Media (bukan) Bayang Semu - Araaita.com

Breaking News

Saturday, 26 September 2015

Media (bukan) Bayang Semu




Perkembangan media dalam beberapa dekade terakhir berkembang begitu pesat, perkembangan itu adalah ibarat angin segar bagi khalayak umum, karena mereka akan semakin mudah tentunya untuk mendapatkan informasi, namun kemudahan masyarakat untuk mendapatkan informasi dari semakin banyaknya jenis media justru terkadang membuat masyarakat itu sendiri dilema. Karena informasi yang diberikan media sering kali tidak berimbang, atau bahkan bertolak belakang, antara media satu dengan media yang satunya. Meskipun memang, masyarakat  harus menjadi khalayak yang cerdas, yang mampu memfilter sendiri segala bentuk informasi yang memang tidak baik bagi dirinya.
Namun nyatanya tidak semua masyarakat adalah khalayak  yang cerdas, yang mampu memfilter sendiri berbagai informasi atau tayangan yang ia dapatkan. Ibaratnya jika kita semakin banyak membaca buku, maka efek sampingnya  akan semakin pintar pula kita, karena jumlah wawasan serta pengetahuan kita bertambah. Namun dalam konteks ini, semakin banyak masyarakat dicekoki berbagai informasi dari berbagai media, maka akan semakin dilematis masyarakat dibuatnya. Mereka akan kebinggungan menilai mana yang baik dan mana yang buruk, karena kebaikan dan keburukan telah bercampur dalam wadah kepentingan.
Dalam prinsip media yang mengedepankan independensi, aktual, serta keberimbangan suatu fakta terkadang memang kerap tercoreng oleh para pelaku media itu sendiri. Jika kebebasan pers yang menjadi landasan, lalu bukankah suatu jenis kebebasan tetap terikat dalam sebuah norma dan etika. Tapi mengapa praktik-praktik yang sejatinya sangat tidak selaras dengan insan pers itu, masih begitu tumbuh subur dalam berbagai jenis media di Indonesia. Dalam sudut pandang yang berbeda, insan pers sejatinya tetaplah sebuah profesi suci, insan yang bekerja untuk kebaikan, berkontribusi pada perubahan, serta menyampaikan kebenaran. Namun terlepas dari itu,  semua praktik tersebut masih tumbuh subur karena si pemilik media lah yang memang telah ditunggangi berbagai kepentingan, bisnis, politis, maupun kekuasaan. Sehingga ideologi media sarat akan kepentingan si empunya media.  
Lalu jika kita bertanya tentang fungsi media? Maka fungsi media adalah, to inform, to education, to entertaint dan sebagai control social. Maka jika suatu media berpihak kepada suatu golongan atau kelompok, apakah media tersebut masih pantas disebut telah menjalankan fungsi media dengan baik. Namun kita mencoba realistis pada realita, sebuah fenomena yang terjadi pada media di negeri ini, media seolah menjadi senjata yang paling mukhtahir untuk menghajar setiap musuh. Menjustifikasi suatu kelompok, menaikkan popularitas seseorang, juga membentuk opini masyarakat. Bahkan media sendiri adalah seolah sebagai kebenaran kedua setelah kebenaran Tuhan yang diyakini masyarakat. Karena hampir sebagian besar masyarakat akan begitu mudah untuk terkonstruksi dalam sisi asumsi yang sengaja dikonstruksi oleh media.
Media dan Kekuasaan
Menelisik lebih jauh tentang dibalik konstruksi media terhadap masyarakat adalah tidak mungkin lepas dari adanya konglomerasi media. Konglomerasi media menimbulkan adanya jaringan media yang sama dalam basis ideologi serta kepentingan yang sama pula. Mencoba meruntut kembali pada potret pemilihan presiden tahun 2014 lalu. Terdapat dua pasang capres dan cawapres dalam ring perebutan tambuk singgasana kekuasaan tertinggi di suatu negeri, dengan basis koalisi dari masing-masing penggiat dengan berbagai macam latar belakang  yang bebeda dalam balutan pesta demokrasi.
Prabowo-Hatta dengan koalisi partai politik, Gerindra, PKS, PBB, PAN, PPP, dan Golkar, didukung pengusaha,Hary Tanoe dan  Aburizal Bakrie. Dengan dukungan berbagai media, (TV One, ANTV, Viva News) serta MNC Group, sedangkan dari Jokowi-JK dengan koalisi partai PKB, Hanura, PDIP Nasdem, didukung pengusaha Surya Paloh, dengan dukungan media, Metro TV, Media Indonesia, SCTV. Kemudian dalam pertarungannya, dimenangkan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) milik Jokowi-JK dengan sokongan berbagai koalisinya. Dalam hal ini koalisi KIH dengan berbagai medianya telah berhasil mendongkrak seorang Gubernur menjadi Presiden, semua itu  karena media sebagai aktor utamanya meletakkan Jokowi-JK pada setiap pemberitaan dan pariwara.
Dari keberhasilan KIH yang paling mentereng adalah Surya Paloh. Pimpinan partai Nasdem, juga seorang pebisnis dan politikus. Surya Paloh sendiri  tumbuh dan besar dalam naungan  keluarga penguasa orde baru. Tumbuh dalam koneksi lingkarang Bambang Trihatmojo, anak ketiga Soeharto. Mereka aktif di Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia atau FKKPI dan Golongan Karya, yang secara politik sangat berpengaruh pada zaman orde baru. Setelah rezim otoriter itu tumbang, ia tak tinggal diam sembari berinvestasi dan tetap menjaga lobi dengan pemerintah baru serta memperkokoh niaganya  melalui pembelian asset-aset murah dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Surya Paloh memang sengaja berkoalisi tanpa syarat dengan Jokowi –JK. Sehingga Nasdem tidak terang-terangan meminta jatah posisi di kabinet. Seolah-olah hanya bekerja keras, lebih keras daripada PDI Perjuangan untuk mendongkrak suara serta ketenaran melalui berbagai media dalam afiliasinya .
Langkah bisnis Surya justru lebih cepat, sebelum Jokowi resmi memerintah, ia langsung membawa kolega lamanya, Sam Pa alias Ghui Ka Leung. Bersama pembisnis dari Cina itu ia membicarakan peluang impor minyak dari perusahaan Angola,  Sonangol. Berkali-kali bertemu dengan Jokowi dirumah dinas Gubernur DKI, mereka juga membicarakan peluang investasi di bidang lain, termasuk infrastruktur. Tawaran Surya dan Sam Pa dalam impor minyak cukup mengena, seperti yang dilansir Tempo 30 November 2014,  dua hari setelah melantik kabinetnya, Jokowi di Istana Kepresidenan, menerima Wakil Presiden Angola Manuel Domingos Vicente, yang sekaligus Chief Executive Officer Sonangol.
Media , Pengusaha, dan Penguasa
Di dalam praktik-praktik yang sedemikian rupa, media memang adalah sebagai corong utama dalam mengonstruksi opini masyarakat. Sedangkan penguasa sendiri butuh media untuk mencitrakan kebaikan dari sebuah pemerintahan agar masyarakat menaruh loyalitas dan kepercayaan  kepada penguasa. Lalu pengusaha butuh penguasa, untuk melegalkan serta memberikan kebijakan yang sesuai dengan kepentingan dalam berbisnisnya. Memang ketiganya jika bersatu dalam koalisi pasti sarat akan muatan kepentingan pada masing –masing golongan. Sehingga Ketiganya memang harus berjlan sendiri. meskipun pada nantinya, jika bersinergi maka dengan cara yang baik dan sehat tentunya, tanpa ditunggangi suatu  kepentingan dari masing-masing golongan.

*Maulana Syarifudin, Penulis adalah                 
  Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas        
           Dakwah dan Komunikasi UINSA,
maulana.ozora@yahoo.com 

No comments:

Post a Comment