Dahlan Iskan, Pejuang Kehidupan Sejati - Araaita.com

Breaking News

Monday, 21 September 2015

Dahlan Iskan, Pejuang Kehidupan Sejati



Judul Buku         : Sepatu Dahlan
Pengarang         : Khrisna Pabichara
Penerbit           : Noura Books (Mizan Publika),  Jakarta Selatan
Kategori           : True Story (non fiksi)
Resentasi         : Maulana Syarifudin
   
Khrisna Pabichara seorang sastrawan indonesia dengan karya-karyanya menghadirkan subuah novel yang  menekankan tentang  sebuah perjuangan hidup melawan kemiskinan  seorang tokoh indonesia dalam menggapai cita-citanya. Sebuah kisah nyata Dahlan Iskan, yang hidup di tengah masa yang sedang mencekam tahun 1948-1964. Sebuah potret Laskar Merah dan Front Demokrasi Rakyat, yang memberi coretan hitam di masanya. Peristiwa penting tentang sejarah  penculikan, penyiksaan, ataupun tentang pembantaian masal terhadap simpatisan  PKI  yang sangatlah mistis diceritakan dalam novel ini secara gamblang. Sumur-Sumur tua di Soco, Cigrok, menjadi tempat pembuangan bangkai korban pembantaian.
Ditengah kesibukannya menjabat seorang menteri BUMN, Dahlan Iskan mampu menciptakan sebuah karya dengan wujud  novel yang ditulis oleh seorang Khrisna Pabhicara yang sangat menakjubkan yang dapat menguras emosi pembaca. Kebon dalem adalah tanah kelahiran Dahlan Iskan, sebuah kampung kecil dengan enam buah rumah, yang letaknya sangat berjauhan. Tanah yang gembur dan subur,  padi dan palawija yang tumbuh dengan baik,  pisang,  ketela, atau umbi-umbian yang selalu berbuah dengan baik pula, namun tanah surga tersebut tak membuat warga Kebon Dalem kaya akan harta. Ladang-ladangnya sudah menjadi milik tuan tanah ataupun pemerintah.
Nguli nyeset, ngangon  dan  membatik, merupakan lahan bagi orang-orang Kebon Dalem dalam memenuhi kebutuhannya, termasuk tokoh bernama Dahlan Iskan, yang mempunyai mimpi besarnya yakni ingin mempunyai sepatu dan sepeda. Ia bekerja sekuat tenaga, selepas shubuh, tugasnya adalah nyabit rumput. Nguli nyeset, nguli nandur  ia kerjakan, demi sebuah impian “Sepatu dan Sepeda.”
Namun, upah yang ia kumpulkan dengan kerja keras dan keringat bercucuran  harus ia relakan demi sesuap tiwul. Ya, untuk sesuap tiwul. Hingga punahlah harapan untuk memunyai sepatu. Bahkan, ia tak berharap banyak kepada Ibu dan bapaknya  membelikan sepatu untuknya. Kemiskinan telah mengajarinya bahwa banyak yang lebih penting dan harus dibeli dibandingkan dengan sepatu. Tatkala lapar mulai datang, ada jurus jitu yang dia lakukan, yaitu dengan melilitkan sarungnya ke perut dengan sekuat-kuatnya. Kemiskinan tak membuatnya harus berputus asa, dan tak juga membuat kehilangan keriangannya di masa kanak-kanak nya. Persahabatan dan rasa kekeluargaan sesama teman-temannya membuatnya menjadi bangkit dan terus menegarkan hati, supaya menjadi patriot sejati.

Perjalanan sejauh enam kilometer tiap pagi, tak membuat dia menghentikan langkah-slangkahnya. Walaupun matahari tepat di ubun-ubun, panas membara, perut keroncongan, dan kaki yang terbakar, serta lecet-lecet karena berjalan kaki sepanjang enam kilometer tanpa alas kaki, tak membuat Dahlan mengeluh dan bermalas-malasan. Kehilangan mengajarkan ia banyak hal tentang arti kasih sayang, indahnya kebersamaan, bertanggung jawab karena perbuatan yang seharusnya tak ia lakukan. Serta memberi jawaban dengan bijak pada kekasih yang menjadi tambatan hatinya, Aisha. Dahlan terus mengejar dua cita-cita besarnya: “Sepatu dan Sepeda”.

Khrisna Pabichara, sebagai pengarang yang berpengalaman, seorang sastrawan serius dengan karya-karyanya yang sangat bermutu mampu menjadikan pembaca menjadi candu, dan mengurai air mata. Dia mampu membangkitkan semangat setiap orang dengan menuliskan pesan moral dalam tulisannya. Dan terlepas dari kekurangan yang ada, hadirnya novel “Sepatu Dahlan” menambah peredaran karya sastra lebih khususnya tematik novel di Indonesia. Sangatlah sayang, andai kata kita tidak membaca novel ini, karena novel ini sangat inspiratif dan memunyai nilai sejarah, serta mengajarkan bagi kita untuk menghadapi sebuah tantangan hidup dengan semangat tanpa mengenal putus asa, menghadapi setiap cobaan dengan ikhlas karena Allah SWT.

No comments:

Post a Comment