu aba yang tak lain adalah bos di kantorku.
“Kamu berada dimana sekarang mad, katanya kamu habis jatuh ?,” tanya bosku dengan nada panik.
“Iya ba, ini perjalanan menuju rumah sakit,” jawabku singkat.
“Di rumah sakit mana ?, nanti aku ke sana,” ucapnya.
“Di rumah sakit dekat rumahku ba, di rumah sakit Darul As-Syifa’,” jawabku.
“Kita smsan aja,” ujarnya singkat, yang kemudian mematikan teleponnya.
Akhirnya, menempuh 30 menit sampai juga di rumah sakit. Dan ternyata bosku dan dua temanku sudah menunggu di depan gerbang rumah sakit. Dengan sigap Aku membayar dan menambahi ongkos taxi tanpa sepengetahuan bosku. Karena firasatku, ongkos taxi bakal dibayari.
Kemudian aku di gotong oleh aba dan petugas rumah sakit dengan kereta dorong yang memang sudah dipersiapkan. Lalu aku dibawa menuju ruang operasi. Sambil memegangi tulang kering, aku meringis kesakitan dan di bantu oleh dokter profesional, bahkan aku kenal dengan salah satu dokter yang menanganiku, yang tak lain anak buah bosku.
Ketika aku terbangun selesai dari operasi, di dekatku sudah ada orang tua serta istriku. Aku kaget saat melihat kaki kiriku sudah di gibs. Dan betapa terharunya mereka saat menemaniku di rumah sakit. Bukan hanya karena musibah yang menimpaku, melainkan orang-orang yang menjengukku. Karena tak hanya saudara serta tetanggaku, bahkan orang-orang yang terpampang di media massa juga ada di ruangan itu.
“Yang jenguk kok istimewa mad ?,” tanya ibuku yang duduk tepat di samping kepalaku.
“Iya nggak tahu bu,” jawabku serak.
“Kerjaanmu sopir, tapi yang jenguk orang-orang sibuk,” ujar ibuku dengan raut muka penuh kebingungan.
“Jangan diajak ngomong terlalu banyak Ahmad itu. Dia kan baru sadar,” ucap ayahku yang berdiri di samping istriku.
Tak lama kemudian, dokter Heri masuk dan menyuntikan cairan di kantong infuse. Dia juga di dampingi oleh seorang suster. Mereka saling bercakap-cakap yang sedikit aku pahami, karena yang dibicirakan mengenenahi kedokteran. Meskipun profesiku bukanlah dokter, saya juga sering berbincang-bincang mengenahi cara mengobati orang yang mengalami patah tulang.
“Oh iya bu, gimana kejadiannya pak Ahmad kok bisa seperti ini ?,” tanya dokter Heri kepada ibuku.
“Saya nggak tahu dok. Tiba-tiba saya dikabari istrinya Ahmad, kalau sekarang suaminya masuk rumah sakit,” jawab ibuku spontan.
“Tadi itu ketika saya habis sholat dhuhur ditelepon oleh teman suamiku, katanya pak Ahmad masuk rumah sakit sini. Kemudian saya langsung mengabari ibu sama ayah (mertua). Kami pun langsung ke sini untuk memastikan, soalnya handphonenya juga nggak aktif,” ujar istriku dengan terbata-bata.
“Hmmm. Pak Ahmad ini rekan kerja saya bu, makanya saya tahu beliau. Oh iya, jangan terlalu sering diajak bicara dulu pak Ahmadnya,” ujar dokter sembari meninggalkan ruangan yang diikuti suster tersebut.
“Iya dok, terima kasih,” jawab ibu dan ayahku bergantian.
Hari-hari pun terasa begitu lama ketika badanku terbaring di ruang ini. Meskipun banyak rekan kerja bergantian yang menjengukku, aku merasa penat berada di sini. Bahkan aku merasa malu ketika orang-orang tersebut datang menjengukku, karena aku tak mau melibatkan urusanku dengan keluargaku. Namun, bukan aku yang menceritakan tetapi mereka tahu dengan sendirinya.
Selang beberapa hari aku diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Aku merasa senang, karena aku bisa menghirup oksigen tanpa alat bantu. Istriku meremasi barang-barang yang yang dibawa selama menemaniku berada di rumah sakit.
Melihat luasnya bumi ini aku merasa bebas, karena selama di rumah sakit aku melihat kebosanan, bau obat-abatan, dan masih banyak lain. Mungkin itulah yang menyebabkanku untuk segera keluar dari rumah sakit. Mungkin orang yang masih berada di rumah sakit berpikiran sama denganku. Namun sejenak aku berpikir, kalau di luar ternyata lebih sepit dibandingkan ruangan seperti di rumah sakit itu. Aku akan dihadapkan pada ruangan kecil nan panas yang diperebutkan oleh orang-orang banyak.*(hnafi)

1 comment:

  1. Saya tertarik dalam artikel Anda pada konsep pembelajaran.
    Saya juga memiliki artikel yang sama tentang proses pembelajaran yang dapat Anda kunjungi di http://ebook.gunadarma.ac.id/psikologi/140/22%20Quroyzhin_PsikologiKognitif.pdf.html

    ReplyDelete